Kamis, 20 Agustus 2020

ReviewBuku : Pulih dari Perih

 

Judul : Pulih dari Perih (50 Tulisan Motivasi dan Afirmasi Diri)

Penulis : Ninin Kholida

Editor : Itsnaini M.

Desain Sampul : Luqman Reza

Desain Isi : Omenemo

Penerbit : Oase Indonesia-Semarang

Cetakan : Pertama, Juli 2020

Hal : 250 halaman

ISBN : 978-623-91317-2-2

 

Ninin Kholida merupakan seorang penulis buku Parenting Readiness dan My Success Way. Buku Pulih dari Perih merupakan buku keempatnya. The Ninin, demikian beliau biasa disapa juga merupakan seorang trainer dan narasumber kajian yang diselenggarakan secara online maupun offline.  

 

“Penerimaan diri dimulai ketika seseorang sadar bahwa ia diciptakan oleh Yang Maha Pencipta” (hal 33)

Ninin Kholida mampu membuat pembaca tersadar bahwa yang namanya  manusia itu sebagai makhluk ciptaan. Jadi wajar bila melekat pada dirinya segala kelemahan, sifat buruk dan lain sebagainya. Namun, jangan sampai lupa bahwa ada Allah yang Maha Kuasa, tempat bergantung dan meminta pertolongan.

 

Pelipur Lara

Kita sebagai manusia seringkali merasakan marah, kecewa, sedih dan resah karena berbagai alasan. Alasan yang seringkali terjadi Karena dikhianati, ditinggalkan, harapan yang tak sesuai dengan kenyataan  dan diabaikan. Semua perasaan tersebut  kemudian dikeluarkan dalam bentuk tangisan. Wajar bila kita menangis. Menangis bukan sebuah aib. Dengan menangis kita menyadari bahwa kita lemah dan sebaiknya tidak tergantung kepada manusia. Kita harus berharap hanya kepada Allah saja.

Di buku ini juga banyak mengulas tentang berbagai watak manusia yang penuh kebingungan  saat dihadapkan pada sebuah pilihan. Rasa bingung pada beberapa keadaan merupakan sesuatu yang lumrah. Setelah itu kita harus fokus kembali dengan cara membaca Alquran dan memohon kepada Allah agar diberi pengetahuan.

 

Pernah membenci seseorang? Benci yang berarti sangat tidak menyukai sesuatu atau seseorang Sebagian besar kita pasti pernah membenci seseorang, hanya saja kadar dan waktunya yang berbeda. Hal yang lumrah yang Namanya manusia membenci atau menyukai sesuatu atau seseorang, Namun yang perlu diingat setiap diri pasti mempunyai kekurangan dan kesalahan. Tak ada manusia yang sempurna

 

“Jika engkau memutuskan untuk membenci orang-orang karena dia memiliki kekurangan dan pernah berbuat kesalahan, maka rasanya tidak ada seorang pun yang layak jadi kawan” (hal 37)

Nah jika sudah demikian maka tidak boleh jika seseorang berbuat satu kesalahan kemudian kita membuat kesimpulan bahwa keseluruhan yang ada pada dirinya, semua yang dilakukan adalah buruk dan yang dilakukannya serba salah. Tak patut kita membuat generalisasi seperti ini. Karena pasti ada perbuatan baiknya, hanya saja rasa benci yang berlebihan dapat menutupinya.

 

Rasulullah pernah bersabda “ Janganlah kalian semua saling benci-menbenci, saling dengki-mendengki, saling belakang-membelakangi dan saling putus-memutuskan ikatan  persahabatan atau kekeluargaan., dan jadilah engkau semua hai hamba-hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidaklah halal bagi seseorang muslim jika ia meninggalkan yakni tidak menyapa saudaranya lebih dari 3 hari “(HR. Bukhari&Muslim).

Ini yang paling saya sukai dari bab ini, ada pojok aktivitas mengonfirmasi rasa benci. Di sini, pembaca diminta untuk memikirkan seseorang yang dibenci lalu mengkonfirmasi alasan apa sehingga membencinya. Ada 21 point tentang perilaku, kejadian atau sesuatu hal yang membuat kita membenc seseorang. Perasaan benci hanya sebagian perasaan yang ada dari seluruh perasaan kita. Berlaku adil, dan jangan sampai membuat energi terkuras habis hanya untuk sebuah perasaan ini saja sehingga tidak ada waktu untuk beribadah dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.

 

Buku ini cocok dibaca kalangan umur 20 tahun ke atas. Pada usia ini seseorang telah banyak berinteraksi dengan banyak orang sehingga memunculkan berbagai pengalaman. Tak semuanya berlangsung dengan indah dan sesuai harapan, kadang penuh gesekkkan. Namun bagaimana cara kita menyikapinya, inilah yang penting. Pada usia ini juga mulai tumbuh kesadaran betapa pentingnya menata hati, menyusun kepingan-kepingan peristiwa yang kadangkala tak selalu indah, segera bangit dari keterpurukkan dan pulih dari perih.

 

Buku ini terdiri dari 50 tulisan yang terbagi lima tema, yaitu Pelipur Lara, Usia berkah, Lapang Dada, Indahnya Iman dan Harapan. Membaca buku ini seperti mendapatkan nasihat dan tepukkan hangat di punggung yang seolah-olah berkata “nggak papa, kita hanya manusia biasa yang kadang lemah dan berbuat salah. Minta tolong kepada Sang Pemilik Hidup untuk bangkit kembali”.  Mengakui bahwa diri lemah bukanlah sebuah aib, justru ini adalah sebuah kesadaran yang baik. Karena diri lemah maka kita membutuhkan Yang Maha Kuat untuk menguatkan dan Maha Penolong untuk menolong untuk pulih dari perih.