Sabtu, 28 Oktober 2017

Mengenal Disleksia




Assalamualaikum teman-teman, tadi pagi aku dapat kesempatan bisa hadir di acara bincang santai tapi menarik banget bahasannya. Bincang santai ini ngomongin tentang "Mengenal Disleksia" dan diadakan di Griya Asik, sebuah tempat penitipan anak yang berada di sekitar tempat tinggalku. Peserta yang datang sekitar 40 orang dari berbagai latar belakang yaitu ada yang guru, orang tua yang mempunyai anak disleksia, dan para yang pencari ilmu.

Acara ini diisi oleh Narasumber Rizki Dian Ardlianti yang tergabung dalam wadah DPSG atau Dislexya Parent Support Group. Mba Kiki, panggilan akrabnya merupakan orang tua yang memiliki seorang putra disleksia dan beliau sendiri juga disleksia. Dalam acara tadi beliau banyak banget membagi ilmunya kepada para peserta, dan aku tuliskan kembali disini. Oiya, diacara ini aku juga diminta menjadi narasumber sekaligus diberi kesempatan untuk mempromosikan buku antalogiku yang terbaru. Rainbow- The Miracalous Stories of Single Moms. Semoga bermanfaat ya teman-teman.

Seseorang yang mengalami disleksia biasanya saat membaca akan melihat tulisannya itu gerak-gerak sendiri, atau jika anak mengeluh saat belajar hurufnya seperti berlari-lari, terlihat ada huruf besar dan huruf yang kelihatan kecil atau tak beraturan maka bisa jadi anak tersebut disleksia. Memang anak dengan disleksia kesulitan membaca dan menulis sehingga membuat nilai pelajarannya turun dan dicap anak yang bodoh. Bahkan nilai ujiannya bisa hancur karena ada jawaban yang kurang benar, karena ada satu huruf yang terlewat tidak ditulis. Seperti kata termometer, hanya ditulis temometer bisa membuat anak dianggap gagal dalam menjawab soal. Karena hal ini anak tersebut mendapat label anak bodoh. Padahal tidak benar sama sekali, buktinya banyak tokoh dunia yang berhasil yang ternyata disleksia. Sebut saja Thomas Alfa, Walt Disney dan aktor ganteng pada masa itu Tom Cruise.

Anak dengan disleksia mempunyai test IQ dengan hasil normal atau bahkan diatas normal. Jika anak kesulitan belajar disebabkan karena dua hal :
-kesulitan belajar biasa :hasil nilainya dibawah rata rata
-kesulitan belajar spesifik : cara belajarnya beda. Seorang peserta menceritakan cara membelajari putranya yang disleksia dan sangat pelupa antara huruf hijaiyah sin dengan sya yaitu dengan mengumpamakan jika huruf sin seperti ular kecil yang berdesis dan huruf sya yang pengucapannya seperti ular besar yang berdesis. Anak disleksia biasanya iq normal atau diatas normal. Jika menemukan cara belajar yang tepat hasilnya akan bagus.

Disleksia berupa keturunan. Jika ortu disleksia maka anak 50% anak disleksia. Misalnya anak pertama disleksia, anak kedua bukan disleksia juga perlu diwaspadai jika ada kemungkinan adanya diagnosis ADD, ADHD maupun yang lainnya. Kapan tahu anak ada tanda disleksia,“sebagian besar praktisi sepakat bahwa diagnosa disleksia dapat  ditegakkan di usia 7 tahun”. Namun deteksi dini bisa dilakukan sejak awal tahun kehidupannya. Saat anak berumur 22 bulan sudah mengucapkan 20 kosa kata sehari hari, seperti makan minum buka, tutup, ayah ibu umi dan sebagainya.  Jika belum keluar kata-kata yang sering diucapkan oleh orang tua atau pengasuh dan yang sering didengar oleh anak, maka perlu diwaspadai akan adanya diagnosa disleksia.

Disleksia tidak melulu tentang huruf yang acak, bergerak-gerak atau seperti menari. Inilah kelompok risiko disleksia :
#Jika anak bercerita “aku ketemu orang yang panjang” ,padahal yang dimaksud orang yang tinggi.
#Jika anak berkata “aku nggak bisa berenang di kolam yang tebal”, padahal yang dimaksud kolam dalam.
#Jika anak kebolak balik dalam mengucapkan sesuatu yang bertolak belakang seperti “aku ikut antar sekolah kakak ya”, padahal yang dimaksud saat itu jemput sekolah.
#spaghetti diucapkan sbaghetti.
#punya istilah bahasa sendiri. menyebut ubing untuk mobil. Orang tua sebaiknya tidak menganggap lucu, harus segera dibetulkan.
#bahasa sosial kelihatan jika anak sudah besar. Bukan maksud kurang ajar tapi memang gaya bahasanya seperti itu. Dicontohkan seorang anak 13 yang mengajak berkenalan seorang dewasa dengan gaya cuek dan berani. Seperti yang dicontohkan oleh putra mbak Kiki yang bernama Aqil. “Namaku Aqil, nama kamu siapa?”. Tentu saja, orang dewasa akan menganggap hal itu nggak sopan padahal anak tersebut tidak bermaksud kurang ajar. Memang gaya bahasanya seperti itu.

Anak disleksia tidak akan dapat mencerna beberapa perintah sekaligus. Seperti misalnya “Dek, lepas sepatu, ganti baju lalu mamah tunggu di meja makan”. Maka yang dikerjakan anak adalah sudah berada di meja makan. Kalau kalimat atau instruksi panjang lebar , anak disleksia nggak mampu mengikuti. Hanya kata terakhir yang dicerna. Satu instruksi diselesaikan dulu. Lepas sepatu, lalu sudah dilaksanakan lalu beri perintah ganti baju dan seterusnya.

Orang dengan disleksia ada yang kesulitan memahami konsep waktu. Tidak mampu memperkirakan sepuluh menit itu seberapa lama sih. Jika ada rapat jam 10, sedangkan perjalanan ditempuh selama setengah jam maka dia harus diingatkan untuk berangkat jam 9.30. Sangat sulit memahami waktu perjalanan tiga puluh menit itu seberapa panjang. Beberapa ada yang bermasalah juga dengan urutan. Seperti menuliskan urutan bulan dimulai dengan Januari, Februari, April, eh ternyata Maret lupa tidak ditulis. Ada juga yang sering kesasar,masuk mall dan nggak tahu jalan keluarnya. Mbak Kiki juga bercerita jika ada temannya yang disleksia kesulitan menemukan dimana tadi parkir mobil dan hampir dua jam baru bisa menemukan kembali mobilnya. Anak disleksia juga sering jatuh, menjatuhkan benda, menyenggol sesuatu atau menabrak sesuatu.

Untuk orang tua yang memiliki anak disleksia yang paling diutamakan adalah sabar...sabar...dan sabar. Selain itu harus selalu diulang atau remidial apa yang diucapkan dan tidak boleh menyerah untuk belajar.




Tidak ada komentar: