Sabtu, 25 November 2017

Muslimah Ngeblog, Perhatikan 3 Hal ini.



Dulu saat awal-awal ngeblog tahun 2009, aku ingin mengabadikan perjalan hidup lewat blog. Semacam nulis diary yang bisa dibaca siapa saja dan nggak mungkin hilang karena keselip di tumpukkan buku-buku lainnya. Rasanya ada rasa bangga bisa nulis di blog pribadi. Pada tahun itu, aku juga mulai bersinggungan dengan dunia maya, dengan memilikki akun facebook.  Aku merasa bebas nulis apa saja, kadang juga nggak cuma curhatan saja tapi keluhan dan omelan nggak jelas terpampang disana. Duh, jadi malu sendiri saat mengingatnya. Saat itu aku berpikir, bebas dan merdeka mau nulis apa saja, lha wong di akun dan blog milik sendiri. Ternyata itu pemikiran yang keliru, menurutku sekarang.

Manusia yang beruntung adalah manusia yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, sedangkan manusia yang merugi bila hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Bercermin dari nasihat ini, aku ingin terus memperbaikki diri dari waktu ke waktu. Selain meningkatkan kuantitas tulisan di blog aku juga ingin meningkatkan kualitas tulisanku. Hal ini dapat terasah dengan beberapa kali mengikuti program one day one posting, lomba blog atau diminta mempromosikan sebuah produk. Menjadi penulis bukanlah suatu bakat namun sebuah proses. Kualitas tulisan akan meningkat jika semakin giat menulis dan banyak membaca sebagai bahan referensi tulisan.

Sebagai blogger, konsisten menulis agar blog tidak menjadi sarang laba-laba itu penting. Namun jauh lebih penting ketika menyandang sebagai sebagai seorang blogger muslimah. Sebagai umat Islam, tentu saja aku bangga menunjukkan identitas sebagai seorang muslim. Nah, ketika muslimah sudah memutuskan untuk “nyemplung” ke dunia maya dan sebagai blogger, maka ini 3 hal yang menurutku penting banget untuk diperhatikan.

Pertama, tulislah ilmu agama yang dimilikki walaupun masih sedikit. Kita menulis di blog sama saja dengan menyampaikannya untuk orang lain. Hal ini seperti yang disampaikan dalam HR. Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda “sampaikanlah walau satu ayat”. Sungguh sayang kan, jika sebagai seorang muslim memiliki ilmu tapi hanya dipendam sendiri. Tulis saja di blog agar dibaca dan dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kita mengerti ilmu parenting dalam Islam, maka tulislah. Bukan berarti sudah menjadi orang tua yang baik dan benar dan anak-anak kita pasti anak-anak penurut disegala kondisi, aktif dan cerdas. Namun menyampaikan hal yang diketahui dapat menjadikan nilai ibadah.

Kedua, sampaikanlah kebenaran. Sekarang ini banyak media terutama media online yang banyak menulis berita bohong. Bukan hanya bicara masalah politik tentang propaganda ataupun berita yang sudah dimanipulasi, namun benar adanya banyak hoax yang bertebaran di dunia maya. Sebagai seorang blogger muslimah, aku dan juga teman-teman yang lain diharapkan menulis hal-hal yang jujur dan yang dipastikannya kebenarannya.

Ketiga, tulislah dengan hanya mengaharapkan ridho Illahi. Dengan demikian , kita akan dapat menulis dengan hati bersih sehingga apa yang akan disampaikan lewat tulisan mempunyai nilai dakwah. Bukankan suatu kebanggaan tersendiri dan sebuah kebahagiaan jika apa yang blogger muslimah lakukan bernilai ibadah yang dapat membawa perubahan. Pembaca menjadi memiliki akhlak baik bahkan menjadi peradaban yang lebih baik.
Aamiin.

Semoga bermanfaat.
#PostinganTematik
#BloggerMuslimahIndonesia

Tulisan ini diikutsertakan dalam program Tematik Blogger Muslimah Indonesia November 2017

Minggu, 05 November 2017

Berdiri Di Atas Kaki Sendiri



Bagaimana rasanya kehilangan pasangan hidup, orang yang selama ini kita cintai. Bagiku rasanya dunia seperti kiamat. Remuk raga dan pudar semua impian. Gelap. Ini aku rasanya selama beberapa minggu setelah berpulangnya suami ke pangkuan Illahi. Beberapa orang mengatakan, mereka seperti seekor burung yang kehilangan sebelah sayap. Tak akan bisa lagi terbang tinggi menggapai asa dan cita-cita.

Aku pernah limbung beberapa saat, setelah suami meninggal. Aku tak pernah menyangka akan secepat ini, beliau meninggalkan kami selama-lamanya. Anak-anak masih terlalu kecil. Anak pertamaku saat ayahnya meninggal berumur 8 tahun, anak kedua 5 tahun dan putri kecil kesayangan kami berumur 1,5 tahun. Selama ini aku juga menggantungkan perekonomian keluarga hanya pada suami saja. Lalu bagaimana nanti aku bisa menghidupi mereka?. Bagaimana aku bisa merawat dan mendidik putra dan putriku tanpa seorang ayah?. Bagaimana aku menghadapi semua masalah sendirian?.  Semua pertanyaan ini tak jua aku temukan jawabannya.

Hampir dua tahun sudah, aku mempunyai status sebagai seorang single mom. Aku yang limbung dan hampir putus asa harus bangkit dan segera berdiri. Aku harus kuat dan tegar demi tiga buah hati yang diamanahkan kepadaku. Aku harus berdiri diatas kaki sendiri, untuk terus melangkah menuju masa depan.

Jalan anak-anakku meraih cita-cita masih panjang. Mereka tak boleh putus asa walaupun harus terus berdiri di atas kaki sendiri. Tak ada lagi sosok hangat ayah yang akan menggendong dan mengangkat mereka jika suatu saat mereka berdiri. Kau boleh saja merasa lelah, tapi tak boleh menyerah. Karena walaupun aku dan anak-anak sama-sama berdiri di atas kaki sendiri, sejatinya tak pernah sendiri. Allah, Yang Maha Baik bersama kami. Aamiin



Senin, 30 Oktober 2017

Sudah Nulis Buku, Lalu Apa?



Pertama-tama yang aku rasakan ketika buku antalogi keduaku rampung dan diterbitkan adalah penuh rasa syukur, haru dan bangga atas pencapaian prestasi ini. Walaupun buku antalogi ada buku yang ditulis oleh beberapa penulis sekaligus dalam satu buku ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa selesai dan menjadi sebuah karya. Para penulis pastinya mempunyai kesibukkan sendiri-sendiri yang terkadang bagi kami sulit untuk mengkoordinasikan waktu dan jadwal diskusi mengenai isi dan tulisan kami. Namun karena kami semua mempunyai target yang sama, maka semua diharapkan untuk dapat bekerjasama dan menyelesaikan buku ini.

Aku jadi teringat dengan pengalaman menulis buku solo perdanaku pada tahun 2014 yang lalu. Jika menulis buku sendiri, tentunya hanya perlu koordinasi dengan banyak orang. Aku hanya butuh mendisiplinkan diri untuk menulis dan menyelesaikan bukuku. Aku harus kejar target untuk menyerahkan naskah sebelum deadline yang ditetapkan oleh penerbit. Saat itu aku harus bekerja keras, terkadang mengetik naskah sampai jam 3 pagi. Setelah naskah diterima oleh tim redaksi, aku juga masih harus merivisi naskahku. Memang butuh perjuangan untuk menulis dan menghasilkan buku. Namun semua lelah itu akan terbayar lunas setelah buku terbit. Bangga!.

Setelah buku terbit, apakah sebagai penulis, tugas kita telah selesai. Tentu tidak!. Penulis juga masih punya tugas untuk mempromosikan bukunya. Jika tidak dipromosikan, maka siapa yang akan tahu kemudian mencari dan membaca buku kita. Bahasa sederhananya penulis juga harus bisa menjual bukunya sendiri. Mempromosikan buku bisa dengan banyak cara yaitu dengan cara terang dan jelas mengatakan “aku jualan buku ini lho, yuk dibeli” atau yang dinamakan dengan hard selling. Cara semacam ini ada beberapa yang masih menerapkannya dan pada beberapa orang sudah mulai ditinggalkan berganti dengan cara promosi yang halus dan tidak terlihat seperti orang yang sedang jualan. 

Cara penjualan yang bagaimana sih yang halus dan tidak terlihat seperti orang jualan, cara seperti ini disebut copy writing atau soft selling. Jika teman-teman mengamati hiruk pikuk di sosial media saat ini, sekarang banyak pelaku bisnis online shop yang saat mempromosikan produknya memakai kata-kata yang lebih menarik dan tidak langsung menawarkan produk, padahal sebenarnya mereka juga jualan produk. Ini ilmu baru yang sangat menarik dan wajib bagi penulis untuk bisa mempraktikannya. Termasuk aku yang ingin belajar lebih lanjut tentang teknik jualan soft selling atau copy writing ini.

Semoga bermanfaat

#odopokt28
#30dwcjilid9
#day20
#squad5

Di Kedai Win Pizza, Semua Bisa Makan Pizza Enak





Buat teman-teman yang suka makan pizza, ada kedai pizza yang bisa dikunjungi kalau pas lagi di Semarang. Namanya Win Pizza yang letaknya di sendangmulyo, kecamatan Tembalang. Walaupun nampak sederhana, win pizza ini laris manis dengan layanan pesanan ojek online. Ini terbukti saat saya antri menunggu pesanan, nampak beberapa kurir juga sedang memesankan untuk pelanggan mereka.

Dengan tagline “ Semua bisa makan pizza enak” sepertinya memang pas karena selain pizzanya yang yummy, harganya juga terjangkau. Harga pizza rata-rata di brandol sekitar 26 ribu saja. Dengan harga 26 ribu, teman-teman sudah bisa mendapatkan supreme pizza dengan taburan daging cincang, sosis sapi, bombay, paprika dan keju. Dengan harga yang sama, juga bisa pesan Indonesian favorite pizza dengan taburan daging cincang, sosis sapi, bombay, jagung dan keju. Ada juga chessy supreme, pizza dengan keju di seputar pinggirannya yang bisa dimakan hanya dengan harga 35.000 saja. Nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam,kan.

Kedai pizza, Win pizza ini buka lebih awal dibanding dengan resto atau kafe yang menyediakan menu sejenis. Buka pada pukul 10 pagi dan tutup pukul 9 malam, dari hari Senin sampai Minggu, membuat Win pizza lebih mudah di dapatkan oleh pelanggan setianya, salah satunya adalah aku.  Jaraknya yang hanya sekitar 1,13 km dan jika mengendarai sepeda motor hanya menempuh waktu kurang lebih 7 menit saja ini menjadi tempat favorit keluarga jika ingin menikmati sensasi menu Italya.

Selain pizza, Kedai Win  pizza juga menyediakan menu camilan atau snack berupa rogout ayam yang di dalamnya berisi ayam, wortel dan sayuran, selain itu juga ada kroket kentang dan rogout sosis keju dengan harga yang ramah di dompet.  Jika ingin menu nasi juga tersedia nasi chicken katsu salad dan nasi eby furai salad dengan harga berkisar 14.000 rupiah. Setelah makan, rasanya kurang lengkap jika tanpa minum. Untuk minuman, teman-teman bisa mencoba  milkshake chocolate atau strawberry atau aneka jus. Semua bisa makan pizza enak, rasanya memang nggak berlebihan jika tagline ini jadi salah satu hal yang menarik hati pelanggan. Yuk, silakan datang dan rasakan lezatnya aneka menu di Kedai Win pizza ya teman-teman.
Semoga bermanfaat

#odopokt28
#30dwcjilid9
#day20
#squad5

Minggu, 29 Oktober 2017

(Resensi Buku) Pejuang Shubuh





Judul buku : Kumpulan Cerita Pejuang Shubuh
Penulis : Aan Wulandari
Editor : Dhita Kurniawan
Cetakkan Pertama : Juli 2016
Cetakkan kedua : Maret 2017
Penerbit : Tiga Ananda Creative imprint of Tiga Serangkai.
Isi Halaman : 72 Halaman

