Senin, 18 Mei 2009

Perawatan Gigi Susu


Gigi susu, sering disebut gigi sulung, gigi sementara, ataupun gigi
desidui, berjumlah 20 buah yang tersusun masing-masing 10 buah pada
rahang atas dan bawah.



Banyak orangtua beranggapan bahwa gigi susu kurang penting, karena
bersifat sementara dan akan digantikan oleh gigi permanen yang dalam
keadaan normal akan berada selamanya di dalam rongga mulut. Ternyata
anggapan itu keliru mengingat peran dan fungsi gigi susu yang sangat
penting.

Fungsi gigi susu

1. Untuk mengunyah guna membantu memudahkan pencernaan dan
penyerapan zat gizi makanan. Hal ini sangat penting mengingat masa
anak-anak adalah masa aktif pertumbuhan dan perkembangan.

2. Aktifitas mengunyah akan merangsang pertumbuhan tulang rahang.
Para orangtua hendaklah 'memberi contoh' dan mengajar anaknya cara
mengunyah makanan yang benar yaitu dilakukan pada kedua sisi rahang
(kanan dan kiri) untuk merangsang agar pertumbuhan tulang seimbang. Bila
anak berkebiasaan mengunyah hanya dengan satu sisi rahang saja, sisi
yang jarang terpakai tampak lebih kotor dibanding sisi yang sering
dipakai mengunyah.

3. Mempertahankan ruangan dalam lengkung gigi sebagai persiapan
pertumbuhan gigi permanen sekaligus menentukan arah pertumbuhan gigi
pengganti. Sebagai contoh gigi geraham susu mempunyai dua akar; di
antara dua akar gigi tersebut terletak benih gigi penggantinya. Arah
pertumbuhan gigi pengganti akan sejalan dengan arah atau jalan
tanggalnya gigi susu.

Apabila gigi susu karena suatu sebab terpaksa dicabut sebelum waktunya,
maka gigi yang terletak di depan ataupun di belakangnya akan bergeser ke
tempat bekas gigi yang dicabut. Ini mengakibatkan kekurangan ruang untuk
gigi permanennya kelak. Gigi pengganti akan kehilangan penuntun arah.
Dampaknya, gigi penggantinya tumbuh berjejal dan salah arah.

4. Berperan dalam pengucapan huruf-huruf tertentu. Kehilangan atau
kerusakan parah pada gigi seri dapat menimbulkan kesulitan pengucapan
huruf-huruf seperti; F, V, S, Z, Th. Namun dapat dikoreksi setelah gigi
penggantinya muncul.

5. Estetika. Bila gigi susu terawat baik punya andil menjaga
estetika; penampilan anak lebih lucu, lebih menarik, dan lebih sehat
kalau mereka tersenyum dengan geligi yang utuh dan bersih.

Kapan gigi susu tumbuh?
Banyak ibu merasa khawatir kalau bayinya telah berumur 6 bulan belum
memiliki gigi. Tumbuhnya gigi dipengaruhi banyak hal, antara lain
riwayat kehamilan dan kelahiran, apakah bayi lahir cukup umur dengan
berat dan panjang badan normal, riwayat kesehatan serta status gizi
bayi.

Menurut penelitian, bayi prematur dan atau berat badan lahir rendah,
pertumbuhan giginya lebih lambat. Bayi dengan status gizi kurang,
pertumbuhan gigi terhambat, karena berkaitan dengan pertumbuhan gigi dan
tulang rahang, sebagai bagian dari pertumbuhan anak secara umum.

