Rabu, 01 Juli 2020

Pengalaman Pertama Travelling Sebagai Ibu Tunggal, Tancap Gas Keluar Kota



Menjadi Ibu Tunggal

Tahun 2016 saya menjalani kehidupan baru sebagai seorang ibu tunggal. Suami tercinta meninggal di bulan Februari disebabkan kena serangan jantung. Saya harus belajar mandiri. Mengasuh anak sendiri, mengurus rumah sendiri dan kemana-mana sendiri karena sudah nggak ada lagi yang bisa mengantar.  Bukan hal yang mudah karena kepergiannya sungguh mendadak. Begitulah kematian datang menyapa, tanpa permisi, yang ditinggalkan belum menyatakan kesiapan. Saya harus belajar banyak hal, termasuk ketika untuk keluar rumah Bersama anak-anak termasuk dengan si bungsu yang saat itu masih berumur 1,5 tahun.

Sekitar 2 bulan sebelum hari raya Idul Fitri di tahun 2016 saya mulai menyusun rencana agar nanti bisa pulang ke Solo dengan mengendarai mobil sendiri. Padahal waktu itu belum bisa nyetir mobil. Jangankan nyetir, manasin mobil saja belum berani. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya kursus stir mobil. Saya ambil kursus di UKI, saat itu buka cabang baru di dekat rumah. Tentang memilih tempat kursus stir mobil saya pernah menuliskannya di sini.

Kursus Stir Mobil


Saya ambil paket 300 ribu rupiah untuk 5 kali pertemuan, setiap pertemuan belajar mengemudi selama1 jam. Jadi setelah lima jam saya dinyatakan lulus. Lalu saya mengambil paket tambahan untuk melancarkan kemampuan mengemudi selama 5 jam.  Jadi total selama 10 jam kursus stir membuat saya dengan rasa percaya diri mengemudikan mobil sendiri ke luar kota. Ini benar-benar permata pengalamanku yang nggak akan bisa dilupakan.  

Buat teman-teman, khususnya ibu-ibu yang ingin belajar stir mobil, saya ada beberapa tips biar lancar mengemudikan kendaraan roda empat ;

1. Niat Kuat

Niat memang jadi alas an kita untuk melakukan suatu. Niat saya waktu itu, harus bisa stir mobil sendiri karena sebagai single mom yang harus kemana-mana dengan membawa anak bertiga. Beberapa teman perempuan mengemukakan niat berbeda. Ada yang saying atau eman-eman ada mobil nganggur di garasi, ada yang biar bisa kemana-mana tanpa harus tergantung pada suami atau biar bisa mandiri. Apapun niat ingin kursus stir mobil, niat kuat untuk bisa ya.


       2. Hilangkan kecemasan, keraguan dan ketakutan.
S   Saat punya mobil pertama kalinya, tahun 2011, suami pernah menawarkan apa saya mau belajar stir mobil. Saya jawab nggak perlu. Sebenarnya alasan agar bisa bermanja-manja dan biar bisa diantar kemana-mana hanya alasan kesekian. Saya takut menabrak orang. Jauhkan pikiran-pikiran buruk tentang kecelakaan, menabrak orang atau kendaraan lain atau hal buruk lainnya. Saya saat mendaftarkan diri untuk kursus justru tidak pernah mempunyai pikiran buruk. Yang saya pikirkan adalah bisa mengemudikan mobil, asiknya traveling berempat Bersama anak-anak dan hal-hal indah yang lainnya.

3.      3.  Jam terbang.
Pengalaman mengemudi di jalan raya akan menambah kelancaran dan mengasah ketrampilan. Jangan ragu-ragu untuk menjajal kemampuan mengemudi di tanjakkan, macet saat di tanjakkan, masuk ke jalan tol dan parkir. Semuanya merupakan tantangan seru, yang bikin deg-degan dan keringetan. Saya pernah menjajal sendiri tanpa instruktur menghentikan mobil di tanjakkan dan hasilnya mobil melorot beberapa meter. Untungnya saat itu jalanan sepi . Fiuuuhhh, rasanya benar-benar mendebarkan. Jam terbang tinggi juga membuat pengemudi semakin mengenal kendaraannya.

4.      4.  Penumpang

Penumpang, menurut saya juga sangat mempengaruhi konsentrasi dan mood driver. Saat kursus stir, anak-anak masih berusia 8, 5 dan si bungsu hamper berumur 2 tahun. Heboh pastinya. Sedikit tips dari saya adalah usahakan agar penumpang tenang dan mengerti tentang kondisi sopir yang butuh ketenangan dan konsentrasi, Anak-anak waktu itu saya kondisikan dengan sudah kenyang dan semuanya sehat serta happy. Alhamdulillah perjalanan-perjalanan Bersama anak-anak berjalan dengan lancar.

Traveling pertama dengan mengemudikan mobil sendiri memang mendebarkan dan berkesan. Sayangnya waktu itu tidak banyak foto-foto yang bisa diabadikan. Nggak lupa saya pernah upload dan update status saat pertama kali ke Solo dan melalui jalan tol. Insya Allah, di lain waktu pengalaman ini berulang kembali. Aamiin.





1 komentar:

Agus Warteg mengatakan...

Alhamdulillah akhirnya bisa menyetir mobil sendiri ya mbak. Menyetir mobil memang masih jarang aku lihat kalo yang perempuan, masih bisa dihitung jari. Tetangga saya juga yang menyetir mobil suaminya terus.

Belajar nyetir memang deg degan, tapi kalo niat kuat insya Allah bisa.😊