Minggu, 05 November 2017

Berdiri Di Atas Kaki Sendiri



Bagaimana rasanya kehilangan pasangan hidup, orang yang selama ini kita cintai. Bagiku rasanya dunia seperti kiamat. Remuk raga dan pudar semua impian. Gelap. Ini aku rasanya selama beberapa minggu setelah berpulangnya suami ke pangkuan Illahi. Beberapa orang mengatakan, mereka seperti seekor burung yang kehilangan sebelah sayap. Tak akan bisa lagi terbang tinggi menggapai asa dan cita-cita.

Aku pernah limbung beberapa saat, setelah suami meninggal. Aku tak pernah menyangka akan secepat ini, beliau meninggalkan kami selama-lamanya. Anak-anak masih terlalu kecil. Anak pertamaku saat ayahnya meninggal berumur 8 tahun, anak kedua 5 tahun dan putri kecil kesayangan kami berumur 1,5 tahun. Selama ini aku juga menggantungkan perekonomian keluarga hanya pada suami saja. Lalu bagaimana nanti aku bisa menghidupi mereka?. Bagaimana aku bisa merawat dan mendidik putra dan putriku tanpa seorang ayah?. Bagaimana aku menghadapi semua masalah sendirian?.  Semua pertanyaan ini tak jua aku temukan jawabannya.

Hampir dua tahun sudah, aku mempunyai status sebagai seorang single mom. Aku yang limbung dan hampir putus asa harus bangkit dan segera berdiri. Aku harus kuat dan tegar demi tiga buah hati yang diamanahkan kepadaku. Aku harus berdiri diatas kaki sendiri, untuk terus melangkah menuju masa depan.

Jalan anak-anakku meraih cita-cita masih panjang. Mereka tak boleh putus asa walaupun harus terus berdiri di atas kaki sendiri. Tak ada lagi sosok hangat ayah yang akan menggendong dan mengangkat mereka jika suatu saat mereka berdiri. Kau boleh saja merasa lelah, tapi tak boleh menyerah. Karena walaupun aku dan anak-anak sama-sama berdiri di atas kaki sendiri, sejatinya tak pernah sendiri. Allah, Yang Maha Baik bersama kami. Aamiin



Tidak ada komentar: