Minggu, 08 Oktober 2017

Bolehkah Memilih Teman



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Apa kabar, teman-teman?. Semoga senantiasa dalam keadaan sehat semuanya ya. Aku mau menceritakan keadaanku beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku salah pergaulan dan mempunyai seorang teman yang membuatku seperti jauh dari Sang Pencipta.
Ihh..., mbak, kok hal seperti ini dibuka di blog pribadi begini sih. Apa nggak malu?. Aku hanya ingin menceritakan kisah yang aku alami dan mengambil hikmahnya. Barangkali kisahku ini dapat bermanfaat juga bagi teman-teman. Jadi, sekitar 8 bulan yang lalu aku berkenalan dengan seseorang lewat media messengger. Dia mengirimiku sebuah pesan lewat whatsapp, kemudian berlanjut berkenalan lewat facebook. Dalam status-status yang temanku posting ini, sebut saja namanya Arti, dia selalu menuliskan hal-hal religius yang aku nilai mencerminkan pribadinya yang shalih.

Pertemuan kami untuk yang pertama kalinya, semakin menyakinkanku jika Arti adalah orang yang tahu ilmu agama dan juga akhlak yang mulia. Arti sangat perhatian dengan keadaanku sebagai single mother dan mempunyai putra yang berkebutuhan khusus. Arti merasa trenyuh dan mengatakan ingin membantu menyembuhkan putraku. Dia Aku saat itu merasa senang dan bersyukur serta menyambut baik uluran tangannya. Saat itu dengan kata yang menyakinkan, Arti mengatakan bahwa apa yang dia lakukan hanya bentuk ikhtiar dan Allah Subhanahu Waa Ta’alaa yang mempunyai wewenang untuk menyembuhkan anakku.

Cara untuk “menyembuhkan” anakku, awalnya aku nilai tidak masuk akal dan penuh dengan hal yang mistis. Ada syarat yang harus aku penuhi, sebagai pelengkap untuk melaksanakan prosesi pengobatan. Arti meminta kuku, rambut, baju anakku yang sudah bau keringat anakku, segenggam tanah dari halaman rumah dan beberapa hal yang lainnya.
Aku heran dan berulang kali mengucapkan istiqhfar. Cara ini seperti cara pengobatan dengan pertolongan dukun. Tentu saja aku menolak, tapi dia menyakinkanku bahwa caranya adalah cara pengobatan yang dilakukan oleh Nabi. Arti sangat lihai menyakinkanku dan mengatakan bahwa seorang ibu tentu saja rela melakukan apa saja untuk kesembuhan buah hatinya.
Saat itu aku dalam kebimbangan yang luar biasa hebat. Seperti ada perang batin dalam diriku. Satu sisi aku ingin anakku bisa seperti teman-temannya yang lain tapi dilain sisi aku seperti sedang meminta pertolongan dengan seorang dukun. Aku ragu dan tiap aku ragu, aku memilih untuk meninggalkannya. Selama ini hampir selama 6 tahun aku sudah melalui ikhtiar yang tak kenal lelah untuk menerapi anakku baik dengan terapi wicara dan terapi perilaku. Aku tak ingin mengikuti keinginan Arti. Lebih baik aku melanjutkan apa yang selama ini aku lakukan saja.

“Teman yang baik adalah yang selalu mengingatkan dan mendekatkanmu pada Allah”. Quote ini sangat menarik dan membuatku untuk berhati-hati dalam memilih teman dekat. Seperti sebuah pepatah lainnya yang mengatakan “Barang siapa berteman dengan tukang besi akan terkena cipratan apinya dan barang siapa yang berteman dengan tukang minyak wangi akan terciprat wanginya. Memilih teman sungguh besar pengaruhnya dalam kehidupan kita. Jadi kita memang boleh saja bergaul dengan siapa saja, namun bertemanlah dengan mereka yang dapat mengantarkanmu menuju Surga.

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam program one day one posting Blogger Muslimah Indonesia

2 komentar:

Wahyu Maida mengatakan...

Jadi gimana mba? Dilanjutkan atau tidak pengobatannya?

Hapsari Adiningrum mengatakan...

nggak mba, takut terjerumus syirik