Senin, 15 Juli 2019

Pengalaman Terapi Okupasi dengan BPJS Kesehatan Di RSND Semarang


Assalamualaikum teman-teman, apa kabar semoga sehat selalu ya.

Beberapa tahun terakhir ini, saya sudah mendengar kalau BPJS Kesehatan dapat digunakan untuk fisoterapi bagi anak berkebutuhan khusus. Sejak bulan April 2019 saya membuktikan sendiri jika anak pertama saya dengan diagnosis ASD (Autism Spektrum Disorder) bisa terapi dengan BPJS Kesehatan. Di blog ini saya akan membagikan pengalaman dan  langkah-langkah jika ingin terapi bagi anak berkebutuhan khusus.

Langkah Pertama, Fasilitas Kesehatan Tingkat 1

Pertama, datang ke dokter keluarga atau puskesmas atau klinik tempat dimana fasilitas pertama BPJS Kesehatan yang kita tunjuk. Ceritakan gejala atau perilaku anak yang tidak sesuai dengan tumbuh kembangnya. Anak saya, Arfa sudah berumur 11 tahun saat ini dan belum dapat berkomunikasi dengan baik. Selain itu ada ciri lainnya seperti kontak mata buruk, hanya beberapa detik saja (kurang dari 1 menit), suka dengan hal yang berputar seperti roda dan kipas angina serta beberapa tanda lainnya seperti gambar di bawah ini..

Dokter Spesialis Anak, faskes Tingkat 2

Dokter di faskes (fasilitas kesehatan) pertama akan memberikan surat rujukkan ke Dokter Spesialis Anak di RS type C atau type B. Saat itu saya memilih Rumah Sakit Nasional Diponegoro yang terletak di kawasan kampus UNDIP Tembalang, Semarang. RS ini walaupun tipe C namun memiliki fasilitas dan standart seperti RS tipe B. 
Saya segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak. Saya ditanya tentang segala hal yang berhubungan dengan Arfa, termasuk dulu dilahirkan dengan usia kehamilan berapa, berat badan lahir, panjang badan saat lahir serta tahapan tumbuh kembangnya dari merangkak, mulai berjalan hingga saat ini. Kemudian dokter juga melihat Arfa yang memang terlihat sekali ciri autisnya dan segera memberikan surat rujukkan ke dokter rehabilitasi medik di RS yang sama. Inilah langkah kedua ya teman-teman untuk mendapatkan terapi bagi abk dengan BPJS kesehatan.

Dokter Rehabilitasi Medik Di Faskes Tingkat 2

Selanjutnya, di langkah ketiga ini saya mendatangi dokter rehabilitasi medik di keesokkan harinya. Dengan BPJS kesehatan hanya bisa periksa di satu dokter dalam satu hari. Dokter rehabilitasi medik melakukan pengamatan lebih detail pada Arfa. Dokter juga bertanya di umur sekarang ini Arfa ( 11 tahun) sudah bisa apa saja.
Saya kemudian menceritakan bahwa sejak umur 3 tahun sudah mendapatkan terapi wicara di rumah terapis wicara secara mandiri (Biaya sendiri) untuk sekarang ini. Jadi saya ingin menambahkan terapi agar tumbuh kembangnya semakin baik dan ketertinggalannya dapat terkejar. Kemudian dokter mengajak kami menemui terapis okupasi dan meminta untuk melihat kemampuan Arfa serta menjadwalkan kunjungan terapi setiap minggunya.

Terapi Okupasi, Semangat ya Sayang...

Ruang fisioterapi di RSND ini cukup luas dan nyaman. Selain bagian untuk fisioterapi anak terdapat juga ruang untuk fisioterapi bagi para eyang dengan diagnosa osteoporosis, patah tulang atau yang habis kecelakaan. Jadi, kalau mengantar anak terapi butuh kesabaran dan meluangkan waktu karena dipastikan bisa menunggu selama 2-3 jam.

 Ternyata, banyak juga anak-anak yang umur 2 tahun yang menjalani terapi okupasi. Memang lebih cepat didiagnosa akan lebih cepat ditangani sehingga perkembangannya bisa mengalami kemajuan. Orang tua terkadang menunggu dan berkata nanti juga akan bicara sendiri jika sudah waktunya. Nanti juga akan jalan sendiri kalau sudah waktunya. Nanti juga akan bisa sendiri kalau sudah umur segini. Tanpa disadari, waktu berjalan begitu cepat dan anak semakin terlihat berbeda dengan teman-temannya yang sebaya. Saya dulu termasuk terlambat karena merasa nanti anak akan bisa sendiri saat waktunya tiba. Semoga segala usaha hari ini mampu mengejar keterlambatannya.

Arfa dijadwalkan terapi okupasi sekali dalam seminggu setiap hari Selasa dengan terapis bernama mbak Anis. Dalam beberapa kali kunjungan, saya melihat ada kemajuan seperti kontak mata lebih lama dan menurut pada instruksi. Sabar dan disiplin adalah dua kunci untuk orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus saat terapi. Hargai setiap proses yang sudah dicapai anak agar kita merasa semakin semangat dan bersyukur. Jika ada pertanyaan di mana ya tempat terapi anak berkebutuhan khusus yang baik maka jawaban saya adalah di rs mana saja pasti baik karena sudah ada standart yang diberlakukan, yang penting adalah terus berlatih dan diulang di rumah. Karena di RS hanya beberapa menit saja (sekitar 45 menit) sedangkan anak akan menghabiskan waktu selama berjam-jam di rumah.

Inilah pengalaman saya menggunakan BPJS Kesehatan untuk terapi okupasi bagi anak saya dengan diagnose autis. Bagi saya, BPJS Kesehatan ini membantu sekali ya untuk kesehatan serta perkembangan anak saya. Semoga kedepannya ada perbaikkan di setiap layanan dan memberikan lebih banyak manfaat untuk masyarakat. Aamiin.

16 komentar:

Wahyu Widyaningrum mengatakan...

Memang sangat membantu ya mbak. Ngerasain juga. Lengkap infonya mbak. Ni berguna banget. Semangat mbak hapsari. Kecup sayamg buay arfa ya

Farida Pane mengatakan...

Terima kasih ya, sudah diingatkan. Aku termasuk orangtua yang lebih suka menunggu anak2 bisa sendiri. Padahal memang kadang butuh stimulasi lebih ya

Soviana Maulida mengatakan...

Jadi memang penting banget ya memperhatikan kemampuan anak sesuai usianya, kalo di usia tertentu ternyata masih belom bisa melakukan itu padahal sudah diberi stimulus, sebaiknya dicek juga ya mbak ke dokter. Semoga lancar terus dan sehat terus ya, Arfa..

wuri nugraeni mengatakan...

semangat ya mama Arbaca dan kak Arfa, jadi inget ya sudah lama banget nih nggak main ke rumah kakak arbaca *muach

Anita Makarame mengatakan...

Semangat ya, Mbak. Sehat terus & semangat terapinya ya, Kakak Arfa.

Dani Ristyawati mengatakan...

Sebenarnya kalau mau sabar, dan teliti kita bisa memaksimalkan manfaat dari BPJS ya mbak...makasih infonya...

Mechta mengatakan...

Alhamdulillah..cakupan pelayanan BPJS Kesehatan makin luas sekarang ya mbak.. ohya nitip salam sayang utk Arfa ya..

Agustina Dwi Jayanti mengatakan...

Aku pakai bpjs ini sangat membantu banget, mbak kalo untuk tepi jiwa gitu pakai bpjs isa gak ya?

cputriarty mengatakan...

Terima kasih atas postingannya yg menginspirasi ya mbak, jadi masukan yang berarti untuk semua orang termasuk saya juga

Bunsal mengatakan...

Tips praktis banget ni. Pasti akan sangat membantu siapa pun yang belum tau proses menggunakan kartu bpjs mereka untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Thanks for sharing mbak ^^

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Semoga semangat selalu mendampingi ananda terapi okupasi ya mbak Hap. Apalagi ada fasilitas kesehatan yang bisa dimanfaatkan. Aku dan keluarga juga merasa terbantu dengan adanya BPJS ini

Irfa Hudaya mengatakan...

Semangat ya mb Hap, semoga Arfa tumbuh kembangnya semakin baik. Ponakanku juga ada yang autis, karena kesabaran ayah ibunya dalam mendampingi terapi dan lain lain sekarang anaknya bisa kuliah, nilai nilainya tinggi pula

Dewi Rieka mengatakan...

Semangat ya Arfa dan Bunda, Alhamdulillah ya terbantu sekali dengan adanya BPJS kesehatan ini, semoga tumbuh kembang Mas Arfa semakin baik aamiin..loveee..

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Ternyata bisa juga ya BPJS digunakan untuk terapi okupasi.
Semangat terus ya Arfa sayang, semoga ada progress yang bagus setelah mengikuti terapi ini. Bundanya tetap semangat dan sabar ya.

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Mba Ning memang ngurusin BPJS kudu sabar banget. Ku ngalamin ngurusin ini karena mertua udah mulai sakit2an terus. Diabetesnya itu. Alhamdulillah tapi dengan BPJS dimudahkan segalanya soal pembayaran

Archa Bella mengatakan...

Dulu sih merasa BPJS akan ribet dan menyulitkan.Ternyata manfaatnya ada dan bisa dirasakan oleh banyak pihak yang membutuhkan ya. Semoga terapinya berjalan lancar mbak, biar anaknya semakin mandiri.