Rabu, 10 Juni 2020

Self Love dan Support System, Membuatku Tetap Kuat Menjadi Ibu Tunggal


Keluarga. 

Kemarin,  aku berpikir dan berusaha untuk menghadirkan orang lain untuk melengkapi kehidupan kami.  

Kemarin,  aku berpikir dengan adanya seorang ayah maka kehidupan akan semakin baik,  sempurna dan penuh cinta. 

Kemarin,  aku menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. 

Tapi itu kemarin. 

Sekarang... 
Aku cintai diriku seutuhnya sehingga aku tak terlalu berharap cinta yang lain selain cintaNya. 
Saat aku mencintai diri sendiri aku bisa lebih mencintai anak-anak lebih banyak. 

Kadangkala kita terlalu fokus pada hal-hal yang hilang,  yang pergi,  yang hanya singgah dan yang tak jadi kita miliki sehingga melupakan kebahagiaan yang nampak di depan mata dan justru lebih indah. 

Mencintai kalian selamanya. 



Tulisan di atas merupakan status facebook di tanggal 24 Juni 2019. Setahun telah berlalu, namun aku masih mengingat dengan baik alasannya sampai aku menulisnya. Selama perjalanan "karier' menjadi ibu tunggal, aku bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda. Salah satunya adalah laki-laki manipulatif yang tega mempermainkan perasaan dan menipuku. 

Sekitar akhir Februari 2019 aku kenal dengan seorang duda berumur 42 tahun. Sebut saja namanya WA, mengaku sebagai auditor yang sedang dinas di kota Semarang. Entah bagaimana aku sangat mempercayainya dan dalam waktu sebulan aku sudah bersedia membantunya ketika WA mengalami kesulitan finansial. Janji uang yang dipinjam akan dikembalikan dalam waktu 1-2 minggu ternyata hanya alasan untuk melarikan diri. Hingga akhirnya aku sadar kalau dia penipu ulung yang memanfaatkan wanita lemah, seperti aku. Data pekerjaan dan identitas diri yang diberikan ternyata palsu dan ini adalah pukulan terberatku selama menjadi ibu tunggal.

Setahun lalu, saat kejadian itu, aku memang merasa ada yang kosong. Kekosongan ini ternyata bukan karena persoalan ekonomu, yang biasanya dihadapi oleh para ibu tunggal. Kekosongan ini lebih kepada keinginan hadirnya pasangan hidup setelah 4 tahun menjanda. Walaupun kami hidup dengan sederhana, Alhamdulillah Allah menyukupkan rejeki anak-anak dengan perantara orang-orang baik disekeliling kami. Setiap orang menjalani jalan ujiannya masing-masing dan aku merasa lemah, kosong dan hampa tanpa ada cinta dari yang lainnya hingga aku sangat butuh sosok laki-laki yang bisa mengisi kehampaan dalam hatiku. Ketika ada yang datang, akupun merasa bahagia walaupun pada ahirnya yang terjadi justru berakhir tragis.

Aku ingin cerita kisah lainnya ya. Ini sebuah berita yang aku baca. Kisah seorang wanita berasal dari negara Thailand yang berkenalan dengan laki-laki India. Laki-laki ini mengaku seorang pengusaha kaya dan bermaksud menikahi wanita Thailand ini. Dikisahkan sang wanita dalam keadaan miskin dan merasa senang ketika ada laki-laki kaya yang akan menikahi dan membuat hidupnya lebih baik. Jarak ribuan kilometer ditempuh dan ternyata suami barunya seorang petani/peternak yang kehidupannya juga tak kalah menyedihkan. Wanita Thailand ini akhirnya sadar ia telah ditipu. 

Kira-kira ada pelajaran apa ya yang bisa diambil dari kisahku dan kisah wanita dari Thailand. Kita sama-sama tak mencintai diri  sendiri sehingga sangat mengharapkan cinta orang lain. Kita sama-sama mengharapkan orang lain untuk mengubah keadaan untuk menjadi lebih baik. Padahal, pada awalnya semuanta justru dalam keadaan baik-baik saja. Coba kalau wanita Thailand ini menerima keadaan dirinya kemudian bersyukur dan menjalani kehidupannya dengan bekerja sepenuh hati, tentu tak akan mudah goyah jika ada ada iming-iming atau rayuan. Begitu pula denganku, jika aku sudah merasa penuh cinta, penuh bahagia dan penuh syukur, aku juga tak akan mudah untuk terjebak dalam cinta yang datang sesaat dan semu belaka.

Sejak kejadian itu, aku terus belajar dan terus mengupayakan kebahagianku sendiri dan juga anak-anak. Aku belajar untuk terus mengenali diriku dan mencintai diri sendiri. Selama ini ya kita berusaha untuk mengerti keadaan orang dan berusaha mencintai orang lain apa adanya. Namun sudahkan kita mencintai diri sendiri. Inilah konsep self love menurutku.

Memaafkan diri sendiri

Ketika orang lain melakukan kesalahan terhadap diri kita, dengan mudahnya kita bisa memaafkan orang tersebut. Berusaha memahami kondisinya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya karena kita ingin menjadi orang yang welas asih dan mudah memaafkan. Namun sudah bisakah kita dengan mudah memaafkan diri sendiri.

Saat kejadian yang menimpaku itu terjadi, aku tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Aku memaki diri sendiri sebagai wanita bodoh dan berbagai hinaan lain yang aku tujukan untuk diriku sendiri. Aku menyesali kenapa kejadian itu bisa terjadi. Rasanya aku menghukum diri sendiri terlalu berat. 

Pada suatu titik aku menyadari bahwa aku juga bisa melakukan suatu kesalahan. Aku juga manusia biasa yang pernah salah dan khilaf. Aku mulai berdamai dengan keadaan yang terjadi. Aku memaafkan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, memaafkan tindakan-tindakan yang saat itu tidak aku pikirkan dengan matang. Aku memaafkan diriku sendiri.

Berterima kasih  Pada Diri Sendiri


Mampu memaafkan diri sendiri ternyata membawa manfaat yang begitu besar. Aku mulai bangkit lagi setelah beberapa bulan terpuruk dalam kesedihan. Saat mulai bangkit ini aku melakukan hal-hal yang aku sukai. 

Lakukan apa yang aku sukai.

Apa saja yang menjadi hobi dan membuatku happy aku lakukan. Dari latihan make up, berenang, berkumpul sama teman-teman. Sesuatu yang aku sukai dan tentu yang bermanfaat ya. Tidak menyakiti diri dan orang-orang yang aku sukai.

Melakukan sesuatu yang disukai tapi ternyata menyakiti  diri namanya bukan love self ya. Misalnya suka banget dengan namanya makanan berlemak, berkalori tinggi kemudian makan tanpa batasan dengan alasan suka makanan tersebut sehingga timbul gangguan kesehatan. Mencintai diri sendiri ya disiplin juga menerapkan pola hidup sehat dan menjaga pola makan dan pola hidup dengan baik. Jangan sampai karena lagi gandrung dengan drama korea hingga tidur larut malam dan keesokkan harinya jadi pusing. Hehehe...Aku menulisnya untuk menasehati diri sendiri. Cinta sama diri berarti memberikan yang terbaik untuk diri sendiri.

Aku bersyukur dengan masa lalu yang begitu banyak memberikan pelajaran dan nasihat. Aku memang harus mengalami kejadian nahas tersebut untuk menjadi pengingat di masa sekarang dan di masa depan.

Support System


Aku juga sangat bersyukur memiliki saudara dan sahabat yang baik sebagai support system. Tentu saja, yang paling utama adalah sosok ibu dan ketiga anak-anakku. Mereka penguatku saat aku merasa lelah dan hampir menyerah. Doa ibu juga yang membuatku tetap kuat hingga sampai saat ini sanggup berdiri dengan tegap.


Dan tak lupa untuk komunitas single mom yang selalu menguatkanku. Dengan keberadaan mereka mereka semua yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dari keluarga dekat, teman, sahabat, tetangga yang baik dan teman-teman single mom di sekitarku dengan berbagai dukungan, doa, perhatian dan kebaikkan-kebaikkannya sehingga aku dapat menjalani hidup sebagai ibu tunggal dengan anak-anak dengan baik. Sampai detik ini pendidikan anak-anak berjalan dengan baik. Kehidupan kami tak pernah mengalami kelaparan dan kekurangan. Kami berlimpah kasih sayang. Kami penuh cinta. Cinta karena sudah merasa utuh dan penuh.

12 komentar:

Mechta mengatakan...

Terima kasih mba..membaca kisahmu aku juga memetik pelajaran penting bagi kisahku sendiri. Ternyata kita sama2 belum lulus dari pelajaran self love ini ya. Yuuk..belajar bareng2...

Dani Ristyawati mengatakan...

Setuju Mbak kadang kita terlalu asyik untuk mencintai orang lain dan lupa untuk mencintai diri sendiri, makasih udah diingetin ya Mbak biar nggak lupa untuk sellau bersyukur dan cinta pada diri sendiri

Sang Maya mengatakan...

Iya ya mb, memaafkan diri sendiri itu ternyata gak mudah, padahal perasaan bersalah itu membunuh...memang harus banyak2 bersyukur dan mampu mencintai diri sendiri

Momtraveler mengatakan...

Nah bener banget mbak kadang kita terlalu fokus sama kebahagiaan orang lain apalagi ibu pasti mendahulukan anak2,suami akhirnya lupa sama diri sendiri. Kebalik ya harusnya mencintai diri sendiri dan kebahagiaan serta rasa syukur akan menyebar ke orang lain

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Memaafkan diri sendiri kadang sering dilupakan karena menganggap remeh ya. Apalagi kebanyakan perempuan sering banget menyalahkan diri sendiri, bahkan hal terkecil seperti anak jatuh pun kita menganggap itu salah kita.

Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keselamatan untuk Mba Hapsari sekeluarga yaa

Dewi Rieka mengatakan...

Ya Allah, aku emosi bacanya kok ada manusia setega itu mbak menipu perempuan, Alhamdulillah Mbak Hapsari bisa bangkit dari sakit hati, mamake memang harus strong ya mbak..semoga Allah selalu memberkahi mbak Hap sekeluarga aamiin

Diyanika mengatakan...

Semenjak jadi ibu, aku sadar, ternyata benar saat ada yang cerita kalau ibu itu hepinya belakangan. Punya uang sedikit yang dibelikan baju tuh anak, suami, kalau ada orangtua, ya, orangtua. Terus bagian diri sendiri mana? Ini yang seringkali aku lupakan, Mbak.

Insyaallah, semakin ke sini aku makin sadar, pun biar nggak jadi ibu yang pemarah, akupun perlu mencintai diriku sendiri, mementingkan diriku juga. Tidak melulu oranglain terlebih dahulu.

nia nurdiansyah mengatakan...

Semoga Mba Hap dijaga dari hal2 buruk olehNya terkadang hanya Allah dan diri kita sendiri yg paling bisa diandalkan untuk menghadapi kerasnya hidup untuk itu perlu memberi reward untuk diri dgn self love

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Insya Allah selalu dijaga dari aneka kejadian buruk di kemudian hari ya mba. Doa terbaik untuk Mb Hapsari dan anak-anak ya. Saling mencintai dan penuh kebahagiaan di dalam keluarga.

Marita Ningtyas mengatakan...

Kesendirian memang terkadang membuat kita jadi merasa lemah, lalu berlarut-larut merasai kekosongan, kadang ketika ada orang yang hadir, jadi tak terlalu aware apakah mereka benar-benar baik atau memanfaatkan. Alhamdulillah mbak Hapsari sudah melewati masa-masa itu dengan baik. Semoga ALlah selalu menjagamu dan keluarga ya mbak. Keep fighting...

Archa Bella mengatakan...

Untunglah mbak Hapsari tangguh dan kuat ya. Semoga masa2 itu segera berlalu berganti kebahagiaan akhirnya. Semangattt

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Sehat dan bahagia selalu ya mba Hap. Doaku untukmu. Mari sama sama belajar mencintai diri dan ada Allah yang menjaga kita semangat