Rabu, 02 Agustus 2017

Lima Hal Yang Harus Diperhatikan Saat Khitan



Liburan lebaran dan liburan kenaikkan kelas kemarin, aku baru saja mengkhitankan anak pertamaku. Saat itu usianya 9 tahun dan menurutku itu usia yang pas untuk melaksanakan khitan atau sunat. Beberapa dokter ada menyarankan khitan dilakukan pada anak usia 6-15 tahun, dan ada juga yang menyarankan khitan dilakukan sejak bayi. 

Khitan pada bayi laki-laki dilakukan agar nantinya tidak ada penyakit fimosis atau penumpukkan sisa air kencing di bagian ujung kemaluan. Selain itu, khitan saat bayi dikatakan lebih cepat proses pemulihannya dan lebih mudah perawatannya.

Oiya, khitan sendiri adalah memotong kulit yang menutupi bagian kepala atau ujung kemaluan bagi laki-laki. Hukum khitan ada yang menyebutnya wajib, ada juga yang mengatakan sunnah muakkad atau sunnah yang dikuatkan. Aku lebih menyakini khitan ini hukumnya wajib ya, karena saat salat harus sudah bersih dari najis, termasuk dari sisa-sisa air kencing yang biasanya masih ada jika belum atau tidak dikhitan. 

Khitan tidak semenakutkan seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Oiya bagi beberapa teman yang belum tahu, anak pertamaku ini anak berkebutuhan khusus (ABK) ya. Dulu aku membayangkan jika khitan ini perlu dilakukan bius total dan opname di rumah sakit, tapi ternyata tidak perlu karena cukup dengan tindakan khitan saja. Tapi disini aku menceritakan secara global saja, karena perlakuannya ternyata sama. 

Pertama-tama kuatkan niat dengan berdoa. Minta kepada Sang Pencipta agar semuanya diberi kelancaran. Walapun khitan ini hanya memotong sedikit kulit tetapi aku pernah melihat berita yang bikin merinding. Saat khitan massal ada oknum tenaga kesehatan yang salah memotong. Bukannya kulit tapi sampai memotong kepala penis si anak. Duuh, sampai sekarang masih ngilu aja kalau membayangkan hal tersebut. Semoga buat teman-teman yang akan melaksanakan khitan untuk putranya diberi kelancaran dan kemudahan ya. aamiin.

Kedua, aku berpendapat ada baiknya menjelaskan tentang khitan baik bagaimana nanti caranya dan manfaatnya. Untuk anak-anak yang bisa berkomunikasi dengan baik, aku memilih kata “membersihkan” daripada di potong. Saat menjelaskan kepada anak keduaku ternyata pemilihan kata ini berpengaruh banget untuk kesiapan mental anak. Untuk anak pertamaku yang abk, aku memilih menyetelkan you tube. Banyak link kok yang menayangkan saat anak dikhitan. Beberapa teman yang memiliki putra yang abk memilih story telling dengan gambar dan cerita. Setiap cara bisa digunakan sesuai dengan kebiasaan anak dalam menerima informasi.

Selanjutnya pilih klinik atau tempat khitan yang sesuai untuk putranya. Survey dulu kalau perlu atau tanya pendapat orang-orang yang sebelumnya telah mengkhitankan anaknya di tempat tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah memilih jenis khitannya. Kalau dulu saya di Rumah Sunatan Semarang yang beralamat di Gisikdrono. Metode yang dipakai adalah smart clamp. Cara ini lebih mudah, lebih cepat karena hanya membutuhkan waktu pemasangan selama 15 menit saja dan lebih mudah perawatannya.

keempat, jangan lupa untuk mematuhi anjuran tenaga kesehatan saat perawatan pasca khitan dan setelah kontrol. Pasca khitan dengan metode smart clamp yang harus diperhatikan misalnya setelah buang air kecil harus dibilang dengan air bersih dan larutan Nacl lalu ditetesin obat tetes khitan. Setelah lima hari saatnya kontrol dan lepas klamp.
Yang terakhir, setelah lepas klamp ini juga wajib diperhatikan karena anakku saat itu merasa sudah “merdeka” karena tidak ada klamp yang melekat dan menggantung di kelaminnya, dia aktif bergerak dan naik sepeda. Akibatnya pendarahan karena luka belum benar-benar kering. Sebaiknya setelah lepas klamp anak tetap mengurangi aktivitas selama 3-5 hari agar luka benar-benar kering dan sembuh.

Semoga bermanfaat.
#OneDayOnePosting
#BloggerMuslimahIndonesia



3 komentar:

Wahyu Widyaningrum mengatakan...

Wah jadi inget pas anakku khitan Mbak Hap. Tapi aku nggak nerangin panjang lebar, hanya kubilang kalau udah khitan harus dan wajib sholat serta ngajinya. Soalnya dia udah sering nungguin mbahnya nyunat. Jadi udah tahu step2nya, aku malah kaget denger ceritanya Mbak. hehehe.. semangat ODOP ya Mbak

Aisyah As-Salafiyah mengatakan...

Alhamdulillah aku dan adik-adik sudah di khitan semua.. ^^

Marita Ningtyas mengatakan...

Wah, deg2an nggak mbak, bayangin besok mengkhitankan Affan.. :)