Jumat, 06 Februari 2009

Makan dong sayang!

Makan dong, Sayang!
Faktanya, kebanyakan batita bersedia mencoba jenis makanan baru setelah diperkenalkan sekitar 10-15 kali. Anda pun tidak mesti memperkenalkan banyak makanan sekaligus.


Usaha keras Anda menyajikan makanan kaya gizi tiba-tiba seperti lenyap ketika anak batita Anda dengan entengnya menolak makanan yang telah Anda siapkan dengan penuh cinta. Kesal? Tenang, jangan dimasukkan ke hati. Memilih-milih makanan sebetulnya bagian dari perkembangan batita.

Sebagian anak batita mau memakan apa saja. Sebaliknya, cukup banyak pula anak batita yang memilih-milih makanan tanpa alasan yang jelas. Mereka melahap sayur bayam yang Anda hidangkan dengan penuh semangat namun tiga hari kemudian, mereka menolak memakannya. Anda tidak perlu bingung dengan perubahan sikap itu. Seiring dengan pertumbuhannya, batita mulai ingin menunjukkan identitas diri. Mereka ingin menunjukkan kekuasaan menentukan apa yang mereka inginkan, termasuk dalam soal makanan.

Usia dini adalah suatu periode pertumbuhan yang tidak berlangsung secepat satu tahun pertama kehidupan anak. Melewati usia 1 tahun, pertambahan berat badan batita pun menjadi lebih lambat. Selain itu, ukuran perut batita sebenarnya tidak melebihi satu kepal tangan mereka sendiri. Dengan demikian, berbeda dengan orang dewasa, mereka belum membutuhkan banyak kalori.

Menurut ahli gizi keluarga, Dr.Cindiawaty Pudjiadi MARS, MS, SpGK, jka seorang ibu, secara tidak sadar mengarahkan anak untuk memakan jenis makanan tertentu saja, maka si anak mungkin akan menjadi pemilih dalam soal makanan. “Ini bisa terjadi jika orang tua membatasi jenis makanan dan kurang memperkenalkan variasi makanan. Jadi, anak tidak terbiasa mengonsumsi makanan selain yang sering dia makan,” katanya.

Jika si kecil terlihat tidak menyukai sayuran yang Anda hidangkan, ada baiknya Anda introspeksi terhadap pola makan Anda sendiri selama ini. Apakah Anda seorang yang gemar menyantap sayuran atau malah sebaliknya. “Kalau ibunya tidak suka sayur, dia tidak akan memperkenalkan sayur ke anak. Otomatis anak akan mengikuti pola makan ibunya,” Cindiawaty menjelaskan.
Memang dibutuhkan kesabaran ekstra jika Anda ingin si kecil tidak rewel dalam soal makanan. Bukan hanya sabar dalam menghadapi penolakan anak terhadap makanan yang telah Anda olah dengan susah payah, Anda juga harus sabar dalam memperkenalkan makanan yang bervariasi. Faktanya, kebanyakan batita bersedia mencoba jenis makanan baru setelah diperkenalkan sekitar 10-15 kali. Selain itu, Anda pun tidak mesti memperkenalkan banyak makanan sekaligus. Harus satu persatu.
Berpikir kreatif
Anak-anak belum mengetahui manfaat nutrisi dalam makanan terhadap pertumbuhan mereka. Mereka lebih tertarik dengan rasa dan penampilannya. Jadi, percuma saja Anda menyajikan makanan sarat gizi jika penampilannya tidak menarik. Bayangkan, nasi dan daun bayam diblender. Coba hidangkan bubur berwarna hijau tua itu kepada si kecil sambil mengatakan betapa banyak gizi yang ada di bubur itu. Kemungkinan besar anak tidak akan tertarik. Jika Anda sendiri kehilangan minat untuk makan saat melihat hasil kreasi sendiri, apalagi anak. “Bisa jadi acara makan yang seharusnya menyenangkan malah menjadi pengalaman traumatik karena anak harus menyantap makanan yang tampilannya tidak menarik,” kata Cindiawaty, yang berpraktik di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Anda tidak perlu menjadi seorang ahli memasak atau ahli menghias makanan demi menarik perhatian si kecil. Yang Anda butuhkan hanyalah beberapa langkah sederhana serta sedikit kreativitas. Berikut adalah beberapa taktik yang dapat Anda lakukan.

Sayuran artistik. Anda bisa mencoba untuk membuat wajah dari sayuran, misalnya dua iris tomat untuk mata, wortel yang dipotong tipis memanjang untuk hidung, sepotong buncis untuk bibir yang sedang tersenyum, dan potongan daun brokoli untuk rambut.

