Jumat, 06 Februari 2009

Makan dong sayang!

Makan dong, Sayang!
Faktanya, kebanyakan batita bersedia mencoba jenis makanan baru setelah diperkenalkan sekitar 10-15 kali. Anda pun tidak mesti memperkenalkan banyak makanan sekaligus.


Usaha keras Anda menyajikan makanan kaya gizi tiba-tiba seperti lenyap ketika anak batita Anda dengan entengnya menolak makanan yang telah Anda siapkan dengan penuh cinta. Kesal? Tenang, jangan dimasukkan ke hati. Memilih-milih makanan sebetulnya bagian dari perkembangan batita.

Sebagian anak batita mau memakan apa saja. Sebaliknya, cukup banyak pula anak batita yang memilih-milih makanan tanpa alasan yang jelas. Mereka melahap sayur bayam yang Anda hidangkan dengan penuh semangat namun tiga hari kemudian, mereka menolak memakannya. Anda tidak perlu bingung dengan perubahan sikap itu. Seiring dengan pertumbuhannya, batita mulai ingin menunjukkan identitas diri. Mereka ingin menunjukkan kekuasaan menentukan apa yang mereka inginkan, termasuk dalam soal makanan.

Usia dini adalah suatu periode pertumbuhan yang tidak berlangsung secepat satu tahun pertama kehidupan anak. Melewati usia 1 tahun, pertambahan berat badan batita pun menjadi lebih lambat. Selain itu, ukuran perut batita sebenarnya tidak melebihi satu kepal tangan mereka sendiri. Dengan demikian, berbeda dengan orang dewasa, mereka belum membutuhkan banyak kalori.

Menurut ahli gizi keluarga, Dr.Cindiawaty Pudjiadi MARS, MS, SpGK, jka seorang ibu, secara tidak sadar mengarahkan anak untuk memakan jenis makanan tertentu saja, maka si anak mungkin akan menjadi pemilih dalam soal makanan. “Ini bisa terjadi jika orang tua membatasi jenis makanan dan kurang memperkenalkan variasi makanan. Jadi, anak tidak terbiasa mengonsumsi makanan selain yang sering dia makan,” katanya.

Jika si kecil terlihat tidak menyukai sayuran yang Anda hidangkan, ada baiknya Anda introspeksi terhadap pola makan Anda sendiri selama ini. Apakah Anda seorang yang gemar menyantap sayuran atau malah sebaliknya. “Kalau ibunya tidak suka sayur, dia tidak akan memperkenalkan sayur ke anak. Otomatis anak akan mengikuti pola makan ibunya,” Cindiawaty menjelaskan.
Memang dibutuhkan kesabaran ekstra jika Anda ingin si kecil tidak rewel dalam soal makanan. Bukan hanya sabar dalam menghadapi penolakan anak terhadap makanan yang telah Anda olah dengan susah payah, Anda juga harus sabar dalam memperkenalkan makanan yang bervariasi. Faktanya, kebanyakan batita bersedia mencoba jenis makanan baru setelah diperkenalkan sekitar 10-15 kali. Selain itu, Anda pun tidak mesti memperkenalkan banyak makanan sekaligus. Harus satu persatu.
Berpikir kreatif
Anak-anak belum mengetahui manfaat nutrisi dalam makanan terhadap pertumbuhan mereka. Mereka lebih tertarik dengan rasa dan penampilannya. Jadi, percuma saja Anda menyajikan makanan sarat gizi jika penampilannya tidak menarik. Bayangkan, nasi dan daun bayam diblender. Coba hidangkan bubur berwarna hijau tua itu kepada si kecil sambil mengatakan betapa banyak gizi yang ada di bubur itu. Kemungkinan besar anak tidak akan tertarik. Jika Anda sendiri kehilangan minat untuk makan saat melihat hasil kreasi sendiri, apalagi anak. “Bisa jadi acara makan yang seharusnya menyenangkan malah menjadi pengalaman traumatik karena anak harus menyantap makanan yang tampilannya tidak menarik,” kata Cindiawaty, yang berpraktik di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Anda tidak perlu menjadi seorang ahli memasak atau ahli menghias makanan demi menarik perhatian si kecil. Yang Anda butuhkan hanyalah beberapa langkah sederhana serta sedikit kreativitas. Berikut adalah beberapa taktik yang dapat Anda lakukan.

Sayuran artistik. Anda bisa mencoba untuk membuat wajah dari sayuran, misalnya dua iris tomat untuk mata, wortel yang dipotong tipis memanjang untuk hidung, sepotong buncis untuk bibir yang sedang tersenyum, dan potongan daun brokoli untuk rambut.

