Kamis, 12 Oktober 2017

Writing For Healing, Menulislah Untuk Kesehatanmu



Assalamualaikum teman-teman, kali ini aku ingin menuliskan kisah tentang pengalamanku ikut kelas menulis online. Sepertinya udah banyak ya kelas menulis lewat media messenger baik whatsapp maupun telegram dengan berbagai tema. Ada kelas menulis untuk pemula, kelas menulis cerpen, novel atau artikel. Biaya yang dikeluarkan untuk kelas menulis secara online juga relatif lebih terjangkau. Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam.

Ada satu kelas menulis yang sangat menarik yang baru saja aku ikuti di bulan Agustus yang lalu. Kelas writing for healing, menulis untuk menyembuhkan. Ternyata dengan menulis kita bisa membuat tubuh lebih sehat dan hati lebih tenang. Percaya nggak teman-teman?. Rasanya nggak mungkin ya, mengobati penyakit yang selama ini diderita hanya dengan menulis. Percaya aja deh, karena aku sudah membuktikannya lho.

Kelas writing for healing ini dipandu oleh seorang mentor dan wajib ada pendampingan lho. Untuk rule nya hampir sama kok dengan kelas menulis yang lainnya, yaitu penyampaian materi dan dilanjutkan praktik menulis. Awal praktik, peserta diminta untuk menulis pengalaman yang tidak menyenangkan, menyedihkan atau hal yang membuat kecewa dan marah. Dan merasakan sensasi-sensasi yang muncul yang dirasakan oleh tubuh. Makanya, dibutuhkan pendampingan untuk tetp menjaga emosi peserta agar tidak keluar batas dan mengetahui reaksi yang muncul saat menulis.

Waktu itu, aku menulis sebuah pengalaman yang baru aja aku alami yang hampir saja membuatku berada di ambang kewarasan.  Aku bertemu dengan seseorang yang dari pertemuan pertama aku menganggapnya orang alim yang super baik. Dia seorang pengusaha yang menawarkan sebuah investasi supaya aku bisa mendapatkan pemasukkan tetap untuk kebutuhan anak-anakku. Selain itu beliau juga santun dalam berbicara dan halus tutur katanya. Ilmu agamanya juga terlihat sangat baik, terlihat dari bagaimana beliau ini bertutur kata dan berperilaku. Bantuannya yang dikatakannya untuk diriku dan anak-anakku sangat besar. Padahal kami baru saja bertemu dan berkenalan dan jarak beberapa bulan saja. Kadang ada perasaan benarkah semua kebaikkannya itu tulus atau ada maksud tersembunyi?. Tapi, aku selalu menepis prasangka burukku dengan tetap mempercayainya.

Too good to be real. Terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Aku mulai merasakan dan melihat banyak sekali kejanggalan. Angan yang semula melambung tinggi menjadi terhempas jatuh. Bisa dikatakan apa yang pernah dikatakannya adalah kebohongan yang terstruktur. Hanya seorang penipu dan seorang psikopat yang bisa melakukan hal seperti itu. Aku mulai dilanda perasaan kecewa, sedih dan marah yang mudah sekali meledak. Sungguh, rasanya tak mudah menghadapi ini.

Lalu, aku membaca status seorang teman yang pernah mengikuti kelas writing for healing. Tak ingin kesempatan ini terbuang begitu saja, akupun mendaftar dan menjadi peserta kelas writing for healing batch #3. Saat menulis kejadian itu, aku menangis dan merasakan sensasi telinga kanan terasa sakit, perasaan marah dan ingin memaki dan membalas dendam. Beberapa peserta lainnya ada yang merasakan sensasi mual, kepala pusing dan berat serta sangat mengantuk.

Akupun mulai menyadari bahwa hal yang utama adalah menerima semua kejadian ini, menerima semua kesedihan dan kebohongan yang dilakukannya. Harapanku yang terlalu tinggi terhadapnya, menjadikan aku menolak kenyataan. Akupun perlahan menerima rasa sakit ini, menerima sensasi yang muncul dari tubuhku. Aku tidak lagi memendam kesedihan dan kemarahan. Mengizinkan marah, sedih, cemburu dan kecewa hadir. Dan setelah itu aku merasa lebih baik. Bisa melihat kebaikkan dan ketulusan orang lain. Sungguh ketika dalam keadaan marah, hal yang terlihat hanya keburukkan orang dan sulit bersikap adil.

Jadi, selain untuk membagikan pengalaman, mendapatkan uang, menasehati orang atau diri sendiri ternyata menulis juga bisa menyembuhkan. Beberapa testimoni teman satu grup ada yang merasakan hatinya lebih lapang, sakit kepala sudah tak lagi dirasa dan ada yang tidak lagi merasakan rasa cemas dan panik yang berlebihan yang sebelumnya sangat mengganggu.

Semoga bermanfaat

#odopokt10
#30dwcjilid9
#day2
#squad5

3 komentar:

Marita Ningtyas mengatakan...

Hi, mbak. Aku belum pernah ikut kelas khusus writing for healing sih. Tapi selama ini salah satu tujuanku untuk tetap menulis adalah sebagai healing dari berbagai masalah yang aku alami. Semakin banyak ditulis, semakin banyak rasa yang release hingga perlahan hilang dan tersembuhkan.

Semangat ya mbak Hapsari, peluuuuk

Dian Restu Agustina mengatakan...

Saya juga menulis untuk healing Mbak...Maklum jadi ibu rumah tangga rasa-rasanya kalau nggak diimbangi dengan hal positif sebagai pelampiasan rasa bisa -bisa larinya ke depresi atau yang ali..
Terima kasih ceritanya...:)

Farida mengatakan...

Beruntung sekali menemukan fasilitas belajar seperti itu ya. Semoga manfaat menulis semakin terasa dlm hari2 kita :)