Rabu, 04 Desember 2013

Kakakku Sayang



Cerpen Anak ini di muat di Majalah Ummi Rubrik Permata edisi bulan oktober 2013
Pagi ini begitu aku bangun tidur, kudengar suara gaduh dari kamar sebelah,beberapa barang jatuh seperti habis dilempar. Aku juga mendengar suara kakakku menangis. Aku kemudian menuju kamar kamar kakak yang tepat disebelah kanan kamarku. Pintunya setengah terbuka, kuintip dan kulihat Ibu sedang membereskan barang-barang yang berserakan. Ada buku tulis yang sudah sobek bagian sampulnya, pensil warna yang berhamburan dari wadahnya dan mainan puzzle angka milik kakak juga berserakan di lantai. Lalu kulihat ibu pelan-pelan menghampiri kakak dan memeluknya. Sambil berkata penuh kelembutan, bertanya kenapa kakak marah pagi ini. Aku melihat ini semua dengan penuh rasa sebal. Kenapa sih, ibu sayang banget sama kakak, ibu lebih memanjakan kakak. Aku saja setelah bermain bisa membereskan mainanku sendiri. Ibu juga lebih perhatian sama kakak. Tak terasa mataku memerah lalu mulai menangis. Menangis karena cemburu. Bergegas aku kembali ke kamar, aku tidak ingin ibu melihat aku menangis kemudian aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah
***



Tetttt...Tetttt...Tettt bel panjang SD Ar Ridho berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai. Tepat jam 12.30 Wib, untuk siswa kelas 4-6 waktunya pulang. Begitu juga dengan aku yang duduk di kelas 4. Bergegas kubereskan buku-buku dan dan alat tulisku. Kirana, temanku sebangku berkata " Keisya, hari ini aku mau main kerumahmu ya. Aku sudah minta ijin mamahku" Aku terdiam. Main ke rumah, lalu bagaimana nanti kalo Kirana tahu tentang kakakku yang... "Hei, ditanyain kok malah melamun" Kirana menepuk pipiku pelan. Aku gugup. Bingung harus jawab apa. " Gimana boleh tidak aku main ke rumahmu?" tanyanya sekali lagi. Aku menggeleng pelan "maaf ya,mungkin lain hari" Kulihat raut muka Kirana menampakkan kekecewaan. Maafkan aku ya sahabat...
Sesampainya dirumah, kulihat ibu sedang menata meja makan. " Assalamualaikum Bu" kusapa lalu kucium tangan ibu. "Wa'alaikumsalam" jawab ibu sambil mencium pipiku. " Ganti baju, shalat lalu makan siang bareng ibu ya Nak" Aku hanya mengangguk. Setelah selesai ganti baju, shalat aku menyusul ibu ke meja makan. Ibu sudah mengambilkan nasi, sop brokoli dan paha ayam untukku. "Gimana tadi pelajaran di sekolah, Nak?" tanya ibu. Aku hanya menjawab singkat "baik bu". Selama makan aku lebih banyak diam. Lalu kudengar pintu kamar kakak terbuka dan kulihat kakak keluar sambil mulut menguap lebar. Ibu bergegas berdiri dan berjalan ke arah kakak. "Eehh, sudah bangun ya...sudah pipis belum? Sana pipis dulu, kalo gak nanti kakak ngompol" ibu berkata sambil menuntun kakak ke kamar mandi. Setelah kakak keluar dari kamar mandi mereka menuju ke arahku, ibu dan kakak duduk di meja makan berhadapan denganku. "Kakak makan ya, tadi pulang therapi, kakak kecapekkan langsung tidur". Ibu mengambil lagi sebuah piring dan mengisinya dengan nasi,sop brokoli dan sayap ayam lalu diletakkan di hadapan kakak. " Ayo kakak makan ya". "MA-KAN". "KA-KAK MA-KAN". "MA-KAN SOP BRO-KO-LI" kata ibu kepada kakak. Kata itu ibu ulang-ulang terus selama kakak makan. Setelah selesai makan, akupun berdiri "Keisya sudah kenyang, sekarang ngantuk dan mau tidur bu" . Ibu tersenyum dan mengangguk. Sambil menuju kamar aku masih mendengar ibu berkata pada kakak "MA-KAN". "MA-KAN SOP BRO-KO-LI". Sampai di kamar aku nggak bisa tidur. Masih teringat permintaan sahabatku Kirana. Tadi siang bukanlah permintaannya yang pertama untuk main ke rumahku. Tapi aku selalu menolak dengan alasan yang kubuat sendiri. Dia teman yang baik, aku tidak mau kehilangan teman sebaik Kirana hanya karena tahu bahwa kakak sahabatnya seorang penyandang autis. Diumurnya yang sudah 12 tahun, kakak belum bicara secara lancar,dia kadang tidak menjawab saat ada orang mengajaknya bicara,terkesan cuek. Kadang kakak juga masih mengompol. Suka marah tanpa alasan yang dapat kumengerti. Kakakku jika diajak main keluar suka masuk rumah orang tanpa permisi hanya sekedar melihat kipas angin yang berputar yang terpasang di dinding. Kakakku suka digangguin anak kecil bahkan pernah aku mendengar ada anak TK di komplek perumahan menyebut kakakku gila. Ketika aku mengadukan hal tersebut kepada ibu, ibu berkata " kakak itu beda, kakak anak spesial. Kakak adalah penyandang ASD (Autis Spektrum Syndrome). Tiba-tiba aku merasa kasihan dengan kakak tapi juga merasa sebal dengan segala kekurangan kakak. Semuanya campur aduk di hati yang akhirnya membuatku lelah dan tertidur.


***     


Jam 15.30 wib aku terbangun dari tidur siangku. Setelah mandi, shalat Asar akupun duduk di meja belajarku. Kubuka dan kubaca kembali pelajaran tadi siang di sekolahan. Lalu kudengar adzan Maqrib berkumandang. Aku mengambil mukena dan keluar kamar. Kebiasaan di keluargaku adalah shalat Maqrib dan Isya berjamaah di Mushola kecil di rumah kami. Kulihat ayah sudah siap dengan sarung dan peci putihnya. " Assalamualaikum ayah" sapaku sambil mencium tangan ayah. "Wa'alaikumsalam Keisya sayang putri ayah yang cantik" goda ayah. Aku tersenyum. "Maaf ya ayah tadi ketika ayah pulang, Keisya tidak keluar kamar. Masih belajar, nanggung kurang dikit yah" kataku pada ayah. " Nggak papa sayang, nanti setelah makan malam, ayah mau bicara ya Nak" jawab ayah. Aku mengangguk. Ada apa ya, tumben ayah serius sekali, pikirku. Lalu kulihat kakak dan ibu sudah menggelar sajadah. Kamipun shalat Maqrib berjamaah.

Saat makan malam tiba, Ibu sudah menyiapkannya. Menu kali ini adalah favoritku. Nasi goreng special telur dan ayam buatan ibu paling enak. Ibu kali ini lebih banyak bercerita pada ayah. Kakak makan sendiri,walau masih berceceran nasinya di meja makan. "Alhamdulillah, tadi saat therapi wicara kakak sudah dapat mengucapkan kata baru lho yah" kata Ibu. "Therapis kakak bilang kalau kakak sudah mau bilang kata ; cantik dan terima kasih". "Kakak juga sudah mau mengucapkan salam dan menjawab salam" lanjut ibu yang tampaknya semangat sekali menceritakan perkembangan kakak. " Alhamdulillah" kata ayah sambil tersenyum dan menatap bangga ke arah kakak. Huuh, kakak lagi, kakak lagi yang diperhatikan. Tiba-tiba selera makanku jadi hilang.

Setelah selesai makan, aku duduk disamping ayah di sofa yang terletak di ruang keluarga. Ibu sedang membereskan meja makan. Kakak sedang asyik main dengan laptop ayah. Kebiasaan itu tidak pernah terlewatkan. Pernah suatu ketika ayah lupa membawa laptop pulang ke rumah, kakak mencari laptop di tas ayah sampai semua benda di dalam tas ayah dikeluarkan. Karena tidak menemukan laptop yang dicarinya, kakak marah-marah. Dan ibu yang menenangkan kakak. "Kok melamun Nak" tanya ayah sambil memegang kening dan pipiku. "Kata ibu, tadi Keisya lebih banyak diam. Apa kau sakit?" Aku menggeleng. Rupanya ibu memperhatikan saat makan siang aku lebih banyak diam. "Lalu ada apa Nak?" tanya ayah lebih lanjut. Akupun kemudian menceritakan tentang permintaan sahabatku Kirana untuk main ke rumah dan kekhawatiranku kalo Kirana tahu kakakku penyandang autis dia akan menjauhiku. Ayah memandangiku dengan lembut. Ibu kemudian duduk disampingku sambil mengelus rambutku. Ayah menghela nafas panjang sebelum berkata " Ajaklah Kirana main ke rumah kita. Ayah yakin Kirana akan tetap jadi sahabatmu". "Keisya lihat kakak, kakak mungkin tidak sama seperti anak-anak yang lain tapi kakak tetaplah kakak kandung Keisya". "Keisya tidak boleh malu karena kakak walaupun memiliki kelemahan tapi kakak juga memiliki kehebatan". Memang benar, kakakku sangat jago menggambar. Bahkan beberapa kali kakak memenangkan perlombaan menggambar yang pesertanya bukan hanya untuk anak berkebutuhan khusus saja tapi lomba gambar untuk umum. Ayah melanjutkan perkataannya "Kalau nanti Kirana tanya kenapa kakak seperti ini, Keisya bisa menjelaskan karena Allah sayang sama kakak". "Allah juga sayang dengan keluarga kita, maka Allah menitipkan kakak pada ayah dan ibu". "Allah percaya ayah dan ibu dapat merawat dan mendidik anak seistimewa kakak dan sekaligus membesarkan anak secantik dan sepintar Keisya". Aku mengangguk dan meresapi nasehat ayah. Lalu ibu berkata " Ibu juga minta maaf ya nak kalo akhir-akhir ini perhatian ibu lebih banyak ke kakak". "Kakak menjelang baliqh dan hal ini membuat emosi kakak jadi tidak menentu karena perubahan pada diri kakak". Ibu berkata sambil terus membelai lembut rambutku. "Ibu juga bangga sekali dengan Keisya". "Oh iya Keisya masih selalu mendoakan ayah, ibu dan kakak kan?". Aku terdiam dan menggigit bibir. Sejak tadi siang shalat Zuhur sampai Maqrib aku tidak menyebut nama kakak dalam doaku. Aku pun beristiqhfar... Lalu aku berkata
"Iya bu, mulai besok setelah selesai shalat Keisya akan selalu mendoakan ayah dan ibu agar selalu diberi perlindungan,kesehataan dan kekuatan iman dalam mendidik anak-anaknya". "Keisya juga akan mendoakan kakak semoga kakak selalu sehat,tambah pintar dan bisa mandiri". Ayah dan ibu kompak mengamini doaku sambil keduanya memelukku. Aku berjalan mengampiri kakak yang sedang duduk di karpet. "Kakak sayang" sapaku. Kakak tidak menjawab dia bahkan masih asyik sendiri. Aku memegang dagunya, kuarahkan ke hadapanku sehingga kakak menatapku. Cara ini yang biasa ayah dan ibu lakukan ketika mengajak kakak bicara. Aku mengulang lagi "KEI-SYA SA-YANG KA-KAK. Kakak masih diam kali ini kulihat matanya berbinar dan bibirnya bergerak akan mengatakan sesuatu. "I-ya". jawab kakak singkat. Lalu kakak terdiam. Dia seperti sedang berpikir. "Kakak sayang cantik kes-shaa. Ayah dan ibu yang mendengar kata-kata kakak begitu terkejut dan mereka berseru memuji Asma Allah, ibu tampak bahagia dan terharu. karena ini adalah kalimat panjang dan paling lengkap yang pernah kakak ucapkan. Ayah dan ibu lalu menghampiri kami dan memeluk kami berdua. Kami semua menyayangi kakak, dengan cinta dan kasih sayang dari kami maka suatu saat nanti kakak akan mandiri dan membuat kami bangga. Insya Allah...

 

3 komentar:

lisa lestari mengatakan...

terharu bacanya

Vinny Martina mengatakan...

Aaah terharuu..

Vinny Martina mengatakan...

Aaah terharuu..