Selasa, 17 Desember 2013

Aku Hamil!, Saatnya Menyapih Barra


Keajaiban adalah menemukan seorang bayi tumbuh di dalam tubuhku.

Hal yang tidak terduga adalah ketika aku mendapati strip merah dua pada tespack pagi ini. Bagaimana tidak terkejut?, karena jika aku hamil ini adalah kehamilanku yang ke enam kali. Saat itu aku masih menyusui Barra Ramadhan Riyansa, putra keduaku yang berumur 2 tahun 1 bulan. Sebelumnya aku pernah hamil dan mengalami keguguran, saat aku hamil di usia Barra menginjak satu tahun. Cerita aku pernah keguguran ada disini. Aku tidak pernah menyangka aku akan hamil lagi secepat ini. Karena kehamilan anak ketiga kami rencanakan setelah Barra akan duduk di bangku taman kanak-kanak. Ternyata manusia memang hanya dapat merencanakan dan Tuhan yang menentukan segalanya. Hamil di saat menyusui tentunya akan banyak hal yang perlu jadi perhatian. Dokter kandungan saya menyarankan saya untuk mulai mengurangi dan kemudian menghentikan proses menyusui. Boleh-boleh ibu hamil masih menyusui dengan cara ;

·         Tidak pernah melahirkan secara prematur

·         Tidak pernah mengalami keguguran

·         Apabila terjadi kontraksi atau pendarahan maka segera menghentikan menyusui.

 




Barra umur setahun
 
 

Saat kehamilanku berusia 6 minggu, Barra masih menyusu dan banyak saran yang aku terima untuk menyapihnya secara “ instan”. Cara menyapih yang cepat adalah dengan membuat anak takut saat melihat atau mendekati payudara ibu. Bisa dengan cara mengoleskan bahan-bahan yang pahit seperti temulawak, minyak jintan hitam atau dengan cara mengolesi payudara ibu dengan lipstik. Cara yang lebih “sadis” yang pernah saya terima adalah dengan menempelkan isolasi atau plester pada putin payudara sehingga anak akan kesulitan dan akhirnya menyerah untuk menyusu. Semua cara saya tolak mentah-mentah karena saya ingin menyapih anak saya dengan penuh rasa cinta seperti pada saat saya menyusuinya dulu dengan penuh cinta. Maka saya berusaha untuk mengkomunikasikan hal ini pada Barra. Saya ajak di bicara “ Barra sekarang sudah besar, sudah tidak nenen lagi ya, kalau haus minum air di gelas”. Cara ini harus saya lakukan secara terus menerus sampai dia paham dan berhenti menyusu.


Saat menyusui peran ayah (suami) sangat berarti. Saat menyusui saya berbagi tugas dengan suami. Suami menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah asi dengan memandikan Barra, menyuapi, mengajak jalan-jalan setelah mandi dan bermain. Saat proses menyapih Barra, saya dan suami juga berbagi tugas. Suami mempunyai peran saat Barra bangun tengah malam dan sedikit rewel karena ingin menyusu, maka ayahnya akan menggendong, memberinya air di digelas dan kembali menindurkan Barra. Proses menyapih dengan penuh cinta ini lebih indah daripada dengan cara instan .

 Sekarang di usia kehamilan 15 minggu, Barra sudah mau berhenti menyusu tanpa dia merasa takut atau cemas karena tidak ada yang memaksa dia.

3 komentar:

tiza mengatakan...

Wah Arfa ma Barra mau dapat adek? Selamat ya maaaak...

desy riyanto :) mengatakan...

Salam kenal mba,,sy jg punya anak, El, umur 1 tahun yang masi menyusu, sedangkan sy hamil lg. Kehamilan yang terlalu cepat dari yang direncanakan jg. Dokter menyarankan untuk sesegera menyapih. Saya pun tak mau cara instan karena bisa menyakiti hati anak. Namun dg komunikasi seperti mba lakukan dengan bicara dan pillow talking selama 1 bulan ini belum berhasil mba, bahkan sepertinya El makin sering dan lama saat mnyusu seakan takut kehilangan. Sy minta sarannya y mba, sy sebaiknya bagaimana lg, karena orang tua jg menyarankan yg instan, sementara El belum menyukai susu formula. Terima kasih

N Sri Handayani mengatakan...

Bagus sekali mba... saya senang membacanya.

selamat juga untuk Arfa sudah punya ibu dan ayah yang super.

salam kenal mba.