Smoothie. Saat ingin mengenalkan buah-buahan kepada si kecil, Anda tidak perlu selalu berpaku pada bentuk buah yang padat. Anda bisa membuat smoothie, misalnya dengan memblender susu dan stroberi.

Potongan yang menarik. Percantik tampilan buah-buahan dengan menggunakan cetakan kue aneka bentuk daripada hanya memotongnya menjadi bentuk balok persegi empat dengan menggunakan pisau. Sangat mungkin anak akan tertarik menyantap buah karena melihat pepaya berbentuk bintang atau melon berbentuk hati tertata manis di atas piring.

Bermain warna. Gunakan piring ceper untuk menyajikan apel, pisang, brokoli, wortel, buncis dan keju yang Anda potong dalam beragam bentuk. Jangan lupa untuk menamai potongan-potongan makanan tersebut sebelum meminta si kecil untuk memilih potongan yang akan disantap. Misalnya, “apel bulan” untuk menyebut apel yang dipotong bulat tipis, “pedang keju” untuk menyebut keju yang dipotong memanjang, “pohon brokoli” untuk menyebut potongan daun brokoli, dan lain sebagainya. Kemudian katakan, “Ayo, Ade mau makan yang mana? Apel bulan, pedang keju, atau pohon brokoli?”

Bersandiwara. Tidak sekadar menyajikan makanan dengan bentuk yang menarik perhatian, ada kalanya Anda juga perlu menyelipkan permainan kecil sehingga anak tidak merasa dipaksa untuk makan. Anda bisa berkata, “Ade, ini ada pesawat mau mendarat. Ayo buka mulutnya.” Cara inilah yang digunakan Lusi, 30 tahun, saat menyuapi Dicky, putranya yang berusia tiga tahun. “Saat menyuapi Dicky, saya sering menyebutkan nama tokoh-tokoh kartun kesayangannya, misalnya dari kartun Tom&Jerry, ‘Jerry sedang dikejar-kejar Tom. Ayo Dicky cepat buka mulutnya agar Jerry selamat.’ Dengan cara ini, anak saya bersemangat makan,” tutur ibu yang tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta itu.
JANGAN LAKUKAN INI!

Berlebihan dalam memberi susu. Memasuki usia dua tahun, anak sudah bisa disapih dari ASI dan diperkenalkan pada makanan padat. Di periode ini, Anda sudah tidak perlu lagi memberikan susu secara intensif seperti dulu. Jika dibiasakan menenggak susu terlalu banyak, otomatis perut anak sudah penuh terisi susu sehingga mereka malas untuk makan karena sudah merasa kenyang. Cukup berikan susu dua kali sehari supaya masih ada ruang kosong dalam perut si kecil untuk menampung makanan padat.

Memaksa. Pada masa usia ini si kecil juga mulai ingin menunjukkan jati dirinya kepada Anda. Karena itu, jangan heran seandainya batita Anda bersikap manipulatif, termasuk dalam memilih makanan yang akan masuk ke dalam mulutnya. Anda tak perlu marah. Memaksa anak memakan makanan yang tak diinginkan malah akan menggiring Anda berdua dalam pertengkaran yang tak perlu.

Selain itu, Anda harus ingat bahwa ukuran perut anak batita tergolong kecil. Seandainya mereka sudah cukup makan di pagi dan siang hari, bisa jadi mereka masih merasa kenyang di malam hari. Jadi, jika anak menolak untuk menyantap makanan yang telah Anda hidangkan, Anda tidak perlu memaksanya. Anda perlu bersabar saat berusaha mengenalkan makanan baru kepadanya.

Menyogok. Banyak orang tua yang mengkhawatirkan anaknya kekurangan asupan gizi akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas: menyogok. Anda menjanjikan akan membelikan es krim atau biskuit kesukaannya bila si kecil melakukan yang Anda inginkan. Cara ini yang biasanya cukup ampuh namun akan berdampak buruk. Anak hanya akan mau melakukan permintaan Anda jika dijanjikan hadiah.

Menyediakan camilan. Anda harus membatasi jumlah camilan yang ada di rumah, misalnya permen, es krim, biskuit, dan lain sebagainya. Anda tidak perlu selalu menyediakan camilan agar anak tidak terbiasa untuk mengonsumsi camilan. Terbiasa mengemil bisa membuatnya menyepelekan makan besar. Belilah camilan ini dalam jumlah kecil di waktu-waktu tertentu saja. Dan sebagai gantinya, siapkan buah sebagai camilan sehat di sore hari.

Tidak ada komentar: