Selasa, 19 November 2019

Lawang Sewu Semarang, Cagar Budaya Yang Mengagumkan


Semarang, Kota Multi Budaya

Semarang adalah kota yang unik dan menarik. Keberagaman budaya ada di ibukota Jawa Tengah ini. Dari budaya Arab, Cina, Eropa dan Melayu, semuanya tumbuh secara selaras dan damai.  Sebut saja kawasan pecinan, kawasan kota lama, Sam Po Kong dan gereja Blenduk semunaya memiliki sejarah dan nilai budaya yang luhur. Sampai saat ini, dengan suasana yang aman dan damai saling menghargai dan saling menjaga. Beruntungnya aku sedari lahir sampai sekarang tinggal di kota dengan makanan khas lumpia ini.


Lawang Sewu, Bangunan Berpintu Seribu?



Beberapa waktu yang lalu saya dan anak-anak ingin sekali jalan-jalan di kota saat malam hari. Biasanya acara seperti ini kami lakukan di siang hari saat liburan. Kami mempunyai tujuan ingin ke Gedung Lawang Sewu yang berada di jalan Pemuda. Ternyata suasana malam tidaklah menyeramkan seperti yang kami bayangkan sebelumnya. Tahukan teman-teman, jika beberapa tahun lalu gedung ini digunakan sebagai tempat uji nyali dan dikenal dengan tempat yang angker. Ternyata pada malam hari terlihat sangat indah sekali. Oiya sebagai informasi walaupun namanya lawang sewu tapi gedung ini mempunyai jendela besar yang terlihat mirip pintu dengan jumlah 928 pintu.



Sejarah Singkat Lawang Sewu

Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904 dan dahulu digunakan sebagai kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah masa kemerdekaan digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau yang sekarang dikenal dengan nama PT. Kereta Api Indonesia. Pernah juga menjadi kantor Kodam IV/ Diponegoro dan juga Kementrian Perhubungan Jawa Tengah. (Sumber : wikipedia). Sekarang menjadi musium dan menjadi tujuan wisata keluarga dan anak-anak muda yang ingin menjelajahi sejarah dan tempat yang berbeda. Selain itu di lawang sewu juga sering diadakan pameran hasil usaha kerakyatan yang diselenggarakan dengan tujuan memperkenalkan kesenian maupun produk unggalan beberapa daerah. Tidak hanya itu saja, di tempat ini juga pernah diadakan shooting, bazaar, festival dan pesta pernikahan.


Bangunan Cagar Budaya

Lawang sewu yang megah ini termasuk cagar budaya nasional. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Saya dan anak-anak terkagum-kagum degan betapa kokoh bangunannya, indah sekali seni arsitekturnya dan luas. Beberapa saat keliling di sini membuat kami sedikit lelah, tentu saja karena luasnya sekitar duahektare. Namun kelelahan terobati karena banyak sekali tempat keren yang bisa kami abadikan.

Lawang Sewu membuat decak kagum banyak orang. Bukan hanya warga kota Semarang saja namun para pengunjung dari luar kota bahkan luar negeri begitu mengagumi bangunan ini. Dengan arsitektur khas Eropa terihat bersih dan tertata dengan rapi. Tiket masuknya juga sangat terjangkau, hanya sepuluh ribu rupiah saja per orang.


Pemugaran Lawang Sewu

Lawang sewu pernah mengalami pemugaran. Pemugaran cagar budaya tidak boleh dilakukan sembarangan namun melalui beberapa tahapan seperti pendataan kerusakkan oleh Studi Urban Universitas Katolik Soegijapranata dan rekomendasi pengkajian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Tengah. Pemugaran dilakukan pada tahun 2009-2011. Waktu yang lama mengingat perlu kehati-hatian dalam pengerjaannya karena ini bangunan kuno yang penuh sejarah. Pemugaran dan perawatan bangunan tidak mengubah bentuk aslinya. Beberapa memang diganti dengan replika karena sudah rusak atau hilang.
Sejak menjadi cagar budaya pada tahun 2011 maka seharusnya menjadi keharusan bagi pemerintah untuk tetap menjaga dan memeliharanya. Oiya, bukan hanya kewajiban pemerintah saja namun merupakan tugas kita semua. Di beberapa tempat saya menemukan tulisan yang melarang para pengunjung untuk menyentuh bagian tertentu atau menaikki bangunan tertentu. Bangunan bersejarah yang juga menjadi saksi saat pertempuran lima hari di Semarang ini harus kita rawat dengan baik. Tidak boleh berbuat hal yang merugikan seperti mencoret-coret ataupun merusak bahkan mengambil benda-benda di bangunan ini. Warisan leluhur yang mempunyai nilai agung ini akan tetap lestari sampai anak cucu kita kelak. Untuk mewujudkan tentu saja dengan cara merawat.
Merawat cagar budaya tidak hanya dengan cara yang sudah disebutkan di atas. Setiap elemen mempunyai peran penting. Disini saya sebagai seorang ibu dan penulis akan menyampaikan pendapat saya bagaimana merawat cagar budaya.

Cara Saya Ikut Merawat Cagar Budaya

Sebagai ibu saya akan bercerita tentang sejarah kota Semarang kepada anak-anak saya. Kebetulan, anak saya tiga orang masih usia sekolah dasar. Dengan menceritakan dan kemudian mengajak mereka untuk mengunjungi akan menumbuhkan rasa cinta mereka. Anak-anak juga dapat belajar banyak hal di lawang sewu. Tentang nilai perjuangan dan kerja keras para pendahulu, tentang keindahan, kedamaian dan banyak hal yang harus mereka syukuri. Salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan merawatnya.


Sebagai seorang blogger saya akan menuliskan tentang bangunan bersejarah ini. Untuk kedepan saya akan menuliskan beberapa cagar budaya di Semarang seperti gereje Blenduk, Sam Po Kong, kawasan kota lama dan beberapa tempat lainnya. Harapan saya makin banyak yang mengerti tentang cagar budaya dan merasakan kebanggaan dan ikut mencintai dan merawatnya.


Yuk ikut juga berpartisasi pada lomba blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau musnah. 

11 komentar:

Wind. mengatakan...

Lawang sewu emang super keren. Zaman kuliah pernah bikin gambar plus maketnya uwow

Wahyu Widyaningrum mengatakan...

Aku belum kesampean sampe situ hehehe. Banyak kisah yg bisa ditulis ya mbak. Sukses mbak hapsari

nia nurdiansyah mengatakan...

Banyak sudut menarik di Lawang Sewu yaa. . MMeski kisah horor melekat di bangunan itu tapi skrg udah makin banyak yg mengunjungi dan jd destinasi andalan

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Lawang Sewu itu bangunan tercantik di kota kita ya mbak, aku sebenarnya pengen loh jalan-jalan lagi di sana. Cuma sayangnya belum bisa nyocokin jadwal ama anak-anak.

wuri nugraeni mengatakan...

aku belum pernah ke lawang sewu malam hari, takuttt hihihi, tulisannya kece mbak dan semoga menang ya

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Anak-anak memang sebaiknya diajak piknik sekaligus belajar dari bangunan bersejarah seperti ini, agar dari sejak dini punya pengetahuan tentang daerah mereka sendiri. Memorinya bakalan melekat kuat lho anak-anak tuh...

Mechta mengatakan...

Piknik bersama anak2 sambil.mengenalkan cagar budaya dan pentingnya pelestariannya memang paaas betul...

Arina Mabruroh mengatakan...

Lawang sewu yang mistis namun eksotis.. terakhir ke sana main seharian sama adik dan Hasna, pas.masih hamil Salsa. Sekarang udah makin bagus ya Mbak...

Dani Ristyawati mengatakan...

Lawangsewu ini kaya akan sejarah yang menarik untuk di kulik, sekarang makin cantik ya setelah di cat ulang, dulu kan kesnanya agak suram gitu padahal aslinya secantik ini.

Soviana Maulida mengatakan...

Dulu aku takut masuk Lawang Sewu karena sisi mistisnya. Tapi Alhamdulillah sekarang makin cantik, udah gak bikin merinding-merinding lagi. Hehehe. Tiket masuknya juga gak terlalu mahal ya

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Ya Allah aku tuh ya Mba pengen dolan rene belum kesampaian mulu. Krn dulu ada cerita yang ke sana trus pulangnya mereka ke kintil hantu dr sana. Tapi sekarang udah biasa rame banget