Smoothie. Saat ingin mengenalkan buah-buahan kepada si kecil, Anda tidak perlu selalu berpaku pada bentuk buah yang padat. Anda bisa membuat smoothie, misalnya dengan memblender susu dan stroberi.

Potongan yang menarik. Percantik tampilan buah-buahan dengan menggunakan cetakan kue aneka bentuk daripada hanya memotongnya menjadi bentuk balok persegi empat dengan menggunakan pisau. Sangat mungkin anak akan tertarik menyantap buah karena melihat pepaya berbentuk bintang atau melon berbentuk hati tertata manis di atas piring.

Bermain warna. Gunakan piring ceper untuk menyajikan apel, pisang, brokoli, wortel, buncis dan keju yang Anda potong dalam beragam bentuk. Jangan lupa untuk menamai potongan-potongan makanan tersebut sebelum meminta si kecil untuk memilih potongan yang akan disantap. Misalnya, “apel bulan” untuk menyebut apel yang dipotong bulat tipis, “pedang keju” untuk menyebut keju yang dipotong memanjang, “pohon brokoli” untuk menyebut potongan daun brokoli, dan lain sebagainya. Kemudian katakan, “Ayo, Ade mau makan yang mana? Apel bulan, pedang keju, atau pohon brokoli?”

Bersandiwara. Tidak sekadar menyajikan makanan dengan bentuk yang menarik perhatian, ada kalanya Anda juga perlu menyelipkan permainan kecil sehingga anak tidak merasa dipaksa untuk makan. Anda bisa berkata, “Ade, ini ada pesawat mau mendarat. Ayo buka mulutnya.” Cara inilah yang digunakan Lusi, 30 tahun, saat menyuapi Dicky, putranya yang berusia tiga tahun. “Saat menyuapi Dicky, saya sering menyebutkan nama tokoh-tokoh kartun kesayangannya, misalnya dari kartun Tom&Jerry, ‘Jerry sedang dikejar-kejar Tom. Ayo Dicky cepat buka mulutnya agar Jerry selamat.’ Dengan cara ini, anak saya bersemangat makan,” tutur ibu yang tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta itu.
JANGAN LAKUKAN INI!

Berlebihan dalam memberi susu. Memasuki usia dua tahun, anak sudah bisa disapih dari ASI dan diperkenalkan pada makanan padat. Di periode ini, Anda sudah tidak perlu lagi memberikan susu secara intensif seperti dulu. Jika dibiasakan menenggak susu terlalu banyak, otomatis perut anak sudah penuh terisi susu sehingga mereka malas untuk makan karena sudah merasa kenyang. Cukup berikan susu dua kali sehari supaya masih ada ruang kosong dalam perut si kecil untuk menampung makanan padat.

Memaksa. Pada masa usia ini si kecil juga mulai ingin menunjukkan jati dirinya kepada Anda. Karena itu, jangan heran seandainya batita Anda bersikap manipulatif, termasuk dalam memilih makanan yang akan masuk ke dalam mulutnya. Anda tak perlu marah. Memaksa anak memakan makanan yang tak diinginkan malah akan menggiring Anda berdua dalam pertengkaran yang tak perlu.

Selain itu, Anda harus ingat bahwa ukuran perut anak batita tergolong kecil. Seandainya mereka sudah cukup makan di pagi dan siang hari, bisa jadi mereka masih merasa kenyang di malam hari. Jadi, jika anak menolak untuk menyantap makanan yang telah Anda hidangkan, Anda tidak perlu memaksanya. Anda perlu bersabar saat berusaha mengenalkan makanan baru kepadanya.

Menyogok. Banyak orang tua yang mengkhawatirkan anaknya kekurangan asupan gizi akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas: menyogok. Anda menjanjikan akan membelikan es krim atau biskuit kesukaannya bila si kecil melakukan yang Anda inginkan. Cara ini yang biasanya cukup ampuh namun akan berdampak buruk. Anak hanya akan mau melakukan permintaan Anda jika dijanjikan hadiah.

Menyediakan camilan. Anda harus membatasi jumlah camilan yang ada di rumah, misalnya permen, es krim, biskuit, dan lain sebagainya. Anda tidak perlu selalu menyediakan camilan agar anak tidak terbiasa untuk mengonsumsi camilan. Terbiasa mengemil bisa membuatnya menyepelekan makan besar. Belilah camilan ini dalam jumlah kecil di waktu-waktu tertentu saja. Dan sebagai gantinya, siapkan buah sebagai camilan sehat di sore hari.

Beralih ke makanan padat

Beralih ke Makanan Padat
Begitu si kecil berusia 4 bulan, Anda mungkin mulai mengurangi ASI atau susu formula. Tapi, ini bukan berarti anak akan langsung bisa makan dengan rapi. Dapur Anda akan penuh dengan aneka makanan bayi, celemek dan perabotan lainnya. Pada jam makan, bukan hanya tumpahan makanan yang berserakan di lantai, mungkin saja sendok plastik akan melayang bagai pesawat terbang. Tidak perlu stres; dengan sedikit kesabaran, Anda maupun si kecil akan cepat bisa mengatasi situasi ini.

Siap, Mantap, Ayo!
Jangan terburu-buru memberi makanan padat selain ASI atau susu formula karena bisa meningkatkan risiko alergi makanan dan obesitas. Sebaiknya, tunggu hingga usia 4-6 bulan untuk mengenalkan makanan padat, saat sistem pencernaannya sudah lebih siap. Tapi, acuannya bukan sekadar usia. Si kecil harus sudah bisa mengangkat kepalanya, bisa duduk tanpa banyak ditopang, dan bisa menahan makanan dengan lidah agar tidak tersedak. Kalau dia penasaran dengan makanan yang Anda santap, berusaha meraih piring Anda, atau menatap Anda saat menyuapkan sendok sup ke mulutnya, itu pertanda dia sudah siap menerima rasa dan tekstur baru dalam menu makanannya.

Mulai dengan Beras
Makanan padat yang pertama sebaiknya sereal beras karena mengandung zat besi, mudah dicerna, dan jarang menimbulkan alergi. Mulailah memberi satu atau dua kali makanan padat dalam sehari. Pilih waktu ketika anak sedang tidak lelah atau ngambek dan Anda pun sedang rileks. Campurkan ASI atau susu formula secukupnya dengan dua sendok teh sereal agar sedikit mencair. Suapkan sedikit demi sedikit dengan sendok yang ujungnya terbuat dari silikon. Siapkan serbet karena dagunya pasti akan berlepotan. Memberi makanan sereal (yang sudah diencerkan) di dalam dot memang lebih mudah, tapi jangan lekas menyerah. “Intinya adalah membiasakan bayi untuk makan dengan cara yang berbeda,” kata W. Allan Walker, MD, Direktur Divisi Nutrisi di Harvard Medical School, Boston. “Meski tampak jorok dan membuat frustasi, ini adalah proses yang harus dilalui.”
Jangan paksa si kecil jika dia menggeleng-gelengkan kepalanya, berpaling, atau menolak untuk membuka mulut setelah satu suap makanan. Kalau dia benar-benar menolak makanan ini, cobalah kembali satu minggu kemudian.
Begitu anak sudah terbiasa dengan sereal beras, makanannya bisa dibuat lebih kental dan takarannya ditambah. Namun, jangan berhenti memberi ASI atau susu formula –bayi Anda membutuhkan sedikitnya 4-6 kali dalam sehari untuk mencukupi kebutuhan gizinya.

Mencoba Jenis Lain
Setelah satu minggu diberi sereal beras, coba jenis sereal lainnya –oat, barley atau gandum. (Menurut sebuah studi pediatrik, mengenalkan gandum kepada bayi sebelum usia 6 bulan akan menurunkan risiko alergi gandum) Untuk mengecek kemungkinan alergi, berikan anak satu jenis makanan baru, tunggu 3-4 hari sebelum mencoba makanan lain. Amati ada tidaknya reaksi alergi, misalnya ruam, bengkak, bersin, sesak napas, muntah, buang gas berlebihan, diare, atau ada darah di tempat duduknya. Hubungi dokter bila ada gejala-gejala ini (butuh beberapa menit bahkan beberapa hari untuk muncul.). Jika reaksinya tampak serius, langsung saja ke UGD.
Setelah bayi Anda biasa makan berbagai jenis sereal, Anda bisa mengenalkan buah atau sayur yang diblender (puree). Tak masalah mana yang lebih dulu diberikan. Tapi, lakukan satu per satu saja. Jika dia memuntahkan puree kacang polong, jangan putus asa. “Bisa saja dia menutup rapat mulutnya atau menggelengkan kepala, ini karena belum terbiasa dengan rasa yang baru,” kata Loraine Stern, M.D, profesor klinik bidang pediatrik di University of California, Los Angeles. “Mungkin dia baru akan mau setelah mencoba tiga atau empat kali.”