Panduan perkiraan waktu tumbuh gigi susu (menurut Lunt & Law)

Rahang Atas

Rahang Bawah

Gigi seri pertama

8-12 bulan (rata-rata 10 bulan)

6-12 bulan (rata-rata 8 bulan)

Gigi seri kedua

9-13 bulan (rata-rata 11 bulan)

10-16 bulan (rata-rata 13 bln)

Gigi taring

16-22 bulan (rata-rata 19 bulan)

17-23 bulan (rata-rata 20 bln)

Gigi geraham pertama

13-19 bulan (rata-rata 16 bulan)

14-18 bulan (rata-rata 16 bln)

Gigi geraham kedua

25-33 bulan (rata-rata 29 bulan)

23-30 bulan (rata-rata 27bln)

Tanda gigi susu akan tumbuh pada bayi umumnya didahului oleh:

* keluarnya ludah yang berlebihan kadang-kadang sampai membasahi
baju
* anak cenderung ingin memasukkan jari-jari tangannya ke dalam
mulut
* anak terlihat gelisah, rewel, kadang nafsu makan menurun. Ini
disebabkan adanya rasa sakit pada gusi karena tertembus gigi yang baru
tumbuh.

Gusi tempat tumbuhnya gigi warnanya tampak lebih merah dibanding
sekitarnya. Rasa sakit, merangsang keluarnya air ludah secara
berlebihan. Hal ini bermanfaat, karena air ludah terkandung komponen
yang bersifat antibakteri guna membantu membersihkan rongga mulut,
sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi. Saat gusi pada
daerah tumbuhnya gigi diraba dengan jari terasa lebih keras, terlihat
warna putih, disertai bentuk gigi yang akan tumbuh.

Peristiwa tumbuhnya gigi susu adalah proses alami yang tidak mengganggu
kesehatan anak, kecuali ada hal lain terjadinya gangguan kesehatan. Yang
perlu diwaspadai adalah kebersihan rongga mulut dan jemari anak.

Memasukkan sesuatu kedalam mulut adalah bagian dari proses perkembangan
anak; sebaiknya jangan dihambat. Yang perlu diperhatikan adalah
keamananan dan kebersihan barang yang masuk dengan kata lain tidak
mencederai dan membawa kuman kedalam mulut penyebab infeksi.
Berkonsultasilah dengan doter anak dan dokter gigi secara berkala untuk
memantau tumbuh kembang anak termasuk giginya.

8 langkah agar gigi susu si kecil sehat

1. Kualitas gigi dan pembentukannya ditentukan sejak janin usia 6
minggu di dalam kandungan. Ibu hamil yang cukup asupan kalsium dan
protein umumnya pertumbuhan gigi dan tulang bayi baik.

2. Pengendalian karies antara lain makanan yang mengandung gula
dan menempel di gigi yang tidak dibersihkan akan menyebabkan kerusakan
gigi.

3. Hendaknya selalu membersihkan sisa makanan setiap anak habis
makan atau minum manis.

4. Bersihkan gigi dan gusi bayi dengan kapas/kasa steril yang
dibasahi air matang. Gosoklah perlahan sehabis menyusu dan diberi makan.

5. Bagi anak yang sudah mampu memegang sikat gigi, ciptakan
suasana menyikat gigi yang menyenangkan, meskipun akhirnya bantuan
orangtua tetap diperlukan.

6. Bimbing anak menyikat gigi dengan sikat gigi khusus anak yang
banyak tersedia di toko terkemuka. Bahkan ada sikat gigi "bertahap"
mulai dari awal tumbuh gigi sampai lengkap gigi susu. Gunakan air masak
untuk kumur agar aman bila tertelan. Bantu anak memegang sikat supaya ia
bisa menggosok bagian dalam dan belakang dengan nyaman dan aman, tidak
melukai pipi dan gusi pada waktu sikat digerakkan.

7. Di bawah usia 4 tahun sebaiknya jangan menggunakan pasta gigi,
dikhawatirkan akan tertelan.

8. Pengenalan pasta gigi dapat dilakukan bila anak telah pandai
berkumur, dengan pengawasan lekat. Beri contoh cara berkumur yaitu
menggerakkan kumuran dan mengeluarkannya dengan keras, tak hanya sekedar
dikeluarkan dari mulut.

Oleh: Prof. DR. Drg. Al. Supartinah, Sp.KGA
Sumber: Mc Donald, R.E & Avery, D.R. Dentistry for the child and
adolescent, Mosby., St Louis.

Tidak ada komentar: