Kamis, 30 April 2020

Anak Autis Rentan Perundungan, Inilah Yang Saya Lakukan



Assalamualaikum teman-teman apa kabar? Semoga yang membaca tulisan saya ini selalu diberikan kesehatan ya. Tetap semangat walaupun pandemi covid-19 masih tetap berlangsung. 

Masih di bulan April, pada tanggal 2 April lalu diperingati sebagai World Awareness Autis Day. Walaupun perayaannya nggak seheboh tahun kemarin, namun kami tetap ingat. Jika tahun lalu ada berbagai kegiatan untuk memperingati hari kepedulian autis seperti pameran hasil karya penyandang autis dan berbagai lomba. Tahun ini kami merayakannya dari dalam rumah. 

Memiliki anak berkebutuhan khusus bukan hal yang mudah. Anak pertamaku yang kini berusia 12 tahun sebagai penyandang autis banyak menerima ejekkan. Inilah kata-kata yang sering ditujukan saat Arfa, anakku berada di luar rumah
" Arfa itu otaknya cuma separuh, kalau kita otaknya penuh" Kata anak sebaya Arfa. 

" Cah kurang ajar" Kata anak umur 6 tahun saat berpapasan dengan Arfa yang lagi mondar-mandir dari lapangan ke rumah. 

" Cah pekok" 

Arfa sih cuma cuek aja, lha wong dia juga nggak mudeng diejek. Nggak bakalan bisa balas. Saya  cuma berpikir, ada anak umur 6 tahun sudah bisa menghina seperti itu, mungkin diajari oleh orang tuanya. Memang memiliki anak berkebutuhan khusus nggak hanya ujian bagi orang tua nya saja namun juga lingkungan sekitar. 

Apa yang saya lakukan saat itu. 
Saya cuma mbatin " suatu saat di keluarga itu akan merasakan mendapatkan titipan anak berkebutuhan khusus". Duh kok jadi malah mengumpat ya. Harusnya dijelaskan ya, mungkin teman-teman berpikir demikian. Namun nyatanya tak semudah itu untuk menerima penjelasan. Walaupun beberapa orang yang tak perlu penjelasan justru bisa menerima dengan baik keberadaannya. Ini beberapa verbal bullying yang kami terima di dunia nyata. 

Di dunia maya, anak autis juga masih sering jadi bahan ejekkan. 

" Mainan HP mulu, autis lo".
Teman-teman sudah sering kan membaca status begini. Dari beberapa tahun yang lalu sampai sekarang juga masih saja yang menulis begitu. Dari pemilik status yang terlihat pintar dan banyak memberi motivasi sampai anak remaja alay. Ternyata memang memupuk kepedulian terhadap penyandang autis membutuhkan waktu dan juga istiqomah. Terus menerus dilakukan. Karena ada saja masyarakat yang belum paham dan memiliki kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus, terlebih pada anak autis. 

Arfa, jika dilihat secara fisik nampak normal. Maksud saya dengan tangan dan kaki yang lengkap dan fisik yang sempurna. Namun setelah berinteraksi dengannya selama 5 menit saja sudah terlihat berbeda dengan anak normal lainnya. Di usia 12 tahun, Arfa belum bisa komunikasi dua arah secara baik, kosa kata yang dimiliki masih terbatas dan memiliki fokus pendek. 

Arfa memiliki dua adik bernama Barra berumur 8 tahun yang duduk di kelas dua Sekolah Alam Ar Ridho dan Caca yang berumur 6 tahun. Beberapa kali mereka mendengar sendiri kalau kakaknya sedang dibicarakan dengan teman-teman sepermainan. 'Barra, kakakmu Autis ya? " tanya teman. Lalu Barra jawab " Iya, dia jago matematika". Saya yang mendengar merasa haru dan bangga. Tak ada rasa minder , yang ada justru rasa bangga dan menonjolkan kelebihan kakaknya. Di mata Barra, Arfa lebih cepat berhitung dan lebih pandai dalam hal matematika. 

Peran orang tua memang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, termasuk juga anak berkebutuhan khusus dan saudaranya. Kakak beradik yang memiliki saudara berkebutuhan khusus juga kadang mendapatkan pertanyaan atau perkataan yang mengejek. Saya rasa, jika anak-anak yang belum paham lebih enak dan lebih jelas jika yang menerangkan adalah teman sebaya. Lebih mudah dipahami bahasanya dan lebih nyambung. 
Semoga selamanya saling menyayangi dan menjaga
Arfa, mama dan kedua adiknya

Saya selalu mengatakan bahawa semua yang Allah ciptakan itu sempurna dan nggak ada yang cacat. Nggak ada yang salah dan buruk. Masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda, semuanya istimewa. Mas Arfa suka matematika, Barra suka manjat dan dek Caca suka mewarnai. Semua anak punya hal yang disukai dan kelebihannya sendiri-sendiri. Dan kalau menghina mahluk ciptaan Allah berarti yang menghina itu juga sedang menghina Sang Pencipta. 

Ceritain yuk, adakah pengalaman teman-teman dengan anak berkebutuhan khusus? 





15 komentar:

Anjar Sundari mengatakan...

Saya justru merasa bahwa anak autis itu istimewa mbak, mereka punya potensi dan kelebihan tertentu yang belum tentu dipunyai anak normal. Seperti Mas Arfa yang jago matematika itu. Meskipun memang masih ada yang ngrasani tentang kekurangan mereka. Mungkin perlu ada edukasi tentang kondisi ini supaya ke depannya anak autis bisa diterima tanpa ada omongan negative yaa.

Tetap semangat Mas Arfa, semoga sukses di masa depan dan jadi kebanggaan orangtua dan saudara :)

Wuri Nugraeni mengatakan...

Kak Bara Sweet banget, sayang sama kakaknya ya. Semangat buat mama arbaca. Sedih juga anak usia 6 tahun kok bisa ngomong gitu hiks

Dini Rahmawati mengatakan...

aku kangen arbaca.. salut sama mba Hap dalam mendampingi anak-anak. Aku juga bangga sama seperti Barra.

Dewi Rieka mengatakan...

Arfa pasti bahagia sekali punya ibu kayak Mbak Hapsari, insya Allah anak-anak tumbuh jadi anak Soleh solehah dan sehat serta bahagia ya Mbak aamiin

Dani Ristyawati mengatakan...

Semangat ya Mbak Hapsari, Allah menitipkan anak istimewa dalam keluarga Mbak Hap yang insyaallah akan jadi penolong orangtuanya..jangankan anak autis yang normal saja juga mengalami perundungan saya termasuk salah satunya sampai sekarang hehehe

Marita Ningtyas mengatakan...

Semangat ya mbak Hapsari! Ibu stroong yang super keren mengawal tiga buah hati yang sama hebatnya. Mas Bara dan mbak Caca akan selalu jadi teman terbaik buat mas Arfa.

Erni Suryana mengatakan...

peluk dr jauh buat mba hapsari dn mas arfa :'), semoga mas arfa, mas bara, dn dek caca sehat selalu ya sling sayang selama-laman ya

Archa Bella mengatakan...

Ooo...brarti pas dikafe dulu,yg Arfa ga diajak ya mbak? Ttp semangat mendampingi mereka ya mbak.Pasti anugerah akan menanti saat waktunya tiba. Salut!

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Mba Hapsari ini ibu yang kokoh lho, tempat terhangat untuk putra-putrinya. Memiliki buah hati dengan keistimewaan begini memang harus kuat ya mba, salah satunya ya mengetahui omongan orang lain itu. Aku yang baca aja jadi kesel, apalagi dirimu yang harus mengalaminya

Mas Arfa jago matematika ya kata Barra. Mungkin ini kelebihan yang harus digali, mba. Dulu ikutan nobar yang film Wonderful Life kah, yang menceritakan tentang anak disleksia yang punya kelebihan di bidang tertentu. Setiap anak kan memang diciptakan unik dan istimewa ya oleh Allah. Peluk Mba Hapsari dan anak-anak. :*

Sang Maya mengatakan...

Allah tidak membebani seseorang melebihi dengan kesanggupannya. InsyaAllah Arfa dan adik-adiknya tumbuh menjadi anak-anak soleh-solehah, sehat, dan membanggakan.

Diyanika mengatakan...

Aku pernah dititipkan murid spesial di kelasku, Mbak, 2 tahun lalu. Rasanya luar biasa banget mencegah bullying di kelas, Mbak. Aku bahkan sempat menyerah. Tapi, kalau bukan aku, siapa lagi? Alhamdulillah, semua terlewati dengan baik.

Fitra juwita mengatakan...

saya punya beberapa pasien yang anaknya berkebutuhan khusus, tapi saya selalu memotivasi mereka supaya selalu strong dan harus tahan telinga, sebab jauh daripada itu anak anak yang berkebutuhan khusus justru memiliki banyak kelebihan terutama dibidang seni.jadi mereka harus selalu optimis dan jangan pernah merasa minder agar tidak menjadi salah satu korban bullying

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Ada ponakan yang sejak lahir aku udah lihat dia punya kekurangan. Tapi aku takut untuk menyuarakannya kepada orang tuanya. Karena ipar dan pasti ucapanku ntar dikira melecehkan, jaman dulu belum banyak info tentang kesehatan anak berkebutuhan khusus ya.

Padahal kalo diarahkan ponakanku ini bisa jadi ahli bahasa, karena pintar bahasa Inggrisnya. Dan memorinya kuat banget, hapalannya kenceng

Guru Kecil mengatakan...

Rasanya sangat menyakitkan mbak apalagi kalai di sekolah ada siswa dgn berkebutuhan khusus tapi ada guru yg mengatakan seperti yang dikatakan anak tetangganya mbak hapsari ke ananda. Tapi saya yakin dibalik anak dgn berkebutuhan khusus pasti dia memiliki potensi yang sangat gemilang bagi dirinya juga keluarga. Semangat ya mbaaa!!

yuliad mengatakan...

Sungguh tidak mudah ya mbak, dalam kondisi yang seperti ini. Setiap ucapan yang rasanya biasa, menjadi kita lebih sakit karena mereka nggak empati dengan kondisi orang lain. Semoga mbak diberikan kekuatan ya. InsyaAllah anak-anak akan kuat dan menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya.