Selasa, 11 Juni 2013

SIM L Untuk Suamiku

Kulihat akhir-akhir ini suamiku tercinta sangat sibuk. Bukan sibuk atau lembur pekerjaan di kantor tapi kegiatan yang aku sendiri tidak mengerti apa tujuannya. Sudah seminggu ini suamiku bongkar-bongkar laci lemari di kamar tidur kami. Beberapa arsip seperti Kartu Keluarga dan buku nikah dikeluarkan dan dibawa pergi. Ketika aku bertanya tentang kegiatan yang dikerjakannya, suamiku hanya tersenyum dan bergegas pergi.

Minggu pagi yang cerah, udara sangat segar setelah diguyur hujan semalaman. Aku dan suami duduk santai di teras depan sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng. Suamiku tampaknya tidak konsentrasi membaca koran yang sedang dipegangnya. Sesekali matanya menatap pagar rumah kami seperti menunggu tamu. Benar saja dugaanku, tak berapa lama Pak Kasduri, pegawai kelurahan sudah berdiri dan memberi salam kepada kami " Selamat pagi Pak Bayu, Bu Bayu. Maaf saya pagi-pagi sudah mengganggu" kata Pak Kasduri sambil tersenyum canggung kepadaku. Suamiku dengan bergegas membukakan pintu pagar dan mempersilahkan tamunya untuk duduk. Aku sengaja tidak beranjak dari tempatku duduk. Rasa penasaran akan kesibukkan suamiku seminggu ini membuatku tak bisa menahan pertanyaan. " Ada keperluan apa ya Pak. Tumben Minggu pagi sepertinya sibuk sekali" tanyaku pada Pak Kasduri. Pak Kasduri terlihat gugup. Beliau menyerahkan amplop besar dan berkata " Bapak sedang mengajukan pembuatan SIM" jawab Pak Kasduri. " SIM? Surat Ijin Mengemudi" tanyaku sekali lagi. Pak Kasduri bukannya menjawab malah permisi pamit.

Peristiwa aneh tadi pagi masih membuatku penasaran. Sore ini aku akan minta penjelasan. Kudekati suamiku yang sedang menonton televisi. " Mas, mau buat SIM apalagi sih, bukankah mas sudah punya SIM A dan SIM C?" tanyaku lembut. Suamiku menghela nafas dan tersenyum. " Mas, sedang dalam proses pengajuan SIM L dik, tolong disetujui ya?" kata suamiku. Aku semakin bingung, kenapa aku dilibatkan dalam urusan SIM itu. " SIM L apa sih mas?, memangnya ada?" tanyaku penasaran. " Surat Ijin Menikah Lagi" jawab suamiku kalem. Haah, aku terkejut dan kurasakan dunia jadi berputar dan gelap.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway bunda Hana

Selasa, 04 Juni 2013

Cinta Itu Gila, Kapten!

     Lelaki yang duduk dihadapanku sangat menawan. Kulit hitam manis, rambut cepak khas militer, badan tegap dan senyum menawan. Aah menatap bola mata yang tajam nan teduh miliknya, mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Kapten Bhirawa nama pria yang sekarang menggegam erat tanganku sambil menatapku mesra penuh cinta. Kami baru saja berkenalan 25 menit yang lalu di taman ini. Tak sengaja tubuh kami bertabrakan saat aku berjalan sambil membaca sms. Bermula dari basa-basi saling minta maaf lalu kami mulai perkenalan. Udara kota Surabaya yang panas tak menghalangi kami untuk duduk berlama-lama di taman kota ini.

     Cinta pada pandangan pertama, cinta kilat, cinta tak kenal logika itulah yang aku rasakan. Aku yang sudah jomblo selama setahun ini merasa berbunga-bunga ketika takdir Surat cinta kami bertemu. " Esti, aku ingin melamarmu " sambil berkata dia mengeluarkan kotak perhiasan mungil. "Sekarang? Disini?" tanyaku gugup. Dia mengangguk mantap tanpa keraguan. Aku bingung, yang semula aku bahagia kini dipenuhi tanda tanya

     Jarak 150 meter dari tempatku duduk aku melihat dua pria berseragam putih berlari kearah kami. Tiba-tiba keduanya menyergap Kapten Bhirawa. Satu orang berseragam putih itu lalu mengeluarkan jarum suntik dan sang kapten cintaku lemah tak berdaya karena obat bius. " Hei, ada apa ini?!" teriakku panik. Salah satu pria berseragam putih dengan tulisan Rumah Sakit Jiwa Menur mendatangiku dan berkata " maaf mbak, pria yang mengaku bernama Kapten Bhirawa adalah pasien kami yang sedang melarikan diri. Dia depresi sejak tiga tahun lalu karena selalu gagal mengikuti ujian masuk Akademi Kepolisian dan tunangannya menikah dengan pria lain " Hahhh, aku terkejut dan tiba-tiba dunia serasa berputar dan gelap.
 
Tulisan ini diikutsertakan dalam Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta