Selasa, 04 Februari 2014

Kopdar Ibu Ibu Doyan Nulis Semarang bersama Teh Indari Mastuti

Tanggal 2 Februari 2014, IIDN Semarang mendapat kesempatan untuk kopdar dan sharing dengan founder IIDN yang cantik Teh Indari atau akrab dengan sapaan teh Iin. Kopdar diawali dengan sharing anggota IIDN Semarang. Anggota yang hadir diminta untuk sharing tentang grup IIDN, beberapa anggota mengetahui grup IIDN atau profile  teh Iin dari tabloid seperti Nova, Sekar atau Wanita Indonesia, atau dengan searching IIDN di internet. Beberapa anggot mengawali karier sebagai penulis setelah gabung dengan grup IIDN. Termasuk saya. Sedikit cerita, saya pertama kali ikut kopdar IIDN Semarang pada bulan Februari 2013, lalu pada bulan Maret 2013 saya melihat status di grup bahwa sebuah penerbit di ibukota membutuhkan beberapa naskah parenting, novel, asi, kehamilan dll. Saya coba mengajukan naskah tentang asi eksklusif, karena saya yang tergabung di beberapa komunitas ibu menyusui sudah mempunyai ide atau kerangka pemikiran tentang asi  eksklusif. Dan pada bulan Mei 2013 saya mendapat jawban bahwa naskah yang disetujui untuk diterbitkan *sujud syukur. Beberapa anggota juga mempunyai pengalama-pengalaman menakjubkan tentang IIDN yang pastinya baik founder, korlap, member senang berbagi ilmu J

Lalu teh Iin melanjutkan dengan perkenalan dan sekilas tentang profilenya. Pertama kali menulis dan dikirim ke media ( Majalah Gadis) saat kelas 1 SMA dan mendapat honor 150.000,-. Woww...lumayan besar juga yaa...dorongan untuk menulis ini didapat dari ayahanda yang seorang advokat dengan mengatakan “ kamu akan mendapat uang dari hasil kamu sendiri”. Kelas 1 sma apa yang bisa dihasilkan dari remaja usia belasan tahun, akhirnya teh Iin menulis dan inilah awal kariernya sebagai penulis terkenal. Beberapa ikut kompetisi selalu jadi juara sampai tingkat nasional. Dan sekarang beliau mencoba untuk ikut kompetisi  dengan taraf internasional.. woww salutt semoga sukses ya teh...

Lulus SMA, teh iin bekerja sebagai seorang jurnalis dan kemudian pindah di perusahaan telekomunikasi. Berkat kemampuan menulisnya teh Iin melonjak kariernya dan dipercaya untuk menulis personal branding beberapa perusahaan. Tahun 2007  saat akan menikah teh Iin memutuskan untuk resign dan mendirikan agensi naskah. Padahal saat itu karier sedang meningkat dan gaji yang besar. Teh Iin tetap yakin bahwa agensi naskah, yang saat itu masih jarang di Indonesia akan menghasilkan sesuatu yang besar manfaatnya. Lalu kemudian teh Iin mendirikan IIDB ( Ibu-Ibu Doyan Bisnis) dan Sekolah Perempuan...Semuanya berkembang dengan cepat. IIDN dan IIDB saat ini mempunyai anggota 24.000 member.

Menulis itu bukan bakat tapi sebuah proses. Proses awal yaitu menulis, menulis dan menulis. Setelah menulis dan dikirim ke penerbit atau agensi naskah jika diterima akan melalui proses revisi. Setelah buku tercetak, tugas penulis tidak berhenti sampai disini tapi dengan promosi buku. * SEMANGKA * Semangat karna Allah J

Tanya-Jawab dengan teh Iin

·         Jika mengirim naskah selalu di tolak apakah penulis akan akan di- black list oleh penerbit? -> penulis tidak akan di black list, justru akan diingat namanya oleh penerbit sebagai penulis yang selalui ditolak hehe...

·         Mengirimkan ke penerbit, apakah berupa outline atau naskah utuh? -> setiap penerbit mempunyai syarat dan ketentuan yang berbeda. Kenali masing-masing penerbit.

·         Bagaimana cara naskah diterima agensi atau penerbit? -> naskah harus up to date, seperti misalnya saat ini tema arsitektur bagaimana cara membuat rumah tahan banjir pasti akan laris J, dan jangan lupa untuk membuat profile diri yang menarik. Jika ingin membuat buku memasak, jangan katakan kita hanya ibu rumah tangga saja tapi juga ibu yang hobi memasak dan masakannya disukai oleh keluarga dan tetangga, jika kita menulis buku arsitek jangan katakan kita hanya ibu rumah tangga tapi juga kita tergabung dalam komunitas arstiek dll..

·         Mengawali sebagai seorang penulis yang baik apakah punya beberapa buku antalogi baru buku solo atau bagaimana? -> tidak ada patokan yang pasti, jika langsung mempunyai buku solo baru antalogi juga nggak masalah. Memang buku solo menguras energi dan membuat stress. Nikmati saja prosesnya dan setelah menulis maka akan ketagihan untuk membuat buku selanjutnya.

·         Teh Iin mempunyai sekitar 200 to do list yang harus dikerjakan setiap harinya, apa saja contoh konkritnya agar kita juga dapat melakukannya? -> teh Iin tanpa asisten, bangun subuh, menyiapkan sarapan dan mengantar Nanit ke sekolah. Lalu mengerjakan yang ada di daftarnya seperti menyapa di grup IIDN, memberikan tips menulis di grup, menulis di kompasiana, colek penerbit, dll semuanya dikerjakan dalam waktu 3 jam saja. Teh Iin juga membatasi tamu yang berkunjung ke rumah setiap hari menerima 2 tamu saja

·         Banyak-banyak membaca atau mendengarkan you tube untuk mendapatkan referensi, setelah itu tulis dengan bahasa sendiri maka itu adalah ilmu atau pendapat kita sebagai penulis. Untuk menulis 1 buku maka kita wajib membaca 10 buku.