Rabu, 27 Mei 2020

3 Langkah Kecil Dimulai Dari Kita Untuk Antisipasi Bencana Kekeringan



"Caca, kalau cuci tangan, airnya jangan besar-besar ya. Secukupnya saja yang penting cukup untuk cuci tangan"

"Nak, kalau cuci gelas dan piring, saat sabunan, air kran dimatiin dulu ya. Ntar kalau mau bilas baru deh dinyalain lagi"

"Kak, kalau air di kamar mandi udah penuh, dimatiin dong, jangan sampai luber. Sayang lho airnya jadi kebuang-buang"

"Hayo, mainan airnya udahan ya. Kita harus hemat air. Sayangi bumi"



Begitulah kecerewetan saya setiap hari, setiap saat. Mengingatkan anak-anak untuk hemat air harus dilakukan secara konsisten. Anak-anak memang suka mainan air ya. Saat menyiram tanaman, memang bisa sambil main semprot-semprot air. Saat cuci piring, asik mainan air. Mandi kadang kalau nggak diingatkan bisa lama di kamar mandi, eh tahu-tahu air di bak mandi sudah hampir habis. Anak-anak jika dikasih tahu secara lembut dan terus menerus juga mengerti kok kalau mereka harus menjaga bumi dengan cara menghemat air. Ini juga yang sering diajarkan di sekolah. 

Sekolah alam Ar Ridho Semarang, merupakan sekolah yang istiqomah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Setiap tahun, Anak-anak saya yang belajar di sini memperingati hari bumi di bulan April. Nggak hanya acara bulanan saja, siswa juga setiap hari belajar bagaimana menjaga bumi yang kita tempati dengan cara sederhana. Salah satunya adalah dengan membawa bekal dari rumah berupa makanan sehat tanpa kemasan plastik. Setiap bulan juga diadakan acara parenting yang mengangkat tema tentang menjaga bumi. Salah satu acara yang pernah dilaksanakan adalah seminar dan parenting "Rumah Minim Sampah" yang diadakan bulan Juni tahun 2019. Sampah rumah tangga yang berupa plastik kemasan ini ternyata banyak banget ya. Jumlahnya setara dengan dua candi. Ini karena terlalu banyak dan menumpuk seperti gunung. 



Beberapa waktu lalu kita juga mendengar berita seekor paus yang mati terdampar di pantai ditemukan ratusan sampah plastik dan botol kemasan di perutnya. Sedih sekali dengar berita seperti ini.



Banyak sekali dampaknya bila kita abai terhadap lingkungan. Hilangkan pikiran jika "ini cuma sampah plastik kecil yang nggak berpengaruh buat bumi". Jika satu orang berpendapat demikian maka bagaimana jika jutaan penduduk berpendapat yang sama. Bumi sudah penuh dengan sampah plastik dan juga berpengaruh terhadap perubahan cuaca. 

Plastik kemasan,  sedotan plastik dan botol plastik yang sering kita beli sekali pakai itu ternyata mengandung  metana dan etilena, dua zat yang merupakan gas rumah kaca paling berbahaya. Gas ini keluar saat terkena sinar matahari kemudia plastik rusak. Plastik yang terurai sendiri ternyata juga berbahaya. Walaupun dalam jumlah relatif kecil, namun jika tak terkendali dapat menyebabkan dampak yang merugikan bagi kehidupan umat manusia. 

Rumah kaca sering sekali kita dengar terkait dengan perubahan iklim. Rumah kaca adalah sebuah bangunan yang seluruh dinding dan atap terbuat dari kaca, dimana sinar matahari yang masuk terperangkap di dalamnya, sehingga seluruh ruangan di rumah kaca menjadi hangat sepanjang hari. Efek rumah kaca merupakan istilah dimana bumi sudah ditutupin oleh zat-zat berbahaya sehingga sinar matahari terus terperangkap di dalam armoafer bumi. Akibatnya, bumi semakin tahun semakin hangat. Bahkan saat malam hari, seharusnya dengan suhu sejuk namun sekarang lebih terasa gerah/panas. Inilah yang disebut pemanasan global. 

Pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C selama seratus tahun terakhir. (Wikipedia). Bisa dibayangkan jika bumi semakin panas juga akan berpengaruh terhadap iklim. Hal ini sudah kita rasakan ya. Musim kemarau panjang yang membuat tanah dan sumber air kekeringan. Jika biasanya 4 bulan, sekarang kemarau panjang bisa sampai 6 bulan. Kita akan semakin sulit mendapatkan air bersih, padahal air adalah kebutuhan utama bagi makhluk hidup.


Bahaya Kemarau Panjang
Musim kemarau selain menyebakan kita merasakan panas dan gerah ternyata juga mengakibatkan hal-hal yang membahayakan lho teman-teman. Seperti ini ya ;
1. Kekurangan air bersih untuk hidup
Air jadi kebutuhan utama makhluk hidup ya. Kita minum setidaknya 8 liter per hari. Jika tidak ada air bersih untuk minum, apa mau minum air kotor yang nggak sehat. Malah nanti bikin penyakit ya. Jika kekeringan di saat musim kemarau panjang mengakibatkan pasokan air bersih berkurang maka kita bisa dehidrasi. 

2. Nggak bisa menyuci dan bersih-bersih rumah. 
Mau mandi butuh air bersih, mau cuci piring butuh air bersih , mau nyuci baju juga butuh air bersih. Banyak banget ya kebutuhan kita akan air bersih. Kalau nanti nggak bisa dapat air bersih karena terjadi kekeringan maka kita nggak bisa mandi akibatnya badan jadi kotor dan timbul penyakit kulit. Nggak mau deh hal kayak gini terjadi sama kita. 

3. Hewan-hewan bisa mati kehausan. 
Binatang yang nggak bisa menemukan sumber air bersih bisa mati karena kehausan. 
4. Timbul penyakit. 
Selain karena nggak mandi karena nggak ada air bersih, rumah jadi kotor karena nggak pernah dipel. Hewan peliharaan juga nggak pernah dimandiin karena nggak ada air bersih. Penyakit yang timbul saat musim kemarau panjang bisa jadi bahaya bagi kesehatan kita. 
5. Bahaya kelaparan. 
Para petani yang tidak mendapatkan air bersih maka sawah mereka akan kekeringan dan terjadi gagal panen. Di sektor perkebunan dan perikanan juga terancam karena kesulitan mendapatkan air bersih. Ini bisa menjadi bencana kelaparan yang dimana-mana

Langkah Kecil Selamatkan Bumi 
Kekurangan air bersih, suhu yang semakin panas, musim kemarau panjang dan berbagai pencemaran udara merupakan ancaman nyata di depan mata. Ini juga nggak hanya berbahaya bagi kesehatan namun juga keselamatan kita, termasuk anak-anak kita nantinya. Semuanya pasti ingin anak-anak tumbuh sehat dan baik di lingkungan yang sehat. Bahaya kekeringan juga saya uraikan ya di tulisan ini. 

Yuk, mulai sekarang, kita bisa kok menjaga bumi dengan langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan bersama keluarga. 

1. Kurangi menggunakan plastik kemasan atau botol sekali pakai. Jika memungkinkan bawa botol sendiri untuk membeli minuman atau tepak untuk membeli makanan. Sedikit ribet barangkali di awal-awal, namun ternyata langkah kecil ini bisa mengurangi sampah dan menjaga kelestarian bumi. Selain itu masih ada banyak contoh lainnya seperti tidak menggunakan sedotan plastik atau bila terpaksa membeli botol plastik maka jangan di buang tapi diolah kembali. Pengolahan botol plastik sudah banyak dilakukan baik oleh perorangan atau kelompok. Ecobric namanya, dimana plastik kemasan dimasukkan ke dalam botol dan nantinya bisa dijadikan meja, kursi atau bentuk lainnya.



2. Hemat air. 
Seperti yang saya lakukan diawal tulisan ini. Mematikan kran air setelah selesai mandi atau keluar dari kamar mandi. Saya bahkan pernah mengajarkan pada anak-anak untuk menggunakan maksimal 10 gayung saat mandi. Jadi nggak terlalu banyak air yang digunakan, namun badan sudah bersih. 

3. Menanam


"Buang biji buah di tanah" Ini adalah nasihat yang bagus dan sudah saya terapkan. Biji-biji buah yang saya buang ke tanah, bukan di tempat sampah. Taman saya yang nggak begitu luas, gini sudah dipenuhi dengan 5 pohon pepaya. 

Menanam pohon selain bisa dipanen nantinya juga bisa menghasilkan oksigen bagi makhluk hidup disekitarnya. 1 pohon bisa mengeluarkan oksigen untuk 2 orang, jadi jika ada 4 anggota keluarga di rumah, setidaknya kita harus punya dua pohon ya. Semakin banyak juga semakin bagus karena rumah jadi sejuk dan udara lebih bersih. 

Jangan khawatir ya kalau misal teman-teman nggak punya lahan untuk menanam. Sekarang sudah banyak cara dikembangkan cara menanam dengan lahan sempit seperti misalnya dengan teknik hidroponik. 

Yuk teman-teman kita mulai dari hal yang terlihat sepele namun memiliki manfaat besar untuk lingkungan di sekitar kita dan untuk bumi tercinta.



Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog " Climate Change" Yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-ibu Doyan Nulis.  Syaratnya bisa Anda lihat disini: 
https://bit.ly/LombaBlogPerubahanIklimKBRIxIIDN



Selasa, 12 Mei 2020

Writing Is Healing, Menulis Menyembuhkan Dan Menguatkanku


Wanita Kuat Itu... 


"Mbak Hapsari itu kuat. Wanita yang tegar" begitu kalimat yang sering aku dengar, diucapkak oleh teman atau tetangga. Mereka menganggapku kuat karena masih terlihat baik-baik saja sejak meninggalnya suami 4 tahun yang lalu. Selain itu, aku juga memiliki putra berkebutuhan khusus. Selama 12 tahun umurnya, aku menjadi caregiver bagi anak pertamaku yang autis.

Sebenarnya, aku nggak sekuat itu. Aku nggak setegar yang terlihat oleh teman-teman atau tetangga. Aku sebenarnya juga terluka, sedih, rapuh dan ambyarrr. Tahun-tahun pertama menjadi ibu tunggal, aku telah menghabiskan waktu selama berminggu-minggu konseling dengan seorang sahabat yang berprofesi sebagai coach dan konselor keluarga. Aku juga banyak mengikuti kelas-kelas yang bermanfaat untuk menyembuhkan diri. Salah satunya adalah writing to healing.

Menurut aku, wanita kuat bukanlah yang tak pernah menangis dan bersedih. Wanita kuat bukanlah yang bisa menanggung semua ujian sendirian. Wanita kuat adalah yang setelah menangis dia berusaha untuk tetap tersenyum dan melangkah... 

Writing is healing 


Menulis bisa menyembuhkan luka. Barangkali sebagian teman-teman sudah mengetahuinya dan sebagian lagi belum tahu. Menulis, sesuatu yang barangkali terlihat sepele ternyata memiliki manfaat besar, bisa menyembuhkan luka di masa lalu ataupun trauma dan juga perasaan galau. 

Dengan menulis, kelas yang saya ikuti wakti itu menulis tangan maka kita bisa menyalurkan hal-hal yang dirasakan dalam bentuk tulisan melalui bolpoint dan kertas. Jika setelah menulis sesuatu yang membuat kita sedih, malu atau marah dan tak ingin diketahui orang lain maka bisa disobek dan dibuang. Jika dirasakan nanti ingin dibaca lagi maka bisa menuliskan di buku. Oiya, menulis diary juga bermanfaat banget lho untuk meluapkan perasaan-perasaaan. Biar nggak terpedam dan jadi bom waktu. 

Writing is healing sudah aku rasakan manfaatnya. Aku memang tak menunjukkan kesedihan dan rasa sakit dihadapan teman-teman di lingkungan sekitar ataupun melalui  akun media sosial. Aku meluapkan semuanya melalui tulisan. Pernah saat menulis, dada menjadi sesak, tangisan pecah, kertas juga berlubang karena saat menulis aku menekan begitu kuat,dan saat itu juga mentor kelas menulis meminta untuk berhenti menulis. Sampai seperti itu efek yang aku rasakan saat menuliskan perasaan-perasaan yang aku rasakan. 

Menulis dapat menyembuhkan luka memang benar adanya. Aku dan beberapa ibu tunggal lainnya pernah tergabung dalam sebuah komunitas dan kami berniat membukukan cerita-cerita kami. Ada yang menjadi janda karena suaminya meninggal dan ada juga yang karena perceraian. Semuanya memiliki kisah sendiri-sendiri dan perjuangan masing-masing. Semuanya hebat dan kuat dengan takdirnya masing-masing. 

 Self Healing


Menulis sebagai self healing juga membantuku lebih jernih dalam berpikir dan mengambil keputusan. Dengan menulis, memaksa otak untuk mengingat kejadian yang telah lampau dan juga memaksa berpikir. Biasanya dengan menulis justru pandangan jadi lebih jernih dan bisa menyelesaikan masalah dengan lebih bijak. 

Inilah pengalamanku menyembuhkan luka dengan menulis. Apakah teman-teman juga punya pengalaman sama atau self healing dengan cara berbeda? Ceritain yuk...

Minggu, 10 Mei 2020

5 Hal Yang Dirindukan Saat Ramadhan Ditengah Pandemi




Ramadhan Mubarak. 

Ramadhan bulan mulia. Bulan penuh ampunan dan rahmat. Bulan seribu bulan walaupun tahun ini tanpa tarawih berjamaah... 

Selesai tarawih aku menangis tersedu. Ada rasa haru dan sedih yang menyesakki dada. Tarawih hari pertama aku lakukan di rumah. Rasanya lebih sepi dibandingkan Ramadhan tahun 2016, saat aku puasa pertama tanpa suami. 

Ramadhan tahun 2020 ini memang tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Ada banyak kerinduan yang dirasakan anak-anak. Barra, sejak seminggu sebelum masuk bulan Ramadhan sudah tahu jika nanti tak ada salat Subuh berjama'ah, salat Tarawih dan buka bersama. Namun terkadang ia masih saja merengek ingin melakukannya. " Aku mau salat Subuh di masjid mah, seru... Habis salat bisa jalan-jalan barang teman-teman". Saya jawab singkat saja " Maaf, belum bisa Barra, masih ada virus corona". Diapun memahami karena memang sudah 2 bulan ini kami tak ke mana-mana.  

Sehari sebelum puasa, biasanya di kompleks perumahan mengadakan tarhib atau pawai keliling kompleks sambil bershalawat. Anak-anak membawa manggar dan beberapa membunyikan kaleng berisi kerikil. Seru sekali karena itu adalah wujud kegembiraan kami dalam menyambut bulan mulia ini.




Tahun ini, dalam menyambut Ramadhan, persiapan Ramadhan yang kami lakukan yaitu bersih-bersih dan menghias rumah. Seperti mengelap kaca jendela, beberes mainan, menggosok lantai dan juga membuat hiasan menyambut Ramadhan. Inilah hasil kreasi anak-anak sehari sebelum Ramadhan tiba. Mereka antusias dan gembira sekali ketika selesai dan menempel nya di dinding rumah. 


Walaupun dalam suasana Ramadhan yang berbeda, Ramadhan tetap bulan penuh pahala dan keberkahan. Kami melakukan salat berjamaah di rumah. Aku sebagai imam, karena Barra masih belum bisa menjadi imam. Dengan 3 makmum kecil dan nenek yang sedang terbaring sakit, kami melakukan salat jamaah di ruang tamu. Suasana berbeda, namun aku merasakan banyak pengalaman. Sebagai imam yang bacaan surat pendeknya 3 Qul diulang-ulang membuatku harus lebih belajar untuk menghafalkan lebih banyak lagi surat pilihan. Malu ah, hafalannya lebih banyak daripada Caca yang sebentar lagi mau masuk SD. Caca sudah hafal sampai Al Zalzalah. 

Ramadhan tahun ini, kami juga tak pernah mengadakan buka bersama. Kalau tahun lalu, banyak grup alumni membuat wacana bukber tapi hanya satu yang terlaksana, tahun ini nggak ada wacana sama sekali.  Mau bukber online, tapi rasanya kurang seru. Ya Allah, kangen juga sama teman-teman dan juga tetangga sekitar saat kami buka bersama. Masing-masing membawa makanan berbeda dan nanti dikumpulkan untuk dimakan bersama. Sederhana namun penuh kekeluargaan. 

Sepertinya nanti, setelah selesai Ramadhan, nggak ada salat Idul Fitri. Membayangkannya, mata rasanya sudah berkaca-kaca. Rindu sekali ya Allah... Kemarin saya membaca status seorang sahabat bahwa  para kepala keluarga harus mempersiapkan diri untuk menjadi imam salat Idul Fitri. Ini menjadi salah satu persiapan lebaran yang sangat berbeda dengan lebaran sebelumnya. 

Suasana Ramadhan yang berbeda sekali, namun semangat berbagi nya masih tetap sama, bahkan mungkin lebih. Saat pandemi sekaligus di bulan Ramadhan ini, semangat berbagi kebaikkan yang kurasakan justru semakin besar. Aku sekali lagi tak dapat menahan rasa haru atas kebaikkan orang-orang. Kami telah menerima banyak sekali bingkisan dan juga hidangan untuk berbuka. 

Ramadhan Mubarak. 
Apa cerita teman-teman ketika menjalani Ramadhan saat pandemi seperti sekarang ini... 

Kamis, 30 April 2020

Food Preparation Simple Dan Mudah Ala 3 Emak.



Sudah lebih dari sebulan, ketentuan pemerintah untuk tetap #dirumahsaja. Melakukan pekerjaan di rumah, ibadah di rumah dan belajar di rumah. Nah, mendampingi anak-anak belajar di rumah ini yang awalnya bikin kalang kabut. Bisa setengah hari sendiri bersama mereka mengerjakan tugas dari bu guru. Tahu-tahu sudah waktunya makan siang dan belum masak. 
Jadi aku mulai lagi menerapkan food preparation agar nggak banyak waktu untuk masak. 

Ini tips sederhana ala aku ya. 


1. Belanja sayur seperti bayam, buncis, sawi, sayur sop dan sayur asam. Ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kesukaan masing-masing keluarga. Sayur sawi biasanya buat masak bakso. Bisa juga untuk pelengkap mie goreng Jawa. 
-siangi sayuran. Petik bayam, atau pilih sayur lain misal sawi yang agak layu. Kalau buncis saya bersihkan ujung-ujungnya. Setelah bersih lalu dicuci bersih kemudian diangin-anginkan. Jangan menyimpan sayuran dalam keadaan basah karena cepat layu. 

- wortel masih keadaan utuh. Bisa juga diserut atau dipotong kemudian diblansir. Setelah blansir bisa masuk ke freezer. Tapi kalau saya masih keadaan utuh. 
2. Tahu
Cuci bersih lalu kukus. Menyimpan dalam keadaan kukus lebih awet dan juga kokoh. Jika mau bisa di bacem atau diungkep. 

3. Daging sapi. 
Langsung masuk freezer tanpa dicuci. Cuci nanti kalau sudah mau dimasak. Jika membeli dalam jumlah banyak, pisah-pisah sebelum masuk freezer sesuai dengan kebutuhan setiap masak., agar setiap masak nggak perlu mengeluarkan semua stock dan mengembalikan sisa daging ke freezer lagi. Membekukan-mencairkan kemudian membekukan lagi dapat menurunkan kualitas daging. 
3. Daging Ayam.
Cuci bersih lalu ungkep. Setelah dingin baru masukkan ke dalam freezer. 

4. Ikan. 

Cuci bersih dalam keadaan sudah dipotong-potong lalu bumbuin dengan bumbu kuning. Nanti bisa tinggal goreng. Atau jika mau masak pedas , maka goreng setengah matang lalu masak bumbu pedas. 

5. Bikin bumbu dasar. 


Aku kalau bikin bumbu dasar sekalian tiga jenis yaitu bumbu dasar putih, kuning dan merah. Untuk bahannya banyak sekali macamnya di google ya. Pilih aja yang sesuai dengan selera. 
Kalau saya pilih yang simple aja misalnya bumbu kuning bahannya bawang merah, putih dan kunyit. Bumbu merah isinya bawang merah putih dan cabai merah. 

Tenang aja teman-teman, dengan cara ini kualitas dan nutrisi makanan tetap terjaga dan kondisi baik. Cara ini bikin dapur dan kulkas dalam keadaan rapi dan bersih. Kalau dapur bersih, walaupun ukurannya kecil tetap semangat masak dan nyaman ya. Food preparation juga membantuku mengatur waktu dengan baik. Nggak perlu berlama-lama di depan kompor. 

Apa cara teman-teman dalam food preparation. Sharing yuk... 

Anak Autis Rentan Perundungan, Inilah Yang Saya Lakukan



Assalamualaikum teman-teman apa kabar? Semoga yang membaca tulisan saya ini selalu diberikan kesehatan ya. Tetap semangat walaupun pandemi covid-19 masih tetap berlangsung. 

Masih di bulan April, pada tanggal 2 April lalu diperingati sebagai World Awareness Autis Day. Walaupun perayaannya nggak seheboh tahun kemarin, namun kami tetap ingat. Jika tahun lalu ada berbagai kegiatan untuk memperingati hari kepedulian autis seperti pameran hasil karya penyandang autis dan berbagai lomba. Tahun ini kami merayakannya dari dalam rumah. 

Memiliki anak berkebutuhan khusus bukan hal yang mudah. Anak pertamaku yang kini berusia 12 tahun sebagai penyandang autis banyak menerima ejekkan. Inilah kata-kata yang sering ditujukan saat Arfa, anakku berada di luar rumah
" Arfa itu otaknya cuma separuh, kalau kita otaknya penuh" Kata anak sebaya Arfa. 

" Cah kurang ajar" Kata anak umur 6 tahun saat berpapasan dengan Arfa yang lagi mondar-mandir dari lapangan ke rumah. 

" Cah pekok" 

Arfa sih cuma cuek aja, lha wong dia juga nggak mudeng diejek. Nggak bakalan bisa balas. Saya  cuma berpikir, ada anak umur 6 tahun sudah bisa menghina seperti itu, mungkin diajari oleh orang tuanya. Memang memiliki anak berkebutuhan khusus nggak hanya ujian bagi orang tua nya saja namun juga lingkungan sekitar. 

Apa yang saya lakukan saat itu. 
Saya cuma mbatin " suatu saat di keluarga itu akan merasakan mendapatkan titipan anak berkebutuhan khusus". Duh kok jadi malah mengumpat ya. Harusnya dijelaskan ya, mungkin teman-teman berpikir demikian. Namun nyatanya tak semudah itu untuk menerima penjelasan. Walaupun beberapa orang yang tak perlu penjelasan justru bisa menerima dengan baik keberadaannya. Ini beberapa verbal bullying yang kami terima di dunia nyata. 

Di dunia maya, anak autis juga masih sering jadi bahan ejekkan. 

" Mainan HP mulu, autis lo".
Teman-teman sudah sering kan membaca status begini. Dari beberapa tahun yang lalu sampai sekarang juga masih saja yang menulis begitu. Dari pemilik status yang terlihat pintar dan banyak memberi motivasi sampai anak remaja alay. Ternyata memang memupuk kepedulian terhadap penyandang autis membutuhkan waktu dan juga istiqomah. Terus menerus dilakukan. Karena ada saja masyarakat yang belum paham dan memiliki kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus, terlebih pada anak autis. 

Arfa, jika dilihat secara fisik nampak normal. Maksud saya dengan tangan dan kaki yang lengkap dan fisik yang sempurna. Namun setelah berinteraksi dengannya selama 5 menit saja sudah terlihat berbeda dengan anak normal lainnya. Di usia 12 tahun, Arfa belum bisa komunikasi dua arah secara baik, kosa kata yang dimiliki masih terbatas dan memiliki fokus pendek. 

Arfa memiliki dua adik bernama Barra berumur 8 tahun yang duduk di kelas dua Sekolah Alam Ar Ridho dan Caca yang berumur 6 tahun. Beberapa kali mereka mendengar sendiri kalau kakaknya sedang dibicarakan dengan teman-teman sepermainan. 'Barra, kakakmu Autis ya? " tanya teman. Lalu Barra jawab " Iya, dia jago matematika". Saya yang mendengar merasa haru dan bangga. Tak ada rasa minder , yang ada justru rasa bangga dan menonjolkan kelebihan kakaknya. Di mata Barra, Arfa lebih cepat berhitung dan lebih pandai dalam hal matematika. 

Peran orang tua memang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, termasuk juga anak berkebutuhan khusus dan saudaranya. Kakak beradik yang memiliki saudara berkebutuhan khusus juga kadang mendapatkan pertanyaan atau perkataan yang mengejek. Saya rasa, jika anak-anak yang belum paham lebih enak dan lebih jelas jika yang menerangkan adalah teman sebaya. Lebih mudah dipahami bahasanya dan lebih nyambung. 
Semoga selamanya saling menyayangi dan menjaga
Arfa, mama dan kedua adiknya

Saya selalu mengatakan bahawa semua yang Allah ciptakan itu sempurna dan nggak ada yang cacat. Nggak ada yang salah dan buruk. Masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda, semuanya istimewa. Mas Arfa suka matematika, Barra suka manjat dan dek Caca suka mewarnai. Semua anak punya hal yang disukai dan kelebihannya sendiri-sendiri. Dan kalau menghina mahluk ciptaan Allah berarti yang menghina itu juga sedang menghina Sang Pencipta. 

Ceritain yuk, adakah pengalaman teman-teman dengan anak berkebutuhan khusus?