Senin, 02 Maret 2009

STRELISASI ALAT MAKAN DAN MINUM BAYI

Karena masih lemah, kesehatan bayi perlu dijaga benar. Termasuk alat makan-minumnya, yang sebaiknya bebas kuman.
Orang tua zaman dulu sering berujar, tak perlu mencuci alat makan-minum bayi kelewat bersih. "Nanti malah sakit!" Tentu saja itu tak benar. Sebaliknya, kita juga kerap melihat ibu-ibu yang kelewat "semangat" merawat peralatan makan-minum bayinya. Misalnya, direbus dalam air mendidih sampai-sampai botol/gelas, berubah bentuk karena tak tahan panas yang kelewat tinggi. Maunya, sih, biar benar-benar steril.
Memang benar, peralatan makan-minum bayi harus dirawat dengan baik. Artinya, harus bebas kuman. Soalnya, bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Baik karena kuman, parasit, atau jamur. Penyebabnya, kekebalan tubuh bayi belum berkembang sempurna. "Karena itu orang yang akan kontak dengan bayi, harus dalam keadaan bersih benar. Begitu juga saat menyiapkan makan dan minuman bayi. Termasuk, kebersihan peralatan makan-minumnya," terang dr. Toto Wisnu Hendrarto, SpA, dari Bagian Kelompok Kerja Perinatologi, RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta.
KEKEBALAN TUBUH
Sejumlah peralatan makan-minum, tekan Toto, malah tak boleh sekadar dibersihkan dari kotoran, melainkan harus disterilkan. "Terutama jika ibunya tak memberi ASI, melainkan susu formula. Nah, botol susu harus benar-benar bebas dari mikroorganisme."
Umumnya sterilisasi botol sangat diperlukan, terutama pada bulan-bulan pertama kelahirannya. Setelah usia bayi bertambah, umumnya kekebalannya mulai meningkat seiring dengan diberikannya imunisasi dasar. Di samping itu, di saluran cernanya mulai diberikan makanan tambahan pendamping ASI atau PASI. Tujuan utama sterilisasi peralatan makan-minum bayi adalah mencegah timbulnya penyakit menular dan gangguan di saluran cerna.
CUKUP DICELUP
Pada prinsipnya, usahakan semua peralatan makan-minum dalam keadaan steril. Tapi untuk peralatan makan (piring, gelas, sendok, dan lainnya), tak harus direbus hingga 100 persen steril seperti halnya botol susu. "Cukup dibilas dengan air panas atau celupkan sebentar di air mendidih," kata Toto.
Sebetulnya, lanjut Toto, semua makanan yang lewat mulut pun tidak 100 persen steril. Begitu juga keadaan di dalam usus bayi. "Kecuali di hari-hari pertama kelahirannya." Nah, setelah memperoleh ASI atau PASI, mulailah tumbuh koloni kuman yang normal dalam ususnya. "Di sinilah kemudian mulai terjadi kekebalan-kekebalan pada usus si bayi. Sehingga diharapkan setelah usia 4 bulan, ia sudah mulai kuat dan bisa menerima tantangan-tantangan kuman atau apa pun dari luar."
Makanan tambahan tadi, menambah daya tahan tubuh bayi. "Dengan kata lain, masuknya makanan-makanan yang tidak 100 persen steril itu sebetulnya bisa dianggap seperti halnya vaksinasi." Semakin bagus proses peralihan dari ASI atau PASI ke makanan tambahan, semakin bagus pula proses pembentukan kuman di usus bayi sehingga kekebalan tubuhnya pun jadi lebih baik.
JAMUR JADI BERLEBIH
Peralatan makan yang harus dapat perhatian utama adalah botol susu. Sterilisasi botol harus dilakukan karena pemakaian botol susu bisa agak lama, sehingga mudah sekali terjadi kontaminasi. Ini berbeda dengan pemakaian piring dan alat makan lain, yang biasanya selesai dipakai dalam waktu 30-40 menit.
"Memang, kalau peralatan makan-minum tak steril, bayi bisa terserang kuman dan timbul infeksi." Umumnya, ada 3 faktor yang mendasari infeksi. Yakni, daya tahan tubuh, jumlah kuman, dan ganasnya kuman. "Tapi, meski jumlah kuman banyak dan ganas sementara daya tahan tubuh bagus, tak akan terjadi infeksi."
Yang jelas, tambah Toto, sesuatu yang berlebihan juga tak baik. "Kalau semua alat makan-minum dibuat steril dan bebas kuman, jelas tidak terjadi proses stimulasi atau kolonisasi kuman di dalam usus. Padahal, kuman merupakan suatu ekosistem. Bila di usus tak ada kumannya, maka ekosistemnya jadi tidak stabil."
Akibat selanjutnya, jamur tumbuh secara berlebihan sehingga tak seimbang. "Ini pun bisa menyebabkan infeksi usus. Yang juga harus dipahami, pembentukan kuman penting pula untuk pembentukan vitamin K yang berguna sebagai faktor pembekuan darah."
GANGGUAN DAN PENANGANAN
Gejala yang timbul akibat infeksi di saluran cerna tergantung dari letaknya. Bila terjadi di usus bagian atas, maka gejalanya muntah. Sedangkan di usus bagian bawah, gejala berbentuk mencret. Sementara jika terjadi di usus halus, mencretnya sering, tapi jumlahnya sedikit-sedikit dan berlendir. Jika di usus besar, mencretnya lebih cair dan volumenya lebih banyak. "Secara umum, gejala infeksi usus disebut muntaber. Istilah kedokterannya, gastroentritis atau radang lambung dan usus."
Diare merupakan penyakit utama infeksi usus yang disebabkan disfungsi di usus yang tidak bisa menyerap makanan dengan baik. Bila kerusakan usus di permukaan saja, biasanya selain keluar dalam bentuk konsistensi cair, juga disertai lendir. Namun bila kerusakan ususnya sampai lebih dalam lagi, bisa mengeluarkan darah.
Jika terjadi diare, yang terpenting adalah menjaga keseimbangan cairan. "Jumlah cairan yang masuk ke tubuh, harus lebih banyak dari jumlah yang dikeluarkan." Sebagai pertolongan pertama, beri oralit, pedialyte, dan lainnya, sampai mendapatkan pertolongan dokter.
Dokterlah yang akan mendiagnosa, apakah gangguan itu disebabkan infeksi atau melulu gangguan enzim saja. Bila karena infeksi, akan diberi obat-obatan untuk infeksinya. Tapi jika gangguan enzim, biasanya dokter akan menyarankan diet, semisal susu bebas laktosa, tidak makan banyak serat, serta makan protein tinggi saja.
Kesembuhannya tergantung daya tahan tubuh, keganasan kuman, dan jumlah kuman. "Kalau daya tahan tubuh bagus, akan terjadi penyembuhan lebih cepat. Kalau tidak bagus, berarti ini akan berkelanjutan tergantung dari daya tahan tubuh dan keganasan kumannya."

Dedeh Kurniasih.Foto : Dint's(nakita)
Diare Karena Infeksi
Menurut Toto, seorang anak dikatakan diare bila frekuensi buang air besar (BAB)-nyalebih dari 5 kali sehari dansangat cair (lebih dari 60 persen), disertai lendir dan terkadang darah. Baunya amis dan busuk. "Dari pemeriksaan akan terlihat,bagian usus yang terinfeksi mengalami radang, seperti bengkak dan kemerahan."
Bila diare kurang dari 7 hari,dinamakan diare akut. Sedangkan bila lebih dari 7 hari berarti sudah kronis. Nah, ada juga diare yang bukan disebabkan oleh infeksi, melainkan karena gangguan enzim pencernaan. Bedanya bisa dikenali dari baunya yang agak asam.
Kenalkan Secara Bertahap
Pemberian ASI yang terbaik adalah sampai anak berusia 4 bulan (ASI eksklusif). Tapi ada juga bayi yang mendapatkan PASI karena suatu hal atau terpaksa. Nah, sesudah usia 4 bulan, pemberian ASI dan PASI mulai menurun, karena mulai dengan pengenalan makanan tambahan. "Sehingga pada usia 9 bulan, pemberian ASI memenuhi kebutuhan 50 persen, sedangkan 50 persen sisanya dari makanan tambahannya," jelas Toto.
Target minum susu pun semakin lama semakin sedikit. Di usia 1 tahun, misalnya, sehari minimal hanya dua kali. Sebelum tidur malam sebanyak 200 cc (1 gelas) dan bangun tidur pagi sebanyak 200 cc. Pada saat bayi mulai mendapatkan makanan tambahan, lakukan secara bertahap. Misalnya, minggu pertama dikenalkan dengan buah-buahan. Ini juga bisa dimulai bila usia bayi di atas 3 bulan. Perhatikan pula BAB-nya. Bila encer, beri pisang. Tapi kalau BAB-nya keras, pilih jeruk atau pepaya. Minggu berikut, kenalkan biskuit bayi. Lalu seminggu kemudian, beri bubur susu. Jadi, lakukan secara bertahap setiap periodenya.
Beragam Alat Bantu Sterilisasi
Ada sejumlah cara mensterilkan botol. Yang paling sederhana adalah merebusnya dalam panci sampai air mendidih, biarkan selama 25-30 menit,setelah angkat dan ditiriskan," papar Toto.
Agar proses sterilisasinya baik, setidaknya bayi harus memiliki 8 buah botol susu. Jadi, kalau 4 botol dipakai, sisanya disterilkan, dan seterusnya. Perhatikan pula dot. Kalau sudah lecet atau pecah-pecah, sebaiknya tidak digunakan lagi karena akan mudah dijadikan tempat persembunyian mikroorganisme.
Selain itu, papar Anis, ada beragam alat bantu sterilisasi.Di antaranya, panci steril yang dilengkapi rak susun tempat menaruh botol. "Tapi ini jarang digunakan karena ibu-ibu merasa lebih praktis menggunakan panci masak biasa."
Ada pula alat sterilisasi elektris. Misalnya dimasukkan ke wadah dan diuapkan saja. Setelah beberapa menit dipanaskan, alat akan berhenti secara otomatis. Cara lain, botol-botol susu disusun sedemikian rupa pada rak khusus kemudian dimasukkan ke dalam microwave.
Bila bepergian, para ibu juga tak perlu repot-repot membawa alat sterilisasi karena sekarang sudah tersedia dalam bentuk kantung plastik. Jadi, botol-botol susu yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam kantung tersebut. Setelah itu, ibu bisa pinjam microwave, misalnya ketika sedang menginap di hotel dan kemudian memasukkan kantung plastik tersebut. Satu kantung plastik bisa digunakan untuk dua kali sterilisasi.
Selain itu, papar Toto, ada juga produk semacam obat untuk proses sterilisasi."Semua botol dan perlengkapannya dimasukkan dalam suatu wadah sehingga terendam air, lalu masukkan tablet. Air yang digunakan bukan air mendidih."
Tak Perlu Sabun Cuci Khusus
Yang jelas, cuci alat makan-minum bayi secara hati-hati. Antara lain, tak ada sisa sabun yang tertinggal. Tak ada larangan maupun anjuran memakai jenis sabun tertentu untuk mencuci peralatan makan-minum bayi.
Tapi kalau merasa ingin lebih aman, kata Anis Dwinastiti, Manajer Produk PT Modern Indocitra, importir perlengkapan bayi bermerek Pigeon, bisa dicoba sabun khusus dari produk bayi. "Bahan kimia yang digunakan tak berbahaya dan terbuat dari bahan-bahan nabati." Tentu saja ada konsekuensinya. Yaitu, harganya lebih mahal.
(sumber:nakita)

Tidak ada komentar: