Jumat, 16 Februari 2018

Adab Bersuci dan Pergaulan, sebagai Ikhtiar Mencegah Penyimpangan Perilaku.


Assalamualaikum teman-teman,  apa kabar?.  Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja ya.  Senang sekali rasanya bisa ikut meramaikan postem tematik Blogger Muslimah Indonesia pada bulan Februari 2018 ini. Tema yang ditentukan juga “berat” nih, karena kali ini akan membahas tentang bagaimana untuk mencegah penyimpangan seperti lesbian, homoseksual, insect dan lain sebagainya pada keluarga kita. Hal ini juga yang menjadi dilema bagi saya. Banyak pakar parenting yang mengemukakan pendapat kalau mendidik anak di era sekarang ini berat banget. Banyak banget predator yang berkeliaran di sekitar dan pengaruh tekhnologi yang memungkinkan anak dapat mengakses pornografi. Jika mendidik anak saat ini berasa berat, akan semakin berat bagi orang tua tunggal, termasuk saya. Namun, tetap harus ikhtiar sekeras mungkin dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Taa’la, karena hanya Allah sebaik-baik tempat bergantung dan meminta pertolongan.

Mengenai bagaimana cara mencegah penyimpangan pada keluarga, khususnya pada anak-anak aku teringat dengan Abah Ihsan, yang saat di Semarang memberikan seminar mengenai Pendidikan Bersuci Pada Anak. Agak janggal ya sepertinya, karena pada umumnya orang akan membicarakan tentang bagaimana pendidikan seks pada anak. Namun menurut beliau, pada ajaran Islam yang mulia, pendidikan bersuci ini lebih sempurna dan lebih luas cakupannya. Bukan hanya sekedar pendidikan seks yang didengungkan oleh pakar parenting dan psikolog non Muslim. Jika dalam dunia pendidikan Barat, pendidikan seks berarti pengenalan kesehatan reproduksi yang pada akhirnya mengerucut pada pengenalan alat kontrasepsi. Namun dalam Islam, hal ini diajarkan dengan bahasa yang santun dan juga terstruktur dan dikenalkan dengan nama Pendidikan Bersuci dan Pergaulan.

Menurut Abah Ihsan Baihaqi, pendidikan seks itu hal yang alami. Mau nggak mau, suka nggak suka, harus diperkenalkan kepada anak. Anak laki-laki itu biasanya suka penasaran dengan alat kelamin pada lawan jenisnya, sedangkan anak perempuan cenderung ingin tahu tentang hal yang menyangkut perasaan. Jika anak bertanya darimana asalnya adik bayi, maka bisa dijawab bayi berasal dari pertemuan ovum dan sperma. Ovum berasal dari perempuan dan sperma dari laki-laki, dapat terjadi ketika mereka sudah dewasa dan menikah.

Seks itu adalah hal yang tabu. Tabu disini maksudnya adalah harus dibicarakan antara orang tua dengan anak di dalam rumah. Jangan sampai anak tahu tentang seks dari teman sebaya mereka, atau dari internet. Orang tua sebaiknya bisa berbincang mengenai hal ini bersama anak dalam kondisi santai dan nyaman, sehingga anak tidak merasa malu dan orang tua tidak merasa sungkan. Jika anak bertanya, tolong ya untuk bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mengatakan dengan jelas untuk alat kelamin laki-laki disebut penis, sedangkan untuk alat kelamin perempuan disebut vagina. Nggak usah menyebut dengan istulah burung, atau dalam bahasa daerah lainnya.

Selanjutnya dijelaskan dalam Islam, pendidikan tentang bersuci dan adab pergaulan bahwa anak dalam usia 7 tahun sudah tuntas mendapatkan ilmu tentang Salat, mimpi basah, haid dan hijab. Dalam usia ini, anak juga sudah harus biasa cebok sendiri. Karena jika masih dicebokkin akan merasa nyaman disentuh dan menjadi kebiasaan. Oiya, saat usia 2 tahun, saat cebok diusahakan yang sama dengan jenis kelaminnya ya. Jika anak laki-laki dicebokkin oleh ayahnya, maka jika anak perempuan dicebokkin oleh ibunya. Jika mempunyai anak dengan jenis kelamin yang sama, mereka dapat tidur dalam satu kanar namun TIDAK satu selimut.

Sungguh dalam Islam, hal-hal seperti ini sudah diatur dengan baik dan bisa dijelaskan dengan bahasa yang tegas namun santun. Termasuk adanya waktu-waktu tertentu yang sebaiknya dihindari saat akan berkunjung atau saat ingin masuk ke kamar orang tua. Waktu sebelum Subuh, setelah Isya dan tengah hari. Karena pada saat ini, pasangan suami istri sedang beristirahat. Jika anak ingin masuk ke kamar orang tua, diajarkan untuk mengetuk pintu dan memberi salam. Saat usia 10 tahun, pelajaran mengenai haid, mimpi basah dan menjaga kemaluan sudah selesai diberikan. Ada hal kecil yang juga perlu diperhatikan adalah menjaga aurat ibu di hadapan anak-anak yaitu antara leher dan lutut. Jangan-jangan ada yang suka pakai celana pendek atau daster bolong ketika dirumah. 😂😁

Itulah sekilas penjelasan tentang Adab Bersuci dan Pergaulan sebagai salah satu ikhtiar kita sebagai orangtua untuk mengantisipasi penyimpangan pada keluarga kita. Oiya rasanya apa yang saya tuliskan di bawah ini masih terkait dan dapat dijadikan acuan yaitu pentingnya bermain bersama anak. Dalam salah satu kulwap (kuliah whatsapp)oleh Ayah Idzma Mahayattika,.seorang konselor keluarga dan penggiat #ayahmain, beliau menyatakan bahwa bermain, suatu kegiatan yang dianggap sepele dan menghabiskan waktu ternyata sangat berguna untuk mempererat ikatan batin (attachment)antara anak dan orang tua. Kedekatan anak dan orangtua ini mampu membendung pengaruh “predator” di luar sana. Anak-anak yang menjadi korban pelecehan “predator” ini,.dapat terpikat karena para “predator” biasanya mengajak anak bermain dan mendekati mereka terlebih dahulu. Bermain bersama anak juga dapat menjadikan anak mudah beradaptasi, memiliki jiwa yang hangat dan kelak menjadi orang dewasa yang mampu menjalin hubungan dengan orang lain dengan baik.

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Postem Tematik Blogger Muslimah Indonesia bulan Februari 2018.









11 komentar:

Mutia faidah mengatakan...

Ilmu baru buat saya mba. Bahwa adab bersuci dalam islam jika dipraktekkan dengan baik akan meminimalisir perilaku menyimpang pada generasi anak-anak kita. Trimakasih sudah berbagi mba.

Novianti Islahiah mengatakan...

Tugas menjadi orang tua luar biasa ternyata. untuk mengenalkan adab-adab tersebut saya harus masih banyak belajar, supaya jadi bekal kelak ketika anak suah mulai baligh terutama :) trimakasih sharingnya

Ummi Nadliroh mengatakan...

Betul sekali dalam Islam sebenarnya sex education sudah diajarkan ya, Mbak. Cuma memang tidak pakai bahasa sex education gitu... Kalau saya dulu sekolah di madrasah, dalam pelajaran fiqih sudah ada pelajaran ttg aurat, adab bersuci, masa baligh perempuan dan laki2, semuanya insya Allah bagian dari pendidikan seks. Kalau diajarkan sesuai porsinya, insya Allah tidak "saru" sama sekali.

Farida mengatakan...

Terimakasih transfer ilmunya. Bermanfaat sekali ��

Aulia Rahmah Alhafidz mengatakan...

wah, saya baru tau Pendidikan Bersuci dan Pergaulan. terima kasih ilmunya bun. soalnya saya biasanya nyebut pendidikan seks, jadi kalau Pendidikan Bersuci dan Pergaulan lebih santun bahasanya

Arum Silviani mengatakan...

Terima kasih informasinya mbak...bisa buat bekal sebelum nikah dan punya anak nih hehehe

PWWidayati mengatakan...

Subhanallah keren ilmunya mbak...terima kasih banyak....

denik mengatakan...

Setuju Mba. Seks education itu memang perlu. Jadi anak tidak mencari tahu sendiri.

Arina Mabruroh mengatakan...

Mba Hap, aku jadi ingat abah Ihsan :)

memang harus mengembalikan seseuai fitrahnya ya

Roikhatuz Zahro mengatakan...

Wah, jadi kesindir sama daster bolong. balada emak-emak di rumah mbak. hehehe...pendidikan bersuci terkesan lebih santun dan saya setuju dengan ini mbak. terima kasih mbak infonya.

Baiq Rosmala mengatakan...

Terima kasih sharingnya mba. Anakku yg cowok dri bayi udah deket banget ama papanya. Yg cebokin papanya terus soalnya :D berarti aku bener yaa