Finger foods dan makanan lain
Usia 8-10 bulan, bayi Anda sudah bisa mencoba makanan yang lembut, misalnya yogurt, keju lembek, pisang atau ubi yang dihancurkan. Dia juga sudah bisa mengonsumsi lebih banyak zat besi. Jadi, Anda bisa mencoba puree daging seperti ayam dan sapi. Pada masa ini, dia harus siap untuk makan sendiri. Jadi, berikan dia finger food (makanan yang bisa dijumput) seperti keju mozzarella kecil, pasta, potongan buah, sayur matang atau sereal kering yang mudah larut di dalam mulut. Agar tidak tersedak, semua makanan dipotong kotak-kotak kecil, tidak lebih panjang dari ujung kelingkingnya.
Cerdas-Aman Mengatur Makanan

Perhatikan hal-hal berikut di saat si kecil makan

1. Buang toples makanan bayi yang sudah terbuka 48 jam. Jangan memberi makan langsung dari wadahnya karena bakteri dari sendok bisa mengontaminasi sisa makanan.
2. Hindari puree wortel, bit, lobak, atau bayam buatan sendiri karena sayuran ini mengandung nitrat yang tinggi.
3. Pastikan untuk mengaduk puree yang sudah dihangatkan, dan jangan lupa mengecek suhu makanan sebelum diberikan.
4. Hindari makanan yang bisa menyebabkan bayi tersedak: kacang, kismis, permen, anggur, sayuran mentah yang keras, popcorn, selai kacang, dan hotdog.
5. Jauhi madu yang dapat mengakibatkan keracunan pada bayi di bawah usia 1 tahun.
6. Hindari makanan yang berpotensi menimbulkan alergi, termasuk susu sapi, telur, kacang-kacangan, selai kacang (sulit ditelan), stroberi segar, jeruk sitrus, ikan dan makanan laut lainnya.

Kaki ayam for baby

Kaki Ayam dan Khasiatnya
KOLAGENNYA BISA JADI OBAT

Orang Indonesia boleh dibilang kenyang makan ceker ayam atau kaki ayam. Bayangkan, sejak kita boleh mencicipi nasi tim, kaki ayam sudah jadi hidangan favorit kita sehari-hari. Setelah kita belajar jalan, makin rajin orangtua kita memasok kaki ayam pada sajian nasi timnya. Konon, kaki bayi bisa bertambah kuat kalau anak sering diberi kaki ayam. Sebagian pakar sering protes dengan pendapat ini. Alasannya, bagian ayam yang bergizi tentulah dagingnya. Sementara kaki ayam, jelas-jelas tanpa daging. Kalaupun ada bagian kulitnya yang agak tebal, pasti tidak ikut dimakan si bayi.

Menanggapi pendapat mereka, para orang tua tidak serta-merta mundur. Kaki ayam tetap saja diikutsertakan dalam membuat nasi tim bagi bayi-bayi mereka. "Ya, sudahlah kalau tidak ada gizinya, paling tidak kita bisa memanfaatkan rasa gurihnya. Toh, dulu-dulu juga kita bisa sehat begini, kan, antara lain karena kaki ayam," kata para ibu yang jelas-jelas emoh meninggalkan kebiasaan yang sudah turun-temurun itu.

Kaki ayam memang memberi rasa gurih. Hingga orang dewasa pun banyak yang hobi makan kaki ayam. Entah kaki ayam yang dimasak ala dimsum atau kaki ayam yang dijadikan keripik bergengsi yang harganya luar biasa melambung itu. Sebetulnya, betulkah kaki ayam sama sekali tidak bermanfaat, atau betulkah kaki ayam bisa menguatkan kaki dan otot bayi hingga lebih cepat berdiri kokoh dan berjalan? Mari kita lihat apa saja yang terkandung dalam kaki ayam itu.

Di dalam kaki ayam terdapat kulit, otot, tulang, dan kolagen. Kolagen adalah sejenis protein jaringan ikat yang liat dan bening kekuning-kuningan. Kalau kena panas, kolagen akan mencair menjadi cairanyang agak kental seperti lem. Nah, susunan utama pada ceker ayam adalah asam amino, yakni komponen dasar protein. Di dalam asam amino itu antara lain terdapat glisin-prolin, hidroksiprolin-agrinin-glisin. Kaki ayam juga mengandung zat kapur dan sejumlah mineral. Dengan begitu memang masuk akal juga kalau orang tua kita tetap bertahan untuk menyuguhkan kaki ayam bagi anak-anaknya. Sebab, jenis asam amino prolin danhidroksiprolin serta zat kapur jelas-jelas dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Betul memang kaki ayam tidak berdaging, tetapi seperti diuraikan diatas, saat kena panas, kolagen yang terkandung dalam kaki ayam segera mengalir dan bergabung di dalam nasi tim kita. Nah, kolagen inilah yangkita manfaatkan, bukan dagingnya.

Memang untuk mendapatkan gizi yangcukup anak tidak hanya perlu mendapat kaki ayam, tetapi juga tentu dagingnya. Tetapi kebiasaan memberi anak makan kaki ayam, tetap tidak perlu ditinggalkan.

TAK CUMA PERTUMBUHAN ANAK
Fungsi kolagen, tak cuma untuk pertumbuhan anak, lo. Orang yangmenderita rematik pun, amat dianjurkan sering-sering makan kaki ayam. Kenapa begitu? Karena protein kolagen ayam memiliki antigen yangbersifat imunogenik. Ceritanya, di dalam tubuh kita terdapat dua macam antigen. Yakni antigen asing dan antigen diri. Setiap antigen bisa bersifat antigenik dan imunogenik. Antigen yang antigenik dapat berikatan dengan antibodi, meski tidak bisa merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap antigen. Sementara antigen yang imunogenik juga mampu berikatan dengan antibodi spesifik, tetapi juga mampu menghasilkan antibodi spesifik terhadap antigen.

Nah, antibodi terhadap antigen inilah yang perlu dirangsang bagipenderita rematik. Tentu hubungan sang antigen tadi dengan penyakit rematik punya uraian ilmiah yang panjang sekali, yang agak sulit kita pahami sebagai orang awam. Yang jelas, makan kaki ayam secara rutin mulai dianjurkan bagi penderita rematik

CARA MENGOLAH
Betapapun hebatnya peran si kaki ayam, tentu kalau cuma ditim atau direbus belaka, Anda enggan menyantapnya, kan? Apalagi kalau dihidangkan setiap hari. Begitu juga dengan nasi tim si kecil. Jangan coba-coba cuma menghadirkan nasi tim dengan kaki ayam yang itu-itu saja dari hari kehari. Bisa-bisa si kecil kelak tidak doyan makanan lainnya. Atau malah tidak mau makan. Seperti nasi tim yang bisa kita buat variatif dengan menambahkan bahan lain secara berganti-ganti, kaki ayam untuk pengobatan ini pun bisa kita olah jadi hidangan lezat yang variatif. Yang jelas, olahlah kaki ayam dengan cara direbus atau ditim, bukan digoreng. Kaki ayam yang digoreng sudah rusak struktur protein kolagennya akibat suhu yang tinggi. Perebusan dan pengetiman tidak lebih dari 100 derajat Celsius hingga dijamin tidak merusak protein si kaki ayam. Meski cuma boleh direbus dan ditim, sebetulnya kaki ayam bisa dibuat menjadi berbagai jenis hidangan.

@Sumber: sedap-sekejap

Selasa, 03 Februari 2009

Cukupkah Asi ku


Cukupkah ASI-ku untuk Si Kecil?


Ragu soal kecukupan ASI Anda? Jangan cepat-cepat memutuskan memberi bayi makanan tambahan. Periksa dulu, benarkah ASI tidak cukup?
Banyak ibu menyusui yang meragukan kecukup-an air susunya sendiri. Mereka merasa tidak mampu menghasilkan cukup ASI. Perasaan seperti ini merupakan salah satu alasan paling lazim yang mendorong para ibu untuk mulai memberi makanan tambahan terlalu dini kepada bayinya.
Sebenarnya hampir semua ibu - bahkan yang menderita kurang gizi tingkat sedang pun – sanggup menghasilkan cukup ASI untuk bayinya. Perlu diketahui, ‘cukup’ di sini tidak berarti ASI Anda harus berlimpah ruah, melainkan terpenuhinya seluruh kebutuhan bayi. Sebab, tidak sedikit ibu yang merasa ASI-nya kurang, tapi bayinya ternyata sudah tercukupi kebutuhannya. Sebaliknya ada juga ibu yang merasa ASI-nya berlimpah, tapi toh bayinya tidak terpenuhi kebutuhannya.
‘Tanyalah’ Bayi Anda!
Jika Anda meragukan kecukupan ASI Anda, atau jika ada orang yang meragukan kecukupan ASI Anda, jangan cepat-cepat memutuskan untuk memberi bayi Anda makanan tambahan. Cobalah periksa dulu, benarkah ASI Anda tidak cukup? Dalam melakukan pemeriksaan, sebenarnya yang paling pantas ditanyakan pendapatnya adalah bayi Anda (ingatlah bahwa kata ‘cukup’ di sini mengacu pada terpenuhinya seluruh kebutuhan bayi). Pertanyaan Anda pun mungkin perlu diluruskan. Bukan lagi ‘cukupkah ASI saya?’ melainkan ‘cukupkah ASI yang bayi dapatkan?’.
Namun, berhubung bayi belum bisa bicara, kitalah yang harus memeriksa tanda-tanda cukup-tidaknya bayi mendapat ASI.
Jika si Kecil Memang Kurang Mendapat ASI
Bayi bisa tidak cukup mendapat ASI bila ia tidak mengisap secara efektif. Yang disebut mengisap secara efektif adalah ‘mampu mengeluarkan ASI dari payudara dengan mudah’. Ini hanya bisa dilakukan jika bayi ‘melekat dengan baik’ pada payudara. Bayi dikatakan ‘melekat dengan baik’ pada payudara jika ia memasukkan sebagian areola ke dalam mulut, meregangkan jaringan payudara menjadi semacam ‘dot’ panjang - sehingga puting hanya merupakan sepertiga bagian dari ‘dot’ tadi, dan mengisap pada payudara – bukan pada puting. Tapi kadang-kadang bayi tidak memasukkan cukup banyak bagian payudara ke dalam mulutnya, sehingga hanya mengisap puting. Akibatnya, ia tidak bisa mengisap secara efektif dan tidak mendapatkan ASI sesuai kebutuhannya. Jika ini yang terjadi pada bayi, Anda harus belajar membantu bayi memasukkan payudara (sekaligus putingnya) ke dalam mulutnya.
Ibu kurang sering menyusui. Menyusui kurang dari 5-6 kali sehari juga merupakan alasan lazim bayi kekurangan ASI. Ibu yang sangat sibuk biasanya sulit menyusui sesuai keinginan bayi. Padahal, isapan bayi merangsang produksi ASI. Itu berarti, menyusui yang terlalu jarang dan terlalu singkat akan menurunkan produksi ASI. Jika ini yang terjadi pada Anda, maka Anda sebaiknya menyusui bayi sesering dan selama bayi mau.
Bayi tidak menyusu cukup lama pada satu payudara. Kadang ibu melepaskan bayi dari payudara sebelum bayinya benar-benar puas. Perlu diketahui, durasi menyusu tidak sama pada tiap bayi. Ada bayi yang memerlukan waktu 30 menit untuk mendapatkan cukup ASI dari satu payudara. Tapi ada juga yang hanya mengisap sebentar, lalu tertidur sejenak, lalu terbangun dan menangis minta menyusu lagi. Jika ini yang terjadi pada si kecil, maka Anda sebaik-nya membiarkan bayi menyusu sampai berhenti sendiri. Jika si kecil gampang tertidur, Anda sebaiknya menepuk-nepuk pipinya agar terbangun dan menyusu lagi.
Kepercayaan diri sangat penting bagi keberhasilan menyusui. Jika Anda bertekad menyusui eksklusif selama 6 bulan, peliharalah kepercayaan diri Anda baik-baik. Jangan biarkan kepercayaan diri Anda digerogoti oleh keraguan, apalagi keraguan yang dasarnya tidak bisa dipercaya.
Agar ASI Cukup dan Berkualitas
Cukup tidaknya dan berkualitasnya ASI tergantung kondisi Anda. Tapi asupan makanan dan minuman juga sangat menentukan.
• Asupan makanan ibu menyusui harus seimbang antara sumber tenaga (hidrat arang dan lemak), sumber pembangun (protein nabati dan hewani) serta sumber pengatur dan pelindung (sayuran dan buah-buahan).

• Makan teratur dengan porsi yang cukup.

• Menambahkan sumber makanan yang kaya vitamin (sayuran dan buah-buahan), kalsium (susu/tambahan vitamin seperti CDR), dsb. Terutama kalsium, karena kalsium ibu diserap bayi melalui ASI. Untuk menggantinya diperlukan tambahan kalsium.

• Rasa makanan tidak menyengat seperti pedas, manis, asin, dan berlemak.

• Menghindari makanan/minuman yang mengandung alcohol, nikotin, dsb.

• Perbanyak minum cairan baik air putih, susu, maupun jus buah. Terutama beberapa saat sebelum Anda memulai menyusui.
Referensi:
1. 1. King, Felicity Savage. Helping Mothers to Breastfeed. 1992, African Medical Reserach Foundation, Kenya
2. 1. Newman, Jack. Is My Baby Getting Enough? Breastfeeding Handout #4, Revised Edition, 2005.

Senin, 02 Februari 2009

Cepet sembuh sayang...

Beberapa hari yang lalu Arfa demam (sekitar 38 0C) 2 hari nggak bisa tidur. Duh Nak, kasihan sekali kau. “Masuk angin mungkin”, kata papahnya. Emang sih beberapa hari ini cucaca kadang panas tiba2 ujan sering bawa penyakit. “ Atau kecapekkan” kata eyangnya . Bisa jadi karena liburan panjang kemarin, Arfa jalan2 terus sih.

Nak, cepat sembuh ya…

Point-point utama yang harus diperhatikan selama merawat anak demam adalah :
TREATING FEVER
1.Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak.
Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.

2.Cegah dehidrasi.
Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak. Berikan air, air sup, jus buah segar yang dicampur air, es batu, es krim.
Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : pedialyte, oralit.

3.Ruangan dijaga agar tidak panas, pasang kipas angin. Anak memakai baju yang tipis.
4.Kompres air hangat atau berendam di ari hangat.
5.Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.
6.Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat tidur seharian.
7.Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :

<102F (<38.3C) : Tidak perlu obat penurun panas, ekstra cairan
(minum banyak)
>102F (38.3C), uncomfortable : Beri obat penurun panas, kompres
hangat
>104 (>40C) : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter.

Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)

COLDS AND FLU

Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 – 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bai dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu.
Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu

Tatalaksana:
Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.
Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu.
Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Breathy).
Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur.
Paracetamol – bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)
Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yg mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.

Pencegahan:
Sering cuci tangan
Hindari kontak erat dengan penderita flu
Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb.

Kapan menghubungi dokter?
Persistent cough, fever > 72 hours
Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru
Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan)

Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.

COUGHS

Jika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb). Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya.
Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.
Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.

Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk. Infeksi kah atau bukan infeksi.
Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi.
Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.

Tatalaksana :

? Cari PENYEBAB batuk.

Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :
Minum banyak yang hangat misalnya lemon
Jangan ada asap rokok
Rangan jangan kering (Moist air - kamar mandi - buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)
Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi
NO – ANTIBIOTICS. Ingat ! Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik
NO cough suppressant. Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan / puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.

Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu.
Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !

Minggu, 01 Februari 2009

Num susu sayang...

Arfa dah 1 tahun, sudah saatnya minum susu formula karena kata DSA, setelah 1 tahun maka kualitas dan kuantitas ASI jadi menurun. –Bingung-, milih susu merk apa ya, yang pasti mama akan memberikan yang terbaik buat kamu Nak.
Setelah nyari-nyari di minimarket terdekat mama belikan kamu susu D-----W rasa madu ya Nak. Rasa madu yang manis pasti kamu akan suka.
Jadilah pagi itu dengan semangat 45 menyiapkan susu formula pertama untuk kamu. Minum pakai dot ya sayang….
Ooo, tapi dot cuma digigit2, susu 120ml selama setengah jam belum juga habis-habis. Coba pakai training cup, tp langsung geleng2 kenceng. (lucu deh liat polahnya) Ogah minum susu ya Nak, kenapa apa tidak suka rasanya. Akhirnya minum susu pakai disuapin sendok, duuh repot banget, mana tumpah2 lagi. Kok ribet banget ya.
Coba ganti rasa yang lain, susu UHT coklat . Tetep saja OOGGAAHHH mah…

moms & dads apa yah yang musti saya lakuin?? minta masukan dan sarannya dooong..

5 sifat BATITA

Menghadapi 5 sifat khas BATITA
• Perkembangan dan kecerdasan anak
Si kecil egois, agresif, bossy, penyendiri atau pemalu? Semua itu merupakan sifat khas batita.
Ada alasan mengapa anak batita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya. Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?
[B]1. EGOSENTRIS[/B]
Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak batita selalu “here and now.”
Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”
Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.
Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.
Cara menyiasati
Memang masih agak sulit batita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia batita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.
[B]2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH[/B]
Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia batita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya---anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.
Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia batita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.
Cara menyiasati
- Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.
- Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.
- Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”
[B]3. AGRESIF[/B]
Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia batita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak batita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.
Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.
Cara menyiasati
* Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak batita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.
* Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.
* Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak batita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.
[B]4. PEMALU[/B]
Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.
Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Cara menyiasati
Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.
Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”
[B]5. PENYENDIRI[/B]
Sifat penyendiri pada usia batita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkembangan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia batita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.
Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si batita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.
Cara menyiasati
Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.
Oleh : Dedeh Kurniasih (Tabloid-Nakita.com)
Narasumber:
L.S. Yulia Savitri, M.Psi.,
pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Cup..cup sayang...

Beberapa minggu yang lalu Arfa mama ajak jalan2 ke rumah budhenya. Jalan-jalan sore mumpung mama ga ada kerjaan . Gak terlalu jauh sih, paling2 Cuma 300an meter aja. Sejak dia bayi udah akrab kok, budhenya udah sering gendong dia..
Tapi, begitu nyampai, langsung nangis kenceng, sampai semua orang bingung. Kenapa Nak…

Nah moms n dad yang pernah punya pengalama serupa nggak perlu panik. Ada tipsnya nih…
STRANGER ANXIETY
Stranger anxiety biasanya muncul pada umur 6 bulan ke atas dan bisa ‘bertahan’ sampai anak berumur 3 tahun. Biasanya, memuncak pada umur 1-1.5 tahun, kemudian mulai memudar.
Cara mengatasi :
• Saat mengenalkan anak dengan orang baru atau lingkungan baru, dekap bayi untuk membantu dia merasa aman
• Hormati perasaan bayi, jangan paksa dia untuk langsung berinteraksi dengan orang lain atau menyerahkan dia untuk digendong mereka. Paksaan akan menimbulkan ketakutan yang semakin besar dan trauma.
• Beri pengertian pada orang lain, bahwa bayi kita butuh waktu untuk merasa familiar. Kadang kala, ini justru yang paling susah, terutama jika mereka termasuk kerabat dekat. Bilang saja ‘iya nih, biasa, suka jual mahal dulu, ntar juga lama2 mau kok, sabar yah…’
• Alihkan perhatian bayi dengan mengajak bermain atau melihat2 sekitar.
• Cara paling efektif adalah membiarkan bayi untuk memulai kontak. Mungkin kita bisa bilang pada orang2 lain untuk ‘nyuekin’ si bayi dulu. Percaya deh, biasanya kalau di cuekin, bayi akan semakin penasaran !
• Ingat bahwa setiap bayi lahir dengan karakteristik yang berbeda. Ada bayi yang memang ‘dari sononya’ pemalu. Sekali lagi jangan paksakan !

SEPARATION ANXIETY
Ciri2 : Ngintil terus, nangis saat ortu nggak kelihatan, takut pada orang asing, bangun malem2 dan nangis pengen deket ortu, langsung diem tiap ortu deket/meluk.
Berpikirlah positif ! Separation anxiety merupakan hal yang sangat normal yang terjadi pada anak umur 7-18 bulan. Ini menandakan bahwa ikatan dan cinta yang kita berikan selama ini, diterima baik oleh bayi. Ini juga merupakan tanda bahwa bayi mulai pintar, dengan menyadari bahwa dia memiliki kebutuhan2 dan belum mampu untuk memenuhinya sendiri.
Cara mengatasi :
• Minimalkan kemungkinan berpisah
• Main ciluk ba atau sembunyikan barang, merupakan cara yang baik mengajarkan bayi untuk memahami bahwa sesuatu yang tidak kelihatan bukan berarti menghilang selamanya.
• Latihan untuk berpisah secara cepat. Sepanjang hari coba tinggal bayi selama beberapa saat, misalnya pergi ke ruangan lain. Ini akan mengajarkan bayi bahwa ‘mama pergi pasti kembali’. Selain itu membiarkan bayi bermain sendiri juga baik untuk membantu kreativitas dan kemandirian.
• Saat harus meninggalkan bayi, jangan kabur saat dia nggak liat, karena ini akan menimbulkan ketakutan yang lebih besar dan akhirnya si bayi akan ngintiiiil terus.
• Jangan buru2 berpisah, tapi juga jangan kelamaan. Bayi dapat merasakan kegelisahan kita, karena itu bantulah dia berpisah dengan cara yang lugas dan tenang. Kalau kita sendiri berpisah dengan deraian air mata, di jamin si bayi pasti akan lebih sedih lagi. Berpisahlah dengan senyum !
• Tinggalkan bayi dengan orang yang familiar buat dia dan kita percaya.
• Alihkan perhatian bayi
• Jika bayi mulai mobile, dan kadang pergi meninggalkan kita, biarkan dia bereksplorasi, tentunya kita tetap mengintip atau mendengarkan untuk memastikan dia aman.