Selasa, 25 Maret 2014

Unforgettable Journey : Perjalanan Pertama dengan Burung Besi


     Maret 2012 aku mendapatkan kabar Kakak yang selama ini tinggal di Bali sedang dirawat di Rumah Sakit di Jakarta. Kakak didiagnosa terkena kanker usus besar dan diabetes. Deg! Jantung saya terasa berhenti mendengar kabar itu. Selama ini Mas Rudy-kakak saya itu- bekerja di Bali sedangkan keluarga berada di Jakarta. Berbincang-bincang melalui telepon dengan Kakak ipar jika seminggu berada di Rumah Sakit di Bali, mas Rudy akan dibawa ke Jakarta. Menunggu keadaannya stabil. Selama ini, dalam silsilah keluarga kami tidak ada yang terkena penyakit diabetes. Ah, bukankah diabetes sekarang bukan hanya disebabkan faktor diabetes tapi juga gaya hidup. Sedangkan kanker usus juga yang menyerang bapak hingga di akhir hayat bapak beliau telah menempuh berbagai pengobatan.  Mas Rudy merupakan pekerja keras. Hari-harinya dihabiskan di kantor dan mess. Jarang olah raga dan (mungkin) makan juga seadanya, kurang memperhatikan asupan gizi, karena jauh dari keluarga. Beberapa saudara bergantian menjenguk dan menceritakan bagaimana keadaan Mas Rudy. Kanker Usus ternyata telah menyebar ke organ vital yang lainnya seperti ginjal. Saudara yang datang memberikan semangat untuk sembuh.  Aku mempunyai firasat lain. Aku berharap dia akan sembuh dan sehat seperti sedia kala, tapi firasatku tidak dapat aku tepiskan begitu saja. Aku harus ke Jakarta. Saat itu juga.

Pesan tiket pesawat aku lakukan secara online dengan bantuan saudara. Tiketku, ibu, suami dan anak-anak sudah siap. Bagi kami-kecuali suami- ini adalah perjalanan pertama via udara.  Iya, ibu yang berumur 70 tahun baru pertama kali ini “tindak” dengan pesawat.
                                                       Pose dulu sebelum masuk pesawat :-)
 
 


                                                  Di Bandara Soekarno Hatta- Cengkareng
Deg-degan pastinya. Apalagi Barra saat itu baru berumur 7 bulan. Tanya-tanya dokter anak tentang bagaimana berpergian menggunakan pesawat. Beberapa tips yang aku dapatkan dari dokter anak;

1.      Siapkan makanan yang mudah dijangkau

2.      Siapkan mainan agar anak tidak bosan dan rewel saat perjalanan

3.      Gunakan penutup telinga saat landing dan take off, atau susui (jika masih ASI) karena dengan menyusu akan mencegah telinga berdenging
 

Karena saya penganut homemade baby food, maka untuk perjalanan pertama Barra saya mempersiapakan buah siap makan seperti pisang, alpukat dan kentang kukus.

Berikut tips MPASI dalam perjalanan

1.      Gunakan bahan-bahan yang ada secaraa lokal

2.      Hindari membawa makanan kemasan/instan

3.      Pepaya, mangga, pisang dan jambu merah adalah contoh buah-buahan yang bisa menjadi bekal atau makanan ringan selama perjalanan. Buah-buahan ini dapat dilumatkan menjadi pure dengan menggunakan sendok atau garpu.

4.      Rebus kacang panjang, buncis atau wortel. Simpan dalam kotak makanan sebagai kudapan dalam perjalanan.

5.      Untuk bayi yang sudah mengonsumsi makanan padat, gunakan perjalanan ini sebagai kesempatan untuk berpetualang mencoba makanan khas lokal. Tentu saja harus memastikan makanan tersebut sudah dimasak dan bersih ya ( Sumber : Buku Catatan Ayah ASI).

Tidak terlalu repot karena Barra tidak pilih-pilih makanan dan masih menyusu. Alhamdulillah Barra enjoy dengan penerbangan pertamanya. Semarang – Jakarta kami tempuh hanya dengan waktu 45 menit, tapi alamak dari Bandara Cengkareng menuju rumah sakit di JakartaTimur kami perlu waktu selama2,5 jam. Benar kata pepatah hidup di jakarta, menua di jalan...

Sampai di rumah sakit, aku melihat keadaan Mas Rudy yang  tampak lemah. Senarnya sudah lebih baik, daripada sebelumnya. Kaki yang awalnya bengkak sekarang sudah kelihatan normal dan tidak kuning lagi.



Sebelum pamit pulang, aku cium pipi kakakku...Itulah pertemuan terakhirkku dengan Mas Rudy. Beberapa hari kemudian keadaannya semakin melemah dan dirawat di ICU hingga akhirnya meninggal dunia.