Membangunkan anak untuk melaksanakan shalat Shubuh sepertinya hal yang sangat membutuhkan energi besar, ketelatenan dan rasa tega. Ini aku alamin sendiri, saat membangunkan anak-anak beberapa menit sebelum masuk waktu Shubuh. Terkadang kegiatan ini bisa membutuhkan waktu lama dan juga kesabaran tinggi, Sudah dibangunkan dari lima belas sebelum adzan berkumandang sampai selesai adzan masih juga belum bangun. Kadang karena rasa kasihan, aku biarkan saja sampai bangun sendiri, yang penting masih dalam waktu shalat Shubuh. Hiks...melakukan kebiasaan baik untuk anak-anak memang nggak mudah. Harus tega membangunkannya walaupun masih tidur nyenyak. Lebih kasihan mana, jika nanti saat dewasa, mereka dengan mudah meninggalkan shalat Shubuh. Selain rasa tega,juga butuh konsisten dari orang tuanya. 

Dalam buku ini ada 11 cerita yang akan memberikan semangat bagi anak-anak untuk bisa bangun dan shalat Shubuh tepat waktu. Enggak hanya buat anak-anak saja, buat orang tua juga semakin memotivasi dirinya untuk shalat Shubuh berjamaah di masjid. 11 kumpulan cerita ini masing-masing dengan judul Cahaya Di Kegelapan, Satu Kunci Surga, Gunung Andong, Bete! Bete!, Si Buru-Buru dan Begadang, Sakit, Gemuk. Lalu pada halama 43 terdapat cerita dengan Judul Dafina dan Aidah, dilanjutkan seteruskan dengan judul Sakit Tetap Shalat, Salju Kala Shubuh, Durian dan Rezeki Pagi dan di halaman 67 sebagai cerita penutup dengan judul Puding dan Ulangan.

Nama Aan Wulandari tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga teman-teman yang suka membaca buku anak. Penulis yang juga tinggal di Semarang dan teman baikku sudah menerbitkan puluhan judul buku anak yang berkualitas. Termasuk buku ini yang semua kisah di dalamnya di tulis dengan bahasa sederhana khas buku anak namun tetap berbobot. Di bagian akhir setiap cerita, mba Aan, panggilan akrabnya akan memberikan tip dan untaian hadist tentang shalat Shubuh dan kemuliaan yang akan diraihnya. Setiap tip dan hadist yang dicantumkan juga bisa pas banget dengan tema cerita yang diangkat.

Di cerita pertama, saat membaca buku ini, aku sudah sangat suka lho dengan buku ini. Diceritakan seorang anak yang bernama Akif, belum berani tidur sendiri dan masih minta ditemani ayahnya sampai dia tertidur. Selain itu Akif juga takut gelap, jadi saat tidur lampu masih menyala. Lalu selanjutnya saat diajak shalat Shubuh berjamaah di masjid oleh ayah, Akif bertemu dengan sahabatnya yang bernama Najib. Najib yang sebaya dengan Akif ternyata berani datang sendirian ke masjid dalam keadaan masih gelap. Kenapa begitu?. Ternyata Najib menjawab dengan jawaban yang cerdas dan keren lho. “ Orang yang rajin shalat Shubuh berjamaah di masjid akan diberi Allah cahaya yang sempurna saat hari kiamat. Aku jadi pede deh. Kan, aku nggak pernah meninggalkan shalat Shubuh (hal 10). Ternyata jawaban Najib berdasarkan sebuah hadist yang mengatakan ; Buraidah al Aslami r.a. dari nabi Muhammad saw, bersabda : “ Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari Kiamat” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Di cerita dengan judul Si Buru-buru, penulis kembali menuliskan dengan apik seorang anak perempuan yang bernama Jihan yang terbiasa bangun siang dan mengakibatkan dirinya selalu terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu. Ada sebuah tip yang dituliskan oleh Mbak Aan, bahwa bangun Shubuh membuat pikiran menjadi segar. Ada banyak waktu untuk mengerjakan berbagai hal sehingga kita tak perlu buru-buru. Hidup pun jadi lebih bahagia (hal 36). Ada 11 kumpulan cerita jadi ada 11 tip dan banyak hadist yang akan disampaikan di buku ini. Selain itu ilustrasinya menarik banget dan berwarna, anak-anak pasti suka membacanya. Aku merekomendasikan buku ini lho buat teman-teman yang sudah jadi orang tua dan ingin memulai kebiasaan baik untuk anak mereka, bangun saat Shubuh.

#odopokt27
#30dwcjilid9
#day19