Sabtu, 16 Maret 2013

Seminar Bersama Kak Seto : Mendidik Anak Dengan Cinta

     Sabtu tanggal 9 Maret 2013 aku berkesempatan mengikuti Seminar bersama Kak Seto di hotel Horison Semarang dengan tema " Mendidik anak dengan cinta". Tiket aku dapatkan secara free karena menang kuis yang diadakan oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Jateng lewat twitter @aimi_jateng. Sayangnya nggak sempat foto bareng dengan pengurus AIMI :-(

     Kak Seto mengawali acara dengan mengajukan pertanyaan " siapa para orang tua yang hadir, yang mencintai anaknya?" . Dan semua yang hadir angkat tangan. Lalu pertanyaan berikutnya " Siapa yang pernah membentak dan mencubit anaknya?" Sebagian saja yang angkat tangan, sebagian lagi (termasuk saya) senyum-senyum mengiyakan. Siapa yang pagi ini berkata " ilove you pada pasangannya? kasih sayang antara ortu dapat menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga. Lalu kak Seto melanjutkan dengan mendongeng.

     Ada anak macan dan anak burung. Anak burung pintar terbang tinggi. Dan ibu burung memberikan pujian. Lalu ibu burung melihat anak macan yang lincah berlari dan memanjat pohon ingin anak burung juga bisa seperti itu. Padahal anak burung tidak bisa akibatnya dia kelelahan dan kemampuan terbangnya menurun menjadi 50-60% saja. Begitu juga dengan ibu macan yang bangga dan memberikan pujian ketika anak macan lincah berlari kencang dan gesit memanjat pohon, tetapi melihat anak burung yang pintar terbang maka ibu macan menyuruh anak macan belajar terbang. Akibatnya anak macan kelelahan dan kemampuan berlari menjadi 50-60% saja. Kata Kak Seto, itu banyak terjadi juga di.Jakarta. Ketika anak mendapat nilai 8 untuk matematika maka ortu akan bangga dan memberikan pujian. Tapi begitu nilai mata pelajaran yang lain jelek, anak akan diikutkan les ini dan itu. Itu banyak ditemui di Jakarta,kalau di Semarang ga ada ya bu? tanya kak Seto. Lagi-lagi dijawab senyum dan tertawa kecil para hadirin karena merasa tersindir.
Gambar proyektor kemudian menampilkan burung belikat bisa minum di botol karena bentuk paruh yang panjang, kalau burung belikat minum di piring tentu akan susah baginya. Begitu juga dengan kucing yang secara mudah minum dipiring tetapi akan susah bila minum melalui botol. Begitu juga dengan cara belajar anak. Ada anak yang cara belajarnya kinestetis (dia aktif, kaki goyang-goyang, tangan gerak saat belajar) tapi dengan cara itu dia menyerap pelajaran. Seperti anak pertama saya (Arfa Rahman Riyansa) diketahui gaya belajar yang tepat adalah kinestetik, saat ikut test fingerprint untuk mengetahui gaya belajarnya.

     Kak seto menyebutkan bahwa Kurikulum pendidikan di Indonesia terlalu berat. Ada anak SD yang tampak kelelahan untuk sekedar berjalan karena tas di punggungnya seperti ransel tentara. Berat dan besar. Lalu kak seto bercerita ; ada tindak kekerasan yang dilakukan di lingkungan sekolah yaitu bully-ing. Ini adalah salah satu akibat karena anak mendapat banyak tekanan. Ortu merasa bangga kalo anak penurut, mengerjakan segala sesuatu yang diminta ortu (gambar ilustrasi : anak dengan badan robot dan ortu yang memegang remote).

     Pemerintah mencanangkan program wajib belajar, bukan wajib sekolah. Jadi sebenarnya belajar bisa dimana saja, bisa kapan saja dan bisa dengan siapa saja. Seperti anak kak seto yang pertama sekolah hanya sebentar , karena melihat bully-ing hingga akhirnya memutuskan untuk homeschooling (HS). Program HS juga bisa mengikuti ujian dengan cara kejar paket (A,B. atau C).

     Jika ingin menjadi ortu yang baik, jadilah artis serba bisa untuk anak-anak. Jadilah penyanyi, Jika anak mau tidur nyanyikan ajakan tidur (nada dan lirik bisa dibuat sesuka hati :-) ). Jadi pelawak, jadi pesulap, jadi pendongeng dll.

    Kak seto juga menasehati jangan pernah membentak atau memarahi anak karena ini akan membuat anak sakit, dan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Di sela-sela acara, Kak seto juga mengajak para ortu untuk bernyanyi dan menari bersama. Seru!
    

Tidak ada komentar: