Jumat, 06 September 2019

Beberapa Pertimbangan, Jika Saya Ingin Menikah Lagi


Sudah lebih dari tiga tahun saya menjali hidup sebagai ibu tunggal. Menjadi single mom karena cerai mati atau cerai hidup bukanlah hal yang mudah. Tak ada satupun wanita ketika menikah mempunyai cita-cita menjadi janda. Semua ingin pernikahan yang langgeng hingga kakek dan nenek dan mengantarkan anak-anak sampai dewasa menuju gerbang pernikahan.
Beberapa kali saya mendapat pertanyaan “ kapan mau menikah lagi” atau pertanyaan sejenis “ kapan anak-anak dapat papah baru”. Menikah lagi juga bukanlah hal mudah, karena saya mempunyai 3 anak. Kalau mau menikah juga pastinya mau menerima kehadiran anak-anak. Apalagi nanti jika saya mendapatkan duda, yang juga sudah mempunyai anak dari pernikahan sebelumnya. Pasti akan tambah kompleks permasalahan yang timbul.
Almarhum suami-semoga Allah merahmatinya 

Keinginan untuk menikah lagi pernah saya pikirkan, jika hal itu terjadi atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka inilah yang akan menjadi bahan pertimbangan ;

Tujuan Menikah

“Nikah Hap, anak-anakmu masih kecil dan mereka butuh sosok ayah” pernyataan seperti itu pernah dilontarkan seorang sahabat. Saya, tentu saja berusaha memahami perhatiannya.
“Menikahlah  untuk kebahagiaan anak-anak” itu juga bentuk dorongan dan semangat para sahabat. Ayah yang tegas, cinta pertama bagi putrinya, humoris, penyayang dan penegak disiplin dalam keluarga adalah gambaran ideal seorang ayah. Namun, sejujurnya saya tak berharap terlalu muluk-muluk. Jika saya terlalu berharap orang lain akan membahagiakan, takut terlalu kecewa. Lebih baik saya mencari pa kebahagiaan sendiri kemudian bisa berbahagia dengan anak-anak. Apa bisa bahagia dengan kesendirian? Tentu saja bisa, dengan travelling, olahraga, melakukan hal-hal yang disukai dan lain sebagainya.
Tujuan pernikahan bukan hanya untuk kebahagiaan anak-anak, justru ketika saya sudah bahagia saat ini, saya bisa membagi kebahagiaan dengan anak-anak dan juga orang lain. Bahagiakan dirimu sendiri dulu lalu berbagia bahagia. Gelas yang kosong tentu saa tak akan bisa berbagi dengan yang lain. Tujuan pernikahan adalah sama-sama bisa bersama di Surga saat di akhirat nanti. Aamiin

Minta Pendapat Anak-anak

Satu tahun yang lalu, saya pernah dekat dengan laki-laki dan saya kenalkan juga dengan anak-anak. Saya berusaha bertanya dan meminta pendapat anak-anak tentang bagaimana sosok oom ini. Walaupun ada pendapat, jangan mengenalkan laki-laki yang belum pasti akan menjadi ayah baru, karena takut berdampak pada psikologi anak, namun saya berpendapat sebaliknya. Anak-anak juga perlu tahu jika mamanya memiliki teman laki-laki, walalupun pada akhirnya gagal menjadi ayah baru bagi mereka. Minta pendapat anak berarti menghargai pendapat anak dan menganggap mereka penting bagi saya. Walaupun kadang jawaban mereka lucu-lucu ketika saya tanya “Barra, gimana oom baik nggak?” terus jawab Barra “ Baik, soalnya aku dibelikan mainan” . Anak-anak memang masih polos, jawaban mereka kadang mengundang tawa. Alasan mereka ingin punya papa lagi, biar kalau ada arisan bapak-bapak di kampung mereka jadi bisa keluar dan main di malam hari. :-)

Beberapa kesepakatan

Selama ini saya mendidik anak-anak dengan cara saya. Jika nanti menikah dan papa baru juga sudah mempunyai anak, tentu saja kami perlu mengatur beberapa kesepakatan. Misalnya, saat anak saya mendapatkan masalah, maka saya yang perlu menegur dan menghukumnya bila diperlukan. Begitu pula anak sambung yang tentu saja sudah berbeda cara mendidiknya.
Inilah beberapa pertimbangan jika saya akan menikah lagi. Keinginan itu terkadang timbul tenggelam tergantung kondisi. Kalau lagi baper, ya pengennya makan. Eh itu kalau lagi laper ya. Jika nanti masih ada jodoh, semoga saja menemukan pasangan yang baik, menyayangi anak-anak sepenuh hati dan jadi iman yang memuliakan istri. Aamiin 

Selasa, 03 September 2019

Jangan Lakukan Hal Ini Kepada Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.


 Mempunyai anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan sindrom autis bukanlah hal yang mudah bagi orang tuanya. Sebuah istilah mengatakan jika memiliki satu anak berkebutuhan khusus sama dengan memiliki anak 7 yang terlahir normal. Mengapa bisa diatakan demikian? Karena satu saja anak berkebutuhan khusus yang lahir dalam sebuah keluarga akan membutuhkan lebih banyak kesabaran, lebih banyak waktu, energi dan tentu saja uang untuk mendidik dan menerapinya.
Orang tua yang memiliki anak autis, termasuk saya, sering membawa Arfa ke tempat umum misalnya lapangan olah raga, mall, pasar atau ke masjid. Selain untuk bersosialisasi dan mengenalkan lingkungan sekitar, rasanya tak mungkin saya mengurungnya terus menerus di dalam rumah. Seringkali saya menjumpai hal-hal yang tak nyaman ketika membawa Arfa ke luar rumah. Sebaiknya jangan lakukan hal ini ketika bertemu dengan anak autis ya ;
1. Memandangnya lama 
Pada anak dengan sindrom autis yang secara fisik tak ada bedanya dengan anak normal lainnya namun mempunyai ciri khas seperti flapping atau mengepak-ngepakkan tangan, mengeluarkan suara yang terdengar aneh dari bibirnya dan melakukan gerakkan yang tak biasa.  Arfa juga sering kali melakukan hal itu. Jika ada yang disukai ia akan mengeluarkan suara seperti bergumam atau kadang sedikit melengking. Ini dilakukannya karena komunikasinya yang terbatas. Jika bertemu dengan mereka tak perlu memandang lama-lama dengan tatapan aneh.  Jika penaasaran, bisa menghampiri dan menanyakan kepada orang tuanya langsung. Tentu saja ini lebih baik daripada menatap ABK mereka berlama-lama, yang membuat orang tuanya merasa tak nyaman. Ada sebuah aturan tak tertulis yang menyatakan jangan memandang lebih dari 5 detik. Jika terlalu lama akan membuat orang tua ini merasa terpojok.
2.  ‘Kasihan Banget Ya Anak Kamu’
Kasihan sekali ini seperti kata yang bisa diartikan betapa hidupnya nelangsa dan merana. Hidup orang tua dan anak autis seperti tak punya masa depan. Kata kasihan ini seolah saya seperti mendapatkan beban yang sangat berat. Anak dengan sindrom autis seperti sebuah ujian atau fitnah bagi orang tuanya, padahal kami menyakini sebaliknya. Anak autis adalah anak-anak penduduk Surga yang sedang dititipkan kepada kami. Mereka dengan pola pikir yang sangat terbatas bahkan tak akan dihisab kelak di akhirat. Maka ini adalah ladang pahal yang sangat besar jika saya bersabar dan bersyukur.
3. Diam-diam mengambil foto
Anak autis dengan segala tingkah lakunya yang tak biasa terkadang memang mencuri perhatian orang. Entah merasa aneh, kasihan atau penasaran kadang ada yang diam-diam mengambil foto atau video untuk kemudian di upload di sosial media. Tak perlu melakukan hal ini. Jika tak bisa melakukan hal yang menguatkan mereka, setidaknya jangan membuat hal yang merugikan atau menyakitkan mereka. Terkadang mereka hanya butuh support dengan mengatakan “ Semoga terapinya lancar ya” atau “ tetap semangat mas Arfa dan mama”.
4. Mengatakan “Bagaiamana Nanti Dengan Masa Depannya”.
Anak autis dengan beberapa bakat akan tetap memiliki masa depan yang baik. Ada yang dianugerahi kepintaran bernyanyi, coding, membentuk lego menjadi sesuatu yang indah, melukis dan lain sebagainya. Anak autis juga bisa mempunyai masa depan yang cemerlang sebagaimana anak normal lainya. Insya Allah
5. Mengatakan Hal-Hal Yang Menyakitkan Orang Tua ABK
Saat arfa masih berumur sekitar 3 tahun dan belum bisa bicara ada yang menanyakan apakah saya dulu pernah berusaha menggugurkannya. Tentu saja tidak. Dia adalah anak pertama, yang kami tunggu-tunggu kehadirannya. Mengatakan sesuatu yang menyakitkan ini tak perlu dilakukan karena selain menambah kesedihan juga tak pantas untuk diucapkan. Jangan pula katakan “anak kamu begitu karena menanggung dosa orang tuanya”.  Setiap orang pasti memiliki dosa dan kesalahan namun akan ditanggungnya masing-masing. Tak ada anak yang akan menanggung dosa orang tuanya.

Inilah lima hal yang tidak boleh dilakukan kepada orang tua yang mempunyai anak dengan sindrom autis. Walaupun anak autis mengalami banyak sekali gangguan seperti gangguan kognitif atau kecerdasan, gangguan komunikasi, sosialisasi namun mereka tetap anak-anak yang disayangi dan diterima kehadirannya.
Semoga bermanfaat.