Selasa, 19 Maret 2013

Pelayanan Memuaskan dari Superindo Candisari Semarang

     Pada hari sabtu 16 Maret jam 20.00wib aku dan keluarga belanja di Superindo Candisari Semarang. Suami pengen dimasakkin kolak singkong kesukaannya. Maka akupun ngambil beberapa singkong seberat 0.48kg seharga 4.000. satu singkong ukuran besar dan dua ukuran kecil. Cukuplah untuk kolak. (ke sana bukan cuman belanja singkong aja, sekalian belanja bulanan lah )
     Minggu pagi saat akan diolah, aku terkejut dengan dua singkong yang kondisinya sudah busuk. Gagal deh bikin kolak singkong untuk suami tercinta :'(

     Aku teringat kalo ada fan page Superindo di Facebook. Namanya @Super Indo Supermarket. Akupun mencoba mengajukan keluhan disana. Tidak berharap banyak, hanya menyampaikan keluhan dan berharap tidak ada kejadian serupa. Ternyata respon saya ditanggapi dengan baik dan saya di minta mengirimkan no telpon untuk kemudian di followup ke toko.

     Senin siang 18 Maret sekitar jam 13.00 aku ditelpon penanggungjawab Superindo Candisari Semarang (bapak Ari). Beliau minta keterangan lebih lanjut tentang keluhan saya. Dan bilang akan mengganti singkong yang busuk diantar ke rumah. Wah saya nggak nyangka kalo respon mereka ke customer begitu besarnya. Selasa sore pak Ari berkunjung ke rumah. Selain mengganti dua buah singkong juga membawakan sekeranjang buah-buahan. Alhamdulillah. Aku ucapkan terima kasih utk pelayanan Superindo Candisari Semarang.  Beliau menjelaskan kalo bagian luar singkong terlihat masih baik tapi ternyata dalamnya busuk, itu tidak bisa di kontrol. Oke pak, penjelasan dan parcel buah saya terima. Gak kapok deh belanja lagi disana hehee

Sabtu, 16 Maret 2013

Seminar Bersama Kak Seto : Mendidik Anak Dengan Cinta

     Sabtu tanggal 9 Maret 2013 aku berkesempatan mengikuti Seminar bersama Kak Seto di hotel Horison Semarang dengan tema " Mendidik anak dengan cinta". Tiket aku dapatkan secara free karena menang kuis yang diadakan oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Jateng lewat twitter @aimi_jateng. Sayangnya nggak sempat foto bareng dengan pengurus AIMI :-(

     Kak Seto mengawali acara dengan mengajukan pertanyaan " siapa para orang tua yang hadir, yang mencintai anaknya?" . Dan semua yang hadir angkat tangan. Lalu pertanyaan berikutnya " Siapa yang pernah membentak dan mencubit anaknya?" Sebagian saja yang angkat tangan, sebagian lagi (termasuk saya) senyum-senyum mengiyakan. Siapa yang pagi ini berkata " ilove you pada pasangannya? kasih sayang antara ortu dapat menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga. Lalu kak Seto melanjutkan dengan mendongeng.

     Ada anak macan dan anak burung. Anak burung pintar terbang tinggi. Dan ibu burung memberikan pujian. Lalu ibu burung melihat anak macan yang lincah berlari dan memanjat pohon ingin anak burung juga bisa seperti itu. Padahal anak burung tidak bisa akibatnya dia kelelahan dan kemampuan terbangnya menurun menjadi 50-60% saja. Begitu juga dengan ibu macan yang bangga dan memberikan pujian ketika anak macan lincah berlari kencang dan gesit memanjat pohon, tetapi melihat anak burung yang pintar terbang maka ibu macan menyuruh anak macan belajar terbang. Akibatnya anak macan kelelahan dan kemampuan berlari menjadi 50-60% saja. Kata Kak Seto, itu banyak terjadi juga di.Jakarta. Ketika anak mendapat nilai 8 untuk matematika maka ortu akan bangga dan memberikan pujian. Tapi begitu nilai mata pelajaran yang lain jelek, anak akan diikutkan les ini dan itu. Itu banyak ditemui di Jakarta,kalau di Semarang ga ada ya bu? tanya kak Seto. Lagi-lagi dijawab senyum dan tertawa kecil para hadirin karena merasa tersindir.
Gambar proyektor kemudian menampilkan burung belikat bisa minum di botol karena bentuk paruh yang panjang, kalau burung belikat minum di piring tentu akan susah baginya. Begitu juga dengan kucing yang secara mudah minum dipiring tetapi akan susah bila minum melalui botol. Begitu juga dengan cara belajar anak. Ada anak yang cara belajarnya kinestetis (dia aktif, kaki goyang-goyang, tangan gerak saat belajar) tapi dengan cara itu dia menyerap pelajaran. Seperti anak pertama saya (Arfa Rahman Riyansa) diketahui gaya belajar yang tepat adalah kinestetik, saat ikut test fingerprint untuk mengetahui gaya belajarnya.

     Kak seto menyebutkan bahwa Kurikulum pendidikan di Indonesia terlalu berat. Ada anak SD yang tampak kelelahan untuk sekedar berjalan karena tas di punggungnya seperti ransel tentara. Berat dan besar. Lalu kak seto bercerita ; ada tindak kekerasan yang dilakukan di lingkungan sekolah yaitu bully-ing. Ini adalah salah satu akibat karena anak mendapat banyak tekanan. Ortu merasa bangga kalo anak penurut, mengerjakan segala sesuatu yang diminta ortu (gambar ilustrasi : anak dengan badan robot dan ortu yang memegang remote).

     Pemerintah mencanangkan program wajib belajar, bukan wajib sekolah. Jadi sebenarnya belajar bisa dimana saja, bisa kapan saja dan bisa dengan siapa saja. Seperti anak kak seto yang pertama sekolah hanya sebentar , karena melihat bully-ing hingga akhirnya memutuskan untuk homeschooling (HS). Program HS juga bisa mengikuti ujian dengan cara kejar paket (A,B. atau C).

     Jika ingin menjadi ortu yang baik, jadilah artis serba bisa untuk anak-anak. Jadilah penyanyi, Jika anak mau tidur nyanyikan ajakan tidur (nada dan lirik bisa dibuat sesuka hati :-) ). Jadi pelawak, jadi pesulap, jadi pendongeng dll.

    Kak seto juga menasehati jangan pernah membentak atau memarahi anak karena ini akan membuat anak sakit, dan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Di sela-sela acara, Kak seto juga mengajak para ortu untuk bernyanyi dan menari bersama. Seru!
    

Selasa, 12 Maret 2013

Menata Hati Saat Keguguran

     Kehilangan buah hati yang masih ada dalam kandungan adalah peristiwa yang paling membuatku sedih. Walaupun kejadiannya sudah lama berlalu yaitu sekitar awal Januari 2013 tapi masih saja aku merasa bersalah jika mengingatnya. Apalagi saat aku ultah awal Maret ini ada kawan yang mengucapkan "selamat menyambut kehadiran si kecil yang baru" . Deg..jantungku terasa berhenti berdetak. Dia mungkin belum tahu kalau aku keguguran. Beberapa kawan memang tahu aku hamil muda tapi hanya keluarga dan sahabat yang tahu si kecil sebelum bertemu mamahnya telah bertemu dahulu dengan Sang Pencipta .

     Aku hamil lagi ketika anak kedua (Barra Ramadhan Riyansa) berumur 16 bulan. Saat itu aku masih menyusui Barra. Aku mencari info tentang NWP (Nursing While Pregnant) atau menyusui saat sedang hamil. Dari refesensi yang aku baca dan nasehat seorang Konselor Laktasi di sebuah grup ASI di socialmedia menyatakan ; ibu hamil masih tetap bisa menyusui dengan syarat :
*Tidak pernah keguguran 
*Tidak ada kejadian lahir
   prematur
*Tidak kontraksi saat menyusui
*Tidak flek/pendarahan saat
    menyusui

     Sampai kehamilan awal 10 minggu semuanya berjalan lancar. Aku tidak pernah tanda-tanda tersebut. Lalu tiba-tiba di pertengahan minggu ke 10 aku mengalami flek/sedikit pendarahan. Aku pikir karena kelelahan, karena sehari sebelumnya aku bersih-bersih kamar dan mengangkat kardus berisikan mainan anak-anak. Seharian aku bedrest. Aku juga mulai latihan menyapih Barra. Caranya melatih menyapih yaitu ;
*Tidak menyodorkan payudara jika anak tidak ingin menyusu *Memberikan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) lebih sering
*Jika anak ingin menyusu, coba tawarkan air putih atau jus buah sebagai pengganti ASI
*Tidak mengingatkan kebiasaan anak tentang keinginannya menyusu. Kalau Barra tempat favoritnya adalah di kasur. Jadi aku upayakan agar dia tidak main-main di kasur. Hanya saat akan tidur saja.

     Bedrest dan mengurangi menyusui sudah aku lakukan. Aku juga periksa ke dokter diberi obat kalnex (penghenti pendarahan). Upaya untuk mempertahankan kehamilan sudah aku lakukan secara maksimal. Namun aku tetap kehilangan calon anakku diusia awal 11 minggu. Aku mengalami pendarahan hebat awal Januari 2013. Kemudian aku ketahui saat USG kantong janin sudah tidak ada. Dokter menyarakan kuretase, tapi karena takut aku memilih diberi obat untuk meluruhkan sisa-sisa jaringan.

     Aku mengalami fase berduka. Fase ini aku lalui bersama suami. Kami sama-sama berduka. Perasaan bersalah justru membuat ASI ku seret. Karena memang keluarnya ASI dipengaruhi faktor psikis. Aku tambah semakin merasa bersalah, karena Barra sering rewel. Kemudian suami sudah bangkit kembali. Suamiku memberikan semangat, memijat punggung yang kadang merasa nyeri atau sekedar mengompres dengan air hangat di perutku. Kata dokter, keguguran sebelum 14minggu kemungkinan besar karena janin bermasalah atau tidak berkembang. Teman-teman konselor laktasi yang dulu men-support untuk NWP ketika tahu aku keguguran juga memberikan semangat, menghibur serta mendoakan. Aku juga membaca hadist yang menyebutkan bahwa janin yang meninggal dalam kandungan ibunya, akan menarik ibunya dengan pusarnya ke surga.Aamiin..

     Aku dan suami mengambil hikmah atas peristiwa ini. Banyak hal yang akhirnya kami rencanakan setelah aku keguguran. Termasuk mempersiapkan kehadiran buah hati ke tiga. Insya Allah...