Selasa, 03 Februari 2009

Cukupkah Asi ku


Cukupkah ASI-ku untuk Si Kecil?


Ragu soal kecukupan ASI Anda? Jangan cepat-cepat memutuskan memberi bayi makanan tambahan. Periksa dulu, benarkah ASI tidak cukup?
Banyak ibu menyusui yang meragukan kecukup-an air susunya sendiri. Mereka merasa tidak mampu menghasilkan cukup ASI. Perasaan seperti ini merupakan salah satu alasan paling lazim yang mendorong para ibu untuk mulai memberi makanan tambahan terlalu dini kepada bayinya.
Sebenarnya hampir semua ibu - bahkan yang menderita kurang gizi tingkat sedang pun – sanggup menghasilkan cukup ASI untuk bayinya. Perlu diketahui, ‘cukup’ di sini tidak berarti ASI Anda harus berlimpah ruah, melainkan terpenuhinya seluruh kebutuhan bayi. Sebab, tidak sedikit ibu yang merasa ASI-nya kurang, tapi bayinya ternyata sudah tercukupi kebutuhannya. Sebaliknya ada juga ibu yang merasa ASI-nya berlimpah, tapi toh bayinya tidak terpenuhi kebutuhannya.
‘Tanyalah’ Bayi Anda!
Jika Anda meragukan kecukupan ASI Anda, atau jika ada orang yang meragukan kecukupan ASI Anda, jangan cepat-cepat memutuskan untuk memberi bayi Anda makanan tambahan. Cobalah periksa dulu, benarkah ASI Anda tidak cukup? Dalam melakukan pemeriksaan, sebenarnya yang paling pantas ditanyakan pendapatnya adalah bayi Anda (ingatlah bahwa kata ‘cukup’ di sini mengacu pada terpenuhinya seluruh kebutuhan bayi). Pertanyaan Anda pun mungkin perlu diluruskan. Bukan lagi ‘cukupkah ASI saya?’ melainkan ‘cukupkah ASI yang bayi dapatkan?’.
Namun, berhubung bayi belum bisa bicara, kitalah yang harus memeriksa tanda-tanda cukup-tidaknya bayi mendapat ASI.
Jika si Kecil Memang Kurang Mendapat ASI
Bayi bisa tidak cukup mendapat ASI bila ia tidak mengisap secara efektif. Yang disebut mengisap secara efektif adalah ‘mampu mengeluarkan ASI dari payudara dengan mudah’. Ini hanya bisa dilakukan jika bayi ‘melekat dengan baik’ pada payudara. Bayi dikatakan ‘melekat dengan baik’ pada payudara jika ia memasukkan sebagian areola ke dalam mulut, meregangkan jaringan payudara menjadi semacam ‘dot’ panjang - sehingga puting hanya merupakan sepertiga bagian dari ‘dot’ tadi, dan mengisap pada payudara – bukan pada puting. Tapi kadang-kadang bayi tidak memasukkan cukup banyak bagian payudara ke dalam mulutnya, sehingga hanya mengisap puting. Akibatnya, ia tidak bisa mengisap secara efektif dan tidak mendapatkan ASI sesuai kebutuhannya. Jika ini yang terjadi pada bayi, Anda harus belajar membantu bayi memasukkan payudara (sekaligus putingnya) ke dalam mulutnya.
Ibu kurang sering menyusui. Menyusui kurang dari 5-6 kali sehari juga merupakan alasan lazim bayi kekurangan ASI. Ibu yang sangat sibuk biasanya sulit menyusui sesuai keinginan bayi. Padahal, isapan bayi merangsang produksi ASI. Itu berarti, menyusui yang terlalu jarang dan terlalu singkat akan menurunkan produksi ASI. Jika ini yang terjadi pada Anda, maka Anda sebaiknya menyusui bayi sesering dan selama bayi mau.
Bayi tidak menyusu cukup lama pada satu payudara. Kadang ibu melepaskan bayi dari payudara sebelum bayinya benar-benar puas. Perlu diketahui, durasi menyusu tidak sama pada tiap bayi. Ada bayi yang memerlukan waktu 30 menit untuk mendapatkan cukup ASI dari satu payudara. Tapi ada juga yang hanya mengisap sebentar, lalu tertidur sejenak, lalu terbangun dan menangis minta menyusu lagi. Jika ini yang terjadi pada si kecil, maka Anda sebaik-nya membiarkan bayi menyusu sampai berhenti sendiri. Jika si kecil gampang tertidur, Anda sebaiknya menepuk-nepuk pipinya agar terbangun dan menyusu lagi.
Kepercayaan diri sangat penting bagi keberhasilan menyusui. Jika Anda bertekad menyusui eksklusif selama 6 bulan, peliharalah kepercayaan diri Anda baik-baik. Jangan biarkan kepercayaan diri Anda digerogoti oleh keraguan, apalagi keraguan yang dasarnya tidak bisa dipercaya.
Agar ASI Cukup dan Berkualitas
Cukup tidaknya dan berkualitasnya ASI tergantung kondisi Anda. Tapi asupan makanan dan minuman juga sangat menentukan.
• Asupan makanan ibu menyusui harus seimbang antara sumber tenaga (hidrat arang dan lemak), sumber pembangun (protein nabati dan hewani) serta sumber pengatur dan pelindung (sayuran dan buah-buahan).

• Makan teratur dengan porsi yang cukup.

• Menambahkan sumber makanan yang kaya vitamin (sayuran dan buah-buahan), kalsium (susu/tambahan vitamin seperti CDR), dsb. Terutama kalsium, karena kalsium ibu diserap bayi melalui ASI. Untuk menggantinya diperlukan tambahan kalsium.

• Rasa makanan tidak menyengat seperti pedas, manis, asin, dan berlemak.

• Menghindari makanan/minuman yang mengandung alcohol, nikotin, dsb.

• Perbanyak minum cairan baik air putih, susu, maupun jus buah. Terutama beberapa saat sebelum Anda memulai menyusui.
Referensi:
1. 1. King, Felicity Savage. Helping Mothers to Breastfeed. 1992, African Medical Reserach Foundation, Kenya
2. 1. Newman, Jack. Is My Baby Getting Enough? Breastfeeding Handout #4, Revised Edition, 2005.

Tidak ada